PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA

PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA
JANJI GIANDRA DENGAN DIANA


__ADS_3

Mas kenapa kesana lagi? sebenarnya apa yang mas lakukan disana?rumor yang beredar mas sering menyewa para nona malam di daerah itu apa betul mas?"


Anindita membentak Giandra, Anindita yang diam - diam mencintai Giandra sebenarnya sudah lama ingin menanyakan hal ini,namun baru sekarang pada akhirnya keberanian nya itu muncul.


"Kau masih terlalu kecil untuk mengetahui kebutuhan laki - kaki dewasa"


"Tapi mas......."


"Sssssst,tetap jalankan mobil ke jalan Melati pak"


"Kembali kan dia ke rumah pak,agar tidak cerewet lagi"


Giandra mengatakan hal tersebut sambil menutup pintu mobilnya.


"Mas Giandra,jangan lakukan itu"


Anindita membuka kaca mobil dan berteriak kepada Giandra,namun Giandra hanya tersenyum dan masuk kembali ke dalam rumah mewah tersebut.


"Mas, Giandra kenapa kamu jahat pada ku"


Anindita mengatakan hal tersebut sambil menangis di dalam mobil,dari hati nya yang Paling dalam Anindita ingin sekali keluar dari dalam mobil dan menarik Giandra keluar dari tempat terkutuk tersebut,namun apalah daya ketakutan Anindita mengalahkan segalanya.


"Mbak Anin kita bisa berangkat sekarang?"


Tangisan Anindita segera pergi ketika sang supir menegurnya.


"Jalan pak"


Anindita mengatakan hal tersebut sambil menghapus setiap air matanya yang masih keluar, dalam perjalanan pulang Anindita berusaha menghapus pikiran - pikiran tentang apa yang dilakukan oleh Giandra di dalam tempat terkutuk tersebut.


"Hai mas Giandra senang bertemu dengan mu lagi"


Sesampainya di dalam rumah, Giandra segera di sambut oleh satu wanita yang sudah tidak asing lagi di hadapan Giandra.


"Apa kabar Diana"


Giandra mendaratkan ciuman ke bibir Diana, menyentuh area - area sensitive Diana di depan umum.


"Mas Giandra mau kita bermain lagi di sana?"


Diana menunjuk kamar eksklusif di lantai paling atas.


"Ayo"


Giandra kembali membisikkan kata - kata tersebut ke telingga Diana,Diana yang sudah mengetahui arah pembicaraan tersebut segera mengajak Giandra untuk masuk ke dalam kamar eksklusif tersebut.


"Buka baju mu sekarang"


"Mas,tidak mau untuk berbincang mesra terlebih dahulu?"


Diana mencoba untuk mengulur waktu Giandra,Diana yang sudah mulai tertarik kepada Giandra menginginkan untuk lebih berlama-lama lagi bersama dengan Giandra.


"Tak perlu,aku tak suka membuang waktu ku untuk sesuatu yang tidak berguna"


Selesai mengatakan hal tersebut, Giandra segera melemparkan Diana ke tempat tidur, merobek setiap baju yang dikenakan Diana dengan kasar,dan Giandra memulai kembali permainan panasnya dengan Diana.

__ADS_1


"Bagaimana apa kau sudah puas dengan tubuh ku?"


Diana mengatakan hal tersebut sambil memeluk tubuh Giandra yang masih berada di tempat tidur.


"Jika aku tidak puas untuk apa aku kembali menghampiri mu lagi"


Giandra mengatakan hal tersebut sambil berdiri dari tempat tidur dan menggunakan kembali pakaian nya.


"Berapa bayaran yang kau inginkan?"


Giandra bersiap untuk menuliskan nominal angka di dalam cek kosong yang kini berada di dalam gengganman tangannya.


"Apa kau akan menuruti semua permintaan ku?"


"Bukan menuruti semuanya,namun berapa uang yang kau minta aku akan menuruti nya"


"Baiklah,aku tidak butuh cek kosong itu"


Giandra mengernyitkan dahi ketika Diana mengatakan hal tersebut.


"Apa maksud mu?"


"Jika kau ingin tau berapa bayaran yang aku minta,maka aku akan meminta satu hal kepada mu"


"Hal apa?"


"Aku meminta waktu mu mas"


Giandra terdiam dengan perkataan dari Diana"


"Kalau aku tidak mau memberikan bagaimana?"


Giandra terdiam dengan semua hal yang dikatakan oleh Diana, Giandra menimbang beberapa saat semua perkataan Diana.


"Baiklah,katakan tempat dan waktunya"


"Malam minggu di cafe O"


"Deal"


"Terima kasih"


Diana mengatakan hal tersebut sambil memeluk tubuh Giandra.


"Lepaskan,aku harus berangkat ke kantor sekarang"


"Sampai jumpa malam minggu nanti"


Diana mengingatkan kembali kepada Giandra yang hendak keluar dari dalam kamar.


"Mas Giandra kau adalah laki - laki yang berhasil menarik hati ku,cinta yang sudah lama terkubur kini perlahan bersemi,pada akhirnya aku bisa kembali mencintai seseorang lagi"


Diana mengatakan hal tersebut sambil meneguk minuman keras dan terus membayangkan wajah Giandra.


Sementara itu kini Giandra sudah kembali lagi ke kantor, akhir - akhir ini menjadi sebuah candu yang baru untuk Giandra mendatangi rumah di jalan Melati tersebut,rasa kesepian yang semakin memuncak membuat Giandra menjadi lebih sering melakukan hal itu.

__ADS_1


"Dimana Anindita?"


"Mbak Anindita belum terlihat di kantor mas"


"Ya sudah"


"Permisi mas"


Satu pegawai Giandra pergi dari ruangannya setelah menyerahkan beberapa berkas untuk di tanda tangan Giandra.


"Anin jadi kau benar - benar marah atas ucapan ku tadi?hahaha lucu sekali adik ku ini"


Giandra tersenyum membayangkan wajah marah Anindita,hari ini Giandra di buat cukup sibuk oleh semua pekerjaan nya,hingga tak terasa malam menjemputnya untuk pulang ke kediaman pribadinya.


"Selamat malam mas Giandra"


Satu gadis menyambut nya di pintu saat Giandra masuk ke dalam


Giandra berhenti tepat di depan gadis tersebut dan memandang nya dari atas sampai bawah.


"Dasar wanita kampung,tetap kumal,tetap bau dan tetap tak tau diri"


Giandra membisikkan hal tersebut ke telingga Amanda dan segera berlalu dari hadapan Amanda.


"Sabar,sabar,sabar"


Amanda mengatakan hal tersebut dengan pelan.


"Apa kau bilang ha?"


Rupanya Giandra mendengarkan perkataan Amanda.


"Tidak apa - apa mas"


"Kemari"


Giandra tiba - tiba menarik lengan Amanda dan membawa Amanda masuk ke dalam kamarnya, melemparkan tubuh Amanda ke ranjang besarnya, Giandra menindih tubuh Amanda dan memandang gadis yang sudah sangat ketakutan tersebut dengan senyum yang sinis.


"Cih,aku tidak tertarik dengan tubuh mu"


Tiba - tiba Giandra melayangkan satu tamparan kepada Amanda.


"Wanita murahan,cih"


Giandra mengatakan hal tersebut sambil kembali berdiri lagi.


"Keluar dari kamar ini, cepat!"


Amanda yann sudah sangat ketakutan segera berlari keluar dari kamar tersebut, Amanda terus berlari dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Laki - laki tak tahu diri,laki - laki setan,laki - laki kurang ajar!"


Amanda mengatakan semua itu dengan suara pelan dan dengan memukuli bantalnya, Amanda begitu membenci Giandra dari ujung kaki hingga kepalanya.


"Lihat saja,nanti jika semua sudah selesai aku tidak akan pernah sudi untuk tinggal di sini lagi"

__ADS_1


Amanda mengatakan hal tersebut sambil menghapus setiap air matanya yang masih keluar.


"Aku harus kuat,aku harus kuat semua demi bapak, semuanya dengan bapak agar bisa bebas,aku sangat yakin jika bapak tidak bersalah aku harus kuat"


__ADS_2