PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA

PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA
DIMANA RUANG CCTV


__ADS_3

Dengan perlahan Amanda mulai melakukan beberapa sayatan dengan pisau yang kini sudah berada di dalam tangannya.


Darah segar mulai mengalir dari tangan Amanda,terus mengalir dan pada akhirnya Amanda pingsan,pingsan dan berharap pada hari ini dirinya tidak kembali untuk membuka matanya lagi.


"Astaga mbak Manda!"


Pak Giman yang kebetulan melihat Amanda pingsan di balkon segera naik ke lantai dua ke kamar Amanda.


"Mbak Manda,mbak Manda buka mbak,mbak buka!"


Pak Giman terus mengetuk pintu kamar tersebut,namun rupanya pintu tersebut di kunci dari dalam.


"Pak Giman ada apa?"


Pak Giman menoleh dan mencari suara yang memanggilnya dan Pak Giman melihat Gian,ya Giandra kembali ke rumah karena ada satu berkas penyelidikan penting yang tertinggal di ruangannya.


"Hei wanita buka pintu,cepat!"


Giandra kini ikut mengetuk pintu kamar Amanda.


"Anu mas tadi saya melihat mbak Amanda pingsan"


"Apa pingsan,aduh pak Giman jika dia betul - betul pingsan ya percuma kita ketuk ini pintu,sekarang minggir"


Giandra meminta Pak Giman untuk minggir dan Giandra segera mengambil langkah untuk mendobrak pintu tersebut.


"Satu,dua,tiga"


Giandra pada akhirnya berhasil mendobrak pintu tersebut dan masuk ke dalam.


"Mas Giandra lihat"

__ADS_1


Pak Giman yang sudah berada di balkon langsung menunjukan banyak darah keluar dari pergelangan tangan Amanda.


"Pak Giman kenapa bisa jadi seperti ini?"


Giandra merobek kemejanya mengikatkan robekan kemeja tersebut ke tempat luka Amanda.


"Pak Giman tidak tau mas Giandra kenapa bisa jadi seperti ini"


Kini pak Giman juga bingung menjawab semua pertanyaan yang ditujukan kepadanya.


"Ayo pak bantu aku untuk membuka pintu mobil,aku akan membawa dia ke Rumah Sakit"


"Ya mas ayo"


Giandra langsung bangkit menggendong Amanda dan turun ke lantai dasar menuju ke parkiran mobil.


"Pak Giman bilang kepada Anindita aku ke Rumah Sakit,jadi tidak bisa kembali ke kantor lagi"


Setelah mengatakan hal tersebut Giandra segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Hei wanita kenapa kau selalu membuat aku susah,issstt"


Giandra mengendarai mobil sambil mengumam kan hal tersebut.


Tak lama mobil yang telah dikendari oleh Giandra kini telah tiba di Rumah Sakit, Giandra segera membawa Amanda turun dari dalam mobil.


"Suster,Dokter tolong aku!"


Giandra berteriak dan berlari menuju ke ruang Unit Gawat Darurat agar Amanda bisa segera di tangani.


"Giandra ada apa dengan gadis ini?"

__ADS_1


Dokter Aditya yang merupakan sahabat Dari Giandra sangat heran melihat Giandra begitu khawatir membawa Amanda.


"Aditya sepertinya dia melakukan percobaan bunuh diri"


"Baiklah,tunggu disini biarkan kami menangani nya"


Dokter Aditya segera masuk ke dalam ruangan Gawat Darurat untuk menangani Amanda,namun beberapa saat kemudian Dokter Aditya kembali keluar.


"Giandra,pasien membutuhkan darah,stok di Rumah Sakit sudah habis,jadi kita butuh darah jth secepatnya"


"Darah golongan apa yang kau butuhkan?"


"Golongan AB"


"Aku memiliki golongan darah itu"


"Baiklah,ayo Giandra kita harus cepat!"


Dokter Aditya segera membawa Giandra untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Sementara itu Anindita yang sudah sampai di kediaman pribadi Giandra segera naik ke atas dan melihat darah berceceran di lantai.


"Mbak Anindita mas Giandra sudah membawa mbak Amanda ke Rumah Sakit"


"Ya pak Giman aku tau,dimana ruang CCTV pak?"


Pak Giman hanya terdiam ketika Anindita bertanya akan hal tersebut.


"Pak aku hanya ingin membuktikan jika ini memang betul - betul sebuah percobaan bunuh diri,saat ini Amanda tinggal bersama mas Giandra otomatis mas Giandra bertanggung jawab atas Amanda,jadi ini hanya untuk berjaga - jaga saja"


Pak Giman sejenak berpikir dan pada akhirnya mengambil sebuah keputusan.

__ADS_1


__ADS_2