
Pasti tadi telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua.
Anindita hanya bisa mengatakan hal tersebut di dalam hati.
"Nin ayo cepat kita masuk!"
Giandra yang melihat Anindita masih termenung segera kembali berteriak.
"Ya mas ayo kita temui bapak Surjono"
Anindita segera ikut masuk ke dalam penjara mengikuti langkah kaki Giandra.
"Selamat pagi bapak Surjono"
"Selamat pagi mbak Anindita dan mas Giandra"
"Pak tanpa basa basi lagi,kami datang untuk memberikan agenda persidangan nanti,kami berharap bapak bisa menjaga kondisi kesehatan bapak selama masa persidangan nanti,agar persidangan tidak banyak di tunda lagi,apakah bapak Surjono mengerti?"
"Ya mbak Anindita"
"Bapak tidak perlu khawatir,saya optimis jika kita menang dalam perkara kali ini"
Giandra mengatakan hal tersebut kepada bapak Surjono.
"Ya mas,saya percaya dengan mas Giandra pengacara terkenal seperti mas Giandra tidak akan mengecewakan, merupakan sebuah keberuntungan bisa mendapatkan pembelaan dari mas Giandra dan mbak Anindita"
"Baiklah pak,tidak ada banyak yang kami akan bicarakan disini,saat persidangan nanti bapak hanya perlu menceritakan apa yang bapak ketahui, selanjutnya serahkan kepada kami"
Giandra kembali mengatakan hal tersebut kepada Bapak Surjono.
__ADS_1
"Baiklah ayo kita pulang Nin"
Anindita kini hanya bisa terdiam dengan perkataan Giandra,karena mereka ke penjara hanya untuk hal ini saja.
"Mas kita pulang?"
"Iya,ayo"
Setelah mengatakan hal tersebut Giandra segera meninggalkan Anindita dan pak Surjono yang masih duduk.
"Pak Surjono maafkan kami,harus segera kembali"
"Iya mbak Anindita tidak apa -apa"
Setelah selesai mengatakan hal tersebut Anindita segera menyusul Giandra yang langkah kakinya sudah hampir sampai di depan pintu gerbang.
"Mas,ada banyak wartawan mas"
"Kau saja yang memberikan keterangan kepada wartawan aku akan pulang dulu"
Tanpa persetujuan dari Amanda Giandra langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil tersebut ke jalan raya.
Kini hanya tinggal Anindita sendiri yang harus menghadapi para awak wartawan tersebut.
Dan Anindita kembali hanya bisa menggeleng kan kepalanya saja.
Sementara itu di dalam mobil Giandra terus memikirkan sesuatu yang sampai saat ini belum dia bisa pecahkan dengan logikanya
"Mengapa pisau sekecil tersebut bisa langsung membunuh nyonya Joyodiningrat?"
__ADS_1
Giandra mengatakan hal tersebut sambil terus mengemudikan mobilnya.
"Apakah ada sesuatu hal yang tidak beres dengan pisau tersebut?"
Dan tiba -tiba Giandra langsung teringat dengan satu kata.
"Racun,ya racun di dalam pisau tersebut pasti ada racun"
"Tapi jika ada racun mengapa racun tersebut tidak terdekteksi?"
Giandra kembali berpikir dan terus berpikir dengan semua hal yang kini berada di dalam kepalanya.
"Mungkin lebih baik aku kembali mendengarkan rekaman pertengkaran nyonya Joyodiningrat untuk yang ke dua kali"
Setelah mengatakan hal tersebut Giandra langsung memutar mobilnya ke arah kantor.
Saat ini hal tersebut yang masih belum bisa terpecahkan dari benak Giandra.
"Sementara itu Amanda yang masih menangis di dalam kamar tiba -tiba mendapatkan ketukan pintu"
"Mbak Manda ada tamu mbak"
"Tamu?apakah aku ada teman?"
Amanda merasa heran ketika hari ini dia tiba -tiba mendapatkan tamu.
"Siapa bi?"
Amanda langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengatakan hal tersebut kepada sang bibi.
__ADS_1
"Mas Jonas mbak nama tamu mbak Amanda"