PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA

PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA
KEDATANGAN AMANDA


__ADS_3

Bisa pakai bus patas non, kenapa tidak meminta diantar saja sama mas Jonas non?"


"Tidak bi aku tidak mau merepotkan Jonas lagi."


"Ya sudah kalau begitu pergi sama bibi saja ya non."


"Bibi mau menemani ku?"


"Lah ya jelas mau, mau berangkat kapan non Manda?"


"Sekarang bi."


"Walah, apa ndak apa - apa, tadi non Manda ngerasin kesakitan loh."


"Gapapa bi."


"Yakin?"


"Yakin bi, ayo."


Dengan bersusah payah pada akhirnya Amanda dapat berdiri, dan setelah mendapatkan cukup tenaga Amanda segera bersiap - siap.


Menjelang malam Amanda dan bibi pada akhirnya nekat pergi ke Semarang dengan bis yang bisa mereka naiki dari arah Magelang.


"Non kita sudah sampai."


Tepat jam sepuluh malam bibi dan Amanda sudah sampai di salah satu rumah sakit swasta terbesar di kota Semarang.


"Ayo bi."

__ADS_1


Dengan cepat Amanda menggandeng tangan bibi untuk menuju unit Gawat Darurat Dan di saat yang sama operasi Giandra pun selesai.


"Mas Aditya, bapak, Ibu, Anindita bagaimana keadaan mas Giandra?"


Deg


Wajah Anindita merah padam menahan marah ketika Amanda sudah datang.


"Masih peduli mbak Amanda sama mas Giandra?"


Deg


Amanda langsung terdiam saat Anindita mengatakan hal tersebut.


"Nin kok bicara seperti itu?"


"Mbak Amanda belum sadar juga yah, mas Giandra sampai kecelakaan begini kan semua gara - gara mbak Amanda!"


Air mata Anindita yang di tahan pada akhirnya tumpah juga.


"Nin sudah ini rumah sakit jangan ribut di sini Nin."


Aditya kembali menenangkan Anindita yang emosinya sudah sangat meledak - ledak.


"Lepasin mas Aditya, sekali - kali biar wanita ini tau pengorbanan mas Giandra."


Anindita mengatakan hal tersebut sambil menunjuk - nunjuk wajah Amanda.


"Sudah Nin, kita bisa di usir satpam kalau kamu terus berisik seperti ini."

__ADS_1


Aditya terus menerus menarik Anindita agar bisa tenang dan menjauh dari Amanda.


Kini setelah Anindita berhasil di jauhkan dari Amanda di pintu ruang rawat hanya tinggal bapak, Ibu, Amanda dan juga bibi.


"Pak, bu maafkan Amanda."


Amanda mendekat dan berlutut pada dua orang paruh baya tersebut.


"Sudah aku pernah kasih tau kalau deket sama perempuan itu harus hati - hati."


Ibu mengatakan hal tersebut sambil menangis di peluk pundak nya oleh bapak.


"Kamu tau, Giandra buta, Giandra sekarang lumpuh!"


Deg


Amanda langsung menatap ke arah Ibu saat Ibh mengatakan hal tersebut kepadanya.


"Mas Gian bu?"


"Ya kamu egois Manda, sebagai seorang istri jika ada masalah apapun seharusnya tidak boleh pergi dari rumah dalam keadaan masalah itu belum selesai."


"Ibu dan bapak sudah berusaha untuk tidak ikut campur pada masalah rumah tangga kalian berdua, namun apa yang bapak dan ibu dapatkan dari ini semua? Giandra anak Ibu jadi menderita karena ini semua."


Ibu mengatakan hal tersebut sambil terus menangis di hadapan bapak dan juga Amanda.


"Nduk kamu mending istirahat dulu, besok kita bicarakan ya, suasana lagi panas, kalau kamu terus memaksa nanti jadinya malah tidak bagus untuk Ibu dan Anindita."


Bapak pada akhirnya bersuara untuk menengahi konflik ini.

__ADS_1


"Ya pak, Manda mengerti."


Hai, hai terima kasih sudah membaca cerita mas Giandra jangan lupa vote, like yang banyak yah biar authornya tetap semangat untuk menulis. Terima kasih 😘


__ADS_2