PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA

PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA
CERITA JALAN MELATI


__ADS_3

Pilihan nya hari ini yang ke penjara kita atau dia,itu saja Nin"


Giandra mengatakan hal tersebut sambil menunjukan tangannya ke arah Amanda.


"Kau tau kan Nin cara kerja kita seperti apa, waktu ku tidak banyak,jika kita mengajak dia maka dia akan sibuk dengan perasaan nya disana, sedangkan waktu ku habis terbuang"


"Tapi mas...."


"Sudah mbak Anin jangan membuat mas Giandra marah,aku bisa ke tempat bapak nanti kapan - kapan saja, yang terpenting mas Giandra dan mbak Anindita mau untuk membela bapak"


Amanda yang sudah tau jika Giandra tidak suka jika dirinya ikut ke penjara segera melihat situasi dan langsung mengatakan hal tersebut kepada Anindita.


"Ya sudah,terima kasih ya mbak Manda bisa mengerti keadaan"


Anindita mengatakan hal tersebut sambil mengenggam tangan Amanda.


"Apa sudah sebesai pembicaraan omong kosong kalian ini? jika sudah selesai ayo Nin kita berangkat,waktu ku hari ini tidak untuk mendengarkan kalian saja"


Giandra yang sudah mulai kesal dengan sikap Anindita dan Amanda mulai mengatakan hal tersebut.


"Ya mas,kita sudah selesai ayo berangkat"


"Mas Giandra dan mbak Anindita hati - hati di jalan ya"


"Pasti mbak Manda"


Anindita mengatakan hal tersebut sambil melambaikan tangannya ke arah Amanda.


"Tuhan semoga mbak Anindita dan mas Giandra bisa membantu ku membebaskan bapak,pak Manda kangen bapak,maafkan Manda yang belum bisa untuk menjengguk bapak ya"


Amanda mengatakan hal tersebut sambil berusaha untuk menghapus air matanya yang sudah mulai menetes, kerinduan yang Amanda rasakan untuk sejenak harus Amanda tahan,karena dia tidak ingin membuat suansana hati Giandra bertambah buruk dengan memaksakan kehendaknya tersebut.


"Mas,kenapa mas tidak pernah bisa bersikap lembut kepada mbak Manda,mas memang saat ini sedang membantu mbak Amanda tapi cara mas tidak boleh seperti itu"


Anindita kembali mengatakan hal tersebut kepada Giandra di dalam mobil, Anindita masih berusaha untuk membuat Giandra sadar,dan bisa berlaku lebih lembut lagi kepada Amanda.


"Cih untuk apa aku memikirkan gadis itu,yang penting perkara keluarga Joyodiningrat adalah perkara emas yang bisa mendatangkan sangat banyak keuntungan jika aku bisa menenangkan perkara ini,jadi aku tidak peduli terhadap gadis tersebut"


Giandra mengatakan hal tersebut sambil mengambil sebatang rokok dari sakunya, menghidupkan rokok tersebut dan mulai menghisapnya.


"Mas,sejak kapan mas Giandra merokok lagi?"


Pembicaraan Anindita kini beralih kepada rokok yang dipegang oleh Giandra,yang Aninda tau Giandra bukanlah seorang perokok, karena jika Giandra akan merokok Giandra tidak akan melakukan hal tersebut di depan Anindita.

__ADS_1


"Sudahlah kau tidak perlu seperti Ibu kandung ku,apapun yang aku lakukan selalu salah di mata mu"


"Bukan begitu mas,aku hanya khawatir akan kesehatan mas Giandra jika mas tidak bisa menjaga kesehatan mas dengan baik"


"Aku bukan anak kecil lagi,aku tau mana yang baik dan mana yang buruk,jadi kau tak perlu untuk banyak menasehati aku lagi"


"Ya semua orang juga tau mas,mana perkara baik dan mana perkara buruk,tapi permasalahan nya yang kembali pada orang tersebut mau melakukan hal yang mana,bukan pada masalah perkaranya..."


"Sssssst berisik!"


Ketika Anindita ingin melanjutkan perkataan nya, Giandra langsung meminta Anindita untuk diam.


"Mas Giandra,mbak Anindita ini kita sudah sampai di tujuan"


Sang supir memberitahukan bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan yaitu di penjara.


"Terima kasih pak,mohon tunggu kami"


"Baik mbak Anindita"


Setelah Anindita mengatakan hal tersebut Anindita dan Giandra segera keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam area penjara.


"Selamat pagi pak Surjono saya Anindita dan ini mas Giandra,kami pengacara yang ditunjuk mbak Amanda putri bapak untuk membela kasus bapak"


"Pak Surjono,bapak mendengarkan kami?"


Anindita mencoba untuk menyadarkan pak Surjono yang semenjak tadi masih terdiam.


"Mbak dan mas betul - betul di suruh Amanda untuk membela saya?"


"Betul pak"


"Saya ini hanya orang kecil,mana sanggup saya membayar pengacara hebat seperti mas Giandra"


Pak Surjono hampir meneteskan air mata ketika mengatakan hal tersebut.


"Pak Surjono tidak perlu khawatir,mas Giandra disini membela pak Surjono tanpa biaya pak,jadi bapak bisa tetap tenang"


"Terima kasih mbak Anindita"


Senyum merekah kembali terpancar dari laki - laki paruh baya yang bernama pak Surjono tersebut.


"Baiklah pak,saya pribadi tidak suka untuk berbasa - basi, sekarang coba bapak kembali ceritakan kejadian dimana nyonya Joyodiningrat terbunuh"

__ADS_1


Giandra yang memang tidak suka untuk berlama - lama segera meminta pak Surjono untuk menceritakan semua perkara tersebut dari awal dan dengan sebenar - benarnya.


Pak Surjono pun mulai menceritakan kejadian malam itu dan bagaimana ceritanya bisa sampai pak Surjono menjadi tersangka,sedangkan Giandra mendengarkan dengan teliti semua penjelasan pak Surjono.


"Baik pak cukup sekian saja cerita bapak,saya sudah mengetahui semuanya,Nin ayo kita pergi"


Giandra langsung berdiri dari tempat duduk tanpa memalingkan wajahnya lagi Dari pak Surjono.


"Pak kami pergi dulu,jika memang bapak membutuhkan sesuatu atau ada hal bapak ingat lagi, segera beritahukan kepada kami,minggu depan kami akan kembali ke tempat ini lagi"


"Baik mbak,boleh saya bertanya sesuatu?"


"Bertanya apa pak?"


"Apakah keadaan Amanda baik - baik saja? sekarang Amanda tinggal dimana mbak?"


"Bapak tidak perlu khawatir,mbak Amanda keadaannya sangat baik - baik saja,untuk sementara mbak Amanda tinggal bersama dengan mas Giandra,sampai perkara ini ada keputusan dari pengadilan,mbak Amanda akan tetap bersama dengan kami"


"Terima kasih mbak,saya tidak tau harus berbuat apa jika tidak ada kalian berdua"


"Sama - sama Pak"


"Nin ayo,kau tunggu apa lagi disitu ha?"


Giandra yang bersandar pada tembok dan melihat semua pada akhirnya memanggil Anindita untuk segera beranjak dari ruangan tersebut.


"Baiklah pak Surjono,kami permisi dulu"


Anindita berdiri dari tempat duduknya dan langsung meninggalkan ruangan tersebut untuk menyusul Giandra yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.


"Apa pendapat mas Giandra tentang keterangan pak Surjono?"


"Nanti kita bicarakan di kantor,pak ke jalan Melati"


"Mas kenapa kesana lagi? sebenarnya apa yang mas lakukan disana?rumor yang beredar mas sering menyewa para nona malam di daerah itu apa betul mas?"


Anindita membentak Giandra, Anindita yang diam - diam mencintai Giandra sebenarnya sudah lama ingin menanyakan hal ini,namun baru sekarang pada akhirnya keberanian nya itu muncul.


"Kau masih terlalu kecil untuk mengetahui kebutuhan laki - kaki dewasa"


"Tapi mas......."


"Sssssst,tetap jalankan mobil ke jalan Melati pak"

__ADS_1


__ADS_2