PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA

PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA
BUNUH DIRI


__ADS_3

Giandra mengatakan hal tersebut kepada Anindita dan pak Jaya.


"Pak Jaya kita permisi pamit pulang terlebih dahulu"


Anindita mengatakan hal tersebut kepada pak Jaya,dengan tersenyum Anindita dan Giandra melangkahkan kaki keluar dari kantor pak Jaya.


"Jadi apa pendapat mu tentang kasus ini Nin?"


Di dalam mobil Giandra kembali bertanya kepada Anindita setelah melakukan pertemuan dengan pak Jaya.


"Tidak ada pilihan lain mas,kita harus bertemu dengan pak Dharma untuk meminta pak Dharma menyerahkan bukti rekaman tersebut"


"Kau tau itu sama saja dengan mustahil?"


"Kita belum mencoba nya mas Giandra"


"Aku tau seperti apa Dharma itu Nin,gila ****"


Sama seperti mu mas yang juga gila akan ****.


Anindita hanya diam saat Giandra mengatakan hal tersebut, Anindita hanya berani mengatakan hal tersebut di dalam hatinya saja.

__ADS_1


"Aku tau ini adalah permainan Dharma,dia tau aku tidak berminat untuk menjadi pembela ya di dalam kasus yang saat ini dia hadapi,dia tau jalan cerita keluarga Joyodiningrat karena dia juga pernah memiliki hubungan dengan nyonya Joyodiningrat di masa lalu,namun sayangnya cinta tak berpihak pada Dharma,itu sebabnya dia melakukan hal gila"


Sama seperti ku mas,cinta tidak pernah berpihak kepada ku,aku mencintai laki -laki yang salah yang sepatutnya tidak boleh aku cintai.


Anindita kembali hanya berani mengatakan hal tersebut di dalam hatinya saja.


"Hei Nin kau mendengarkan semua hal yang aku ceritakan pada mu kan?"


Giandra yang melihat Anindita hanya terdiam kembali menegur nya.


"Ya mas aku mendengarkan semua cerita mas Giandra"


"Bagus,jadi tugas mu berikutnya adalah membuatkan janji antara aku dengan Dharma"


Senyum Giandra dengan lesung pipit dan badan kekar nya kembali bisa membius gadis seperti Anindita.


"Ya mas Giandra,Anin akan mencoba untuk membuatkan janji mas Giandra dengan pak Dharma"


"Bagus ini baru adik ku"


Giandra mengusap kepala Anindita beberapa kali, seperti mengusap kepala adiknya sendiri.

__ADS_1


Hanya adik,ya hanya adik


Anindita mengucapkan hal tersebut di dalam hati karena mobil mereka kini sudah sampai di depan kantor Giandra.


Hari itu Giandra dan Anindita dapat bekerja sama dengan baik.


Sementara itu di kediaman rumah Giandra nampak satu wanita dengan mata merah masih memandang kosong di halaman balkonnya.


"Apa yang dikatakan mas Giandra semuanya benar, seharusnya aku tidak menikmati saat mas Giandra menyentuh ku,aku seharusnya bisa melawan meskipun aku harus terluka, Amanda kau bodoh,kau bodoh"


Amanda kembali menangis, menangis di dalam kesedihan dan kesendirian karena kini tak ada yang mendengarkannya.


"Apa lebih baik aku mati saja?"


Amanda mengatakan hal tersebut sambil melihat pisau yang berada di atas piring di meja tersebut.


"Untuk apa lagi gunanya aku hidup,menyelamatkan bapak saja belum tentu aku berhasil"


Amanda mengatakan hal tersebut sambil mengambil pisau yang berada di atas piring.


"Maafkan Manda pak,maafkan Manda Ma,Manda tidak kuat lagi"

__ADS_1


Dengan perlahan Amanda mulai melakukan beberapa sayatan dengan pisau yang kini sudah berada di dalam tangannya.


Darah segar mulai mengalir dari tangan Amanda,terus mengalir dan pada akhirnya Amanda pingsan,pingsan dan berharap pada hari ini dirinya tidak kembali untuk membuka matanya lagi.


__ADS_2