
"Aku bingung mas menghabiskan uang mu, jadi aku melakukan ini semua, dan karena kau tidak mengizinkan aku untuk keluar rumah, maka aku belanja online deh"
Dan Amanda tersenyum mengatakan hal tersebut, Amanda mengambil ponsel yang dibelikan oleh Giandra di hari pernikahan dan memasukkan semua barang belanjaan hari ini media sosial nya, Amanda berharap Giandra akan marah ketika melihat media sosial Amanda penuh dengan barang belanja online.
"Selesai, semua barang yang telah aku beli sudah aku masukan ke media sosial, berharap nanti malam mas Giandra saat menghubungi aku marah dan semua fasilitas yang membuat aku bingung ini segera di cabut."
Dengan polos Amanda mengatakan hal tersebut kepada dirinya sendiri dan setelah itu Amanda keluar dari dalam kamar menuju ke dapur untuk membantu bibi, sungguh menjadi satu kejenuhan tingkat tinggi ketika Giandra tidak mengizinkan Amanda banyak keluar setelah resmi menjadi istrinya.
Waktu yang terus berlalu, Surabaya malam hari ini.
"Mas Giandra ini rumah Mr. Johan."
Rico mengatakan hal tersebut kepada Giandra dengan posisi mereka masih berada di dalam mobil.
Giandra memandang satu rumah kecil nan asri yang kini akan mereka kunjungi.
"Ayo kita turun."
"Baik mas Giandra."
Dan setelah mengatakan hal tersebut Rico,Edo dan juga Giandra turun dari dalam mobil dan mulai mengetuk pintu rumah tersebut.
Satu laki -laki paruh baya membuka pintu rumah dan memandang curiga ke arah Giandra dan juga yang lainnya.
__ADS_1
"Siapa kalian?"
Suara berat terdengar menyergap Giandra dan juga semua orang yang saat ini berada di teras rumah tersebut.
"Perkenalkan namaku Giandra, kedatangan ku kemari untuk meminta bantuan bapak."
Laki - laki paruh baya tersebut langsung mengernyitkan dahi mendengarkan maksud dan tujuan Giandra datang kemari.
"Kau pengacara yang saat ini sedang diberitakan di televisi itu?"
"Betul pak, apakah bapak dapat membantu saya?"
Laki -laki paruh baya nampak sejenak berpikir dan pada akhirnya memberikan keputusan.
Dan pada akhirnya laki - laki paruh baya tersebut mengizinkan Giandra dan yang lainnya masuk ke dalam rumah kecil tersebut.
"Katakan apa yang membuat mu sehingga kau sampai datang kemari?"
"Ya anda tau bahwa saat ini aku sedang menjadi Pengacara bapak Surjono, ada satu hal yang harus aku tanyakan kepada anda."
Dengan lugas Giandra yang kini mulai duduk di hadapan laki - laki paruh baya tersebut mulai mengatakan apa maksud dan tujuan nya hingga sampai ke kota ini.
"Ini, apakah bapak mengenal ini."
__ADS_1
Giandra langsung memberikan foto pisau yang menjadikan bapak Surjono tersangka.
"Foto pisau?"
Laki - laki paruh baya tersebut kembali bertanya kepada Giandra yang saat itu memberikan foto pisau di dalam ponselnya.
"Ya pak, ini adalah foto pisau, namun di ujung pisau ada satu ukiran, dan juga tulisan yang sampai saat ini masih menjadi misteri untuk ku."
Laki - laki paruh baya tersebut langsung kembali mengernyitkan dahi ketika Giandra mengatakan nya.
"Apa yang membuat mu berpikir ini adalah misteri?"
"Karena pisau sekecil itu dapat dengan cepat membunuh nyonya Joyodiningrat."
"Dimana letak luka nya?"
"Di telapak tangan dan bukan di pergelangan tangan."
Giandra mengatakan hal tersebut sambil menunjukan tangan yang di maksudkan.
"Lalu kau ingin aku melakukan apa anak muda?"
"Karena aku masih merasakan misteri yang kuat, dapatkah bapak bisa memberikan petunjuk tentang ukiran dan arti tulisan di pisau tersebut?"
__ADS_1