
Lihat saja,nanti jika semua sudah selesai aku tidak akan pernah sudi untuk tinggal di sini lagi"
Amanda mengatakan hal tersebut sambil menghapus setiap air matanya yang masih keluar.
"Aku harus kuat,aku harus kuat semua demi bapak, semuanya dengan bapak agar bisa bebas,aku sangat yakin jika bapak tidak bersalah aku harus kuat"
Amanda terus mengatakan hal tersebut agar dirinya kuat dalam menghadapi Giandra,karena semakin hari Giandra semakin menyakiti hatinya,malam ini Amanda memilih untuk tidak keluar kamar, Amanda meminta para pelayan untuk menghidangkan makan malam yang telah dia masak untuk Giandra.
"Pak Giman siapa yang masak makan malam hari ini?"
Giandra mengatakan hal tersebut karena dia begitu heran makanan ini sangat enak.
"Yang masak mbak Amanda,enak kan mas? masakan mbak Amanda enak"
"Biasa saja pak Giman"
"Bapak pergi dulu ya mas"
"Silahkan pak"
Pak Giman keluar dari dalam kamar Giandra dengan membawa nampan berisi piring -piring Kotor bekas makan Giandra.
"Kau memang tidak cantik,tapi kau berhasil membuat perut ku puas"
Senyum Giandra merekah karena akhir - akhir ini perutnya telah berhasil di manjakan oleh masakan - masakan Amanda.
"Selamat pagi mas Giandra"
Pagi ini saat Giandra bangun, Giandra sudah melihat Amanda rapi,meja makan dengan sarapan pagi dan bau harum masakan semerbak dimana - mana.
"Mbak Anindita dimana mas?"
"Kau tak perlu banyak bertanya,cepat layani aku makan"
"Baik mas"
Amanda pada akhirnya dengan telaten melayani Giandra sarapan dan seperti biasa Giandra makan dengan sangat lahap semua masakan Amanda.
"Mas, bagaimana keadaan bapak di penjara?"
Amanda mencoba untuk memberanikan diri bertanya tentang keadaan bapaknya kepada Giandra, sebenarnya Amanda ingin bertanya hal ini kepada Anindita namun pagi ini Amanda tidak melihat Anindita datang kemari.
"Mas, apakah mas mendengarkan Manda?"
Giandra yang sedang asyik dengan sarapan paginya segera menghentikan dan menatap tajam ke arah Amanda.
"Aku paling benci jika aku sedang makan ada yang menganggunya,pergi aku bilang!"
Giandra membentak Amanda agar Amanda pergi dari hadapannya.
__ADS_1
"Bbbaik mas Giandra"
Amanda yang sudah mendengarkan teriakan dari Amanda segera menyingkir dari hadapan Giandra yang kini kembali sibuk dengan makanan nya lagi.
"Dasar wanita sialan ganggu saja orang sedang makan"
Giandra mengumam sambil terus mengunyah makanan nya.
"Mas Giandra ditunggu mbak Anindita di kantor"
Tiba - tiba pak Giman datang dengan membawa pesan Anindita.
"Ada apa memangnya pak Giman?"
"Ruangan mas Giandra di serang seseorang"
Mendengarkan perkataan dari pak Giman, Giandra yang masih duduk segera beranjak dari tempat duduknya bersiap - siap dan segera melajukan mobilnya ke arah kantor.
"Nin ada apa?"
Sesampainya di kantor Giandra langsung menuju ke ruangannya,dan ruangan Giandra kini telah berantakan oleh kaca jendela yang pecah.
"Lihat mas,ada yang melempari kaca jendela mas Giandra tadi malam"
"Satpam, bagaimana dengan CCTV?"
"Mas sepertinya penyerangan kali ini dilakukan oleh orang - orang yang berpengalaman"
Giandra terdiam dengan perkataan dari Anindita.
"Siapapun itu aku tidak akan tinggal diam dengan orang - orang yang telah merusak keadaan kantor ku seperti sekarang"
"Apa ini ada hubungan nya dengan ditetapkan mas Giandra sebagai pembela bapak Surjono?"
Anindita coba untuk mengeluarkan opini berikutnya dan Giandra masih terdiam dengan perkataan dari Giandra.
"Sudahlah sebaiknya kita segera kembali bekerja,aku akan memakai ruang rapat untuk bekerja sampai semua selesai di perbaiki"
"Tapi mas,aku. .."
"Sssstt"
"Ayo kembali bekerja"
Gian mencoba untuk tetap tenang di hadapan Anindita dan meminta Anin kembali bekerja.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan pada ku Giandra?"
"Nico kau tau perkara keluarga Joyodiningrat kan?"
__ADS_1
"Tentu aku tau, karena aku yang berada di tempat kejadian saat mayat nyonya Joyodiningrat tersebut di temukan"
"Sebagai aparat apakah menurut mu penyerangan yang terjadi padaku mungkin ada hubungannya dengan kasus ini?"
"Giandra aku tidak bisa mengatakan banyak hal tentang hal ini, karena sampai saat ini kasus ini masih menjadi misteri,semua bukti masih mengarah kepada pak Surjono beliau masih menjadi tersangka tunggal kasus tersebut sampai kau muncul dan status mu yang kini menjadi pembela pak Surjono menjadi ramaj dibicarakan oleh orang -orang"
Nico sahabat Giandra mencoba mengatakan hal tersebut kepada Giandra,Nico adalah satu satu anggota kepolisian yang berada di tempat kejadian saat tewasnya nyonya Joyodiningrat.
"Ya,ya aku mengerti, baiklah aku anggap semua ini adalah pembukaan untuk kasus Joyodiningrat"
"Katakan kepadaku kenapa kau memilih menjadi pengacara pak Surjono yang sudah jelas - jelas terbukti bersalah,dia juga miskin tak mungkin dia mampu membayar mu kan?"
Giandra terdiam dengan semua pertanyaan dari Nico, setelah kemunculan Giandra sebagai pengacara dari pak Surjono terkuak oleh media,banyak orang yang mempertanyakan apa yang membuat pengacara hebat seperti Giandra mau menjadi pengacara pak Surjono tak terkecuali Nico sahabatnya sendiri.
"Aku hanya penasaran dengan kasus ini, apakah betul dia pelaku yang sebenarnya"
"Jadi kau meragukan kerja para penyidik kepolisian?"
Nico kembali mengatakan hal tersebut kepada Giandra dan Giandra hanya tersenyum dengan perkataan dari Nico.
"Aku sama sekali tidak meragukan pihak aparat,namun pengacara berhak untuk membela seseorang dan sudah menjadi tugasnya untuk membela orang tersebut di pengadilan"
"Ya,ya kau benar, baiklah Giandra besok adalah gelar perkara di kediaman Joyodiningrat,kau harus datang karena pak Surjono akan di hadirkan untuk hal ini"
"Pasti"
"Aku dengar putri kandung bapak Surjono saat ini tinggal dengan mu?"
"Gosip darimana lagi itu Nico?"
"Aditya yang mengatakan hal ini kepada ku,ayolah kita berteman sudah lama,apakah putrinya cantik sampai kau rela membela pak Surjono tanpa sepeser uang pun?"
Giandra tersenyum dengan perkataan dari Nico
"Dia sama sekali tidak cantik,dan jauh dari wanita yang selama ini aku selalu kencani,jadi mana mungkin aku bisa tertarik dengan gadis lusuh,dekil seperti dia,saat ini dia sedang menjadi pembantu di rumah ku sebagai ganti aku membantu menjadi pengacara bapak nya*
"Hati - hati dengan perkataan mu Giandra, semakin kau membenci seseorang gadis bisa jadi pada nantinya dia yang akan menjadi jodoh mu"
"Ya aku tau ungkapan ini,tapi ini berbeda dengan kasus ku hahaha"
"Ya sudah bagaimana kalau kita bertaruh?"
"Bertaruh dalam hal apa dulu?"
"Bertaruh apakah pada akhirnya kau jatuh cinta pada gadis itu atau tidak"
"Ayo dengan senang hati, karena aku yakin aku tidak akan jatuh cinta pada gadis tersebut"
"Baik aku juga akan mengajak Aditya untuk ikut bertaruh"
__ADS_1