
"Saran ku jangan kau ganggu dia dengan naluri mu,karena dia wanita baik - baik, kasian pasti saat ini banyak hal yang sedang mbak Amanda pikirkan"
Aditya mengatakan hal tersebut sambil berdiri dari tempat duduk dan pada akhirnya meninggalkan ruang rawat Amanda,kini tinggal Giandra seorang diri di dalam ruangan tersebut.
"Kenapa banyak sekali orang - orang yang membela mu?"
Giandra mengatakan hal tersebut sambil mengacak -acak rambut di kepalanya.
"Sekali lagi aku harus berurusan dengan mu"
Giandra memandang wajah Amanda yang masih pucat dengan selang infus tertancap di tangan kanannya.
"Mas Gian bagaimana keadaan mbak Amanda"
"Sssstt,pelankan suara mu Nin"
Giandra melihat Anindita masuk dan menanyakan hal tersebut kepadanya.
"Mas,apa yang terjadi dengan mbak Amanda sampai seperti ini mas?"
Anindita mengatakan hal tersebut sambil menatap tajam ke arah Amanda yang belum sadar diri.
"Entahlah Nin"
__ADS_1
Dan setelah mengatakan hal tersebut tiba - tiba Giandra terjatuh dan pingsan.
"Mas Giandra,mas Giandra bangun,astaga ada apa ini kalian berdua"
Anindita mengatakan hal tersebut sambil menghubungi Dokter.
"Mas Aditya bagaimana keadaan mas Giandra?"
Anindita bertanya kepada Dokter Aditya yang telah selesai memeriksa keadaan Giandra.
"Nin,mas mu Giandra sepertinya terlalu memaksakan diri untuk melakukan donor darah"
"Donor darah? untuk siapa mas Aditya?"
Entah mengapa rasanya begitu sakit saat Anindita mengetahui hal tersebut.
"Hei Nin ada apa?"
"Enggak mas Aditya"
"Ya sudah,mas mau ke ruangan praktek lagi, sebentar lagi kita mas Gian mu itu sadar,kau tunggu saja"
Selesai mengatakan hal tersebut Dokter Aditya pun pergi dari dalam ruangan Giandra.
__ADS_1
Saat ini hati Anindita masih terasa sakit, apalagi melihat dua orang di depannya yang masih tidak sadarkan diri.
"Kenapa perasaan ini rasanya seperti ini,tidak mungkin mas Giandra mulai menaruh hati dengan mbak Amanda kan?"
Anindita mengatakan hal tersebut dengan pelan dan dengan menangis tanpa suara,rasa sesak di dalam hati Anindita sangat hebat, apalagi jika Anindita membayangkan jika benar Giandra mulai memiliki perasaan terhadap Giandra.
"Aku adalah wanita yang sangat bodoh jika masih mencintai mas Giandra jika sampai perkiraan ku ini benar"
Anindita terus menangis sambil mengatakan hal tersebut,hati yang sangat tidak rela jika sampai Giandra memiliki rasa kepada Amanda.
"Mungkin hari ini aku terlalu lelah,lebih baik aku kembali ke rumah untuk beristirahat"
Anindita mengusap air matanya yang masih mengalir dengan deras, Anindita mencoba untuk menenangkan perasaan nya sendiri, perasaan yang kini mulai berubah menjadi sebuah rasa takut,ya rasa takut kehilangan.
Dengan langkah berat Anindita kembali memandang ke dua orang yang masih tak sadarkan diri tersebut dan setelah itu Anindita keluar dari ruangan Amanda.
Di satu sisi ada sepasang mata yang menatap langkah kaki Anindita dari kejauhan.
Kasian sekali kau Anindita,aku tau rasanya jika memiliki cinta yang tak dapat di ungkapkan,rasanya pasti sakit, apalagi melihat orang yang kita cintai berkorban untuk wanita lain, sedangkan kita terus harus berada di dekat orang tersebut tanpa bisa mengungkapkan perasaan kita yang sebenarnya.
"Dokter Aditya,sebentar lagi waktunya untuk pulang"
Satu suara perawat berhasil membuyarkan semua pandangan Aditya yang terus memandang kepergian Anindita.
__ADS_1
"Ya sus, sebentar lagi saya akan pulang"