PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA

PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA
APA HAK MU MAS


__ADS_3

Baiklah sidang akan kita lanjutkan minggu depan"


Terdengar ketukan palu dari Hakim dan detik itu juga sidang berlanjut minggu depan.


"Bapak"


Hal tersebut yang kembali di ucapkan Amanda dengan suaranya yang lirih, Amanda tidak bisa berlari untuk menghampiri pak Surjono,karena dia sudah berjanji kepada Giandra untuk tetap berada di tempat duduknya saat ini.


Lama Amanda memandang kepergian pak Surjono,hatinya begitu sedih saat sejenak kini Amanda bisa memandang dekat sang Ayah namun dirinya tidak menghampiri dan memeluknya.


"Ayo pulang,jangan bengong nanti ke sambet"


Satu tepukan pelan di pundak Amanda membuat Amanda pada akhirnya menoleh.


"Mas Giandra"


"Kenapa wajah mu begitu?"


"Manda pingin ketemu bapak mas"


Air mata mengalir ketika dia mengatakan hal tersebut kepada Giandra.


"Tidak boleh,dasar cengeng! ayo pulang"


Giandra menarik tangan Amanda sehingga mau tak mau Amanda terpaksa berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti langkah Giandra keluar ruang sidang.


"Mas kenapa kita lewat belakang?"


"Cerewet!"


Satu kata-kata pedas Giandra yang pada akhirnya membuat Amanda memilih untuk diam.


"Nin,kau tinggal disini untuk menjawab wartawan yah,biar aku antar dia pulang,sebelum dia macam-macam"


Giandra mengatakan hal tersebut kepada Anindita ketika Giandra berpapasan dengan Anindita.

__ADS_1


"Wartawan tidak akan lama mas disini,aku ikut pulang mas Giandra saja ya"


"Tidak boleh,kau harus tetap berada disini,sampai semuanya aman"


"Tapi mas"


"Sssssst,aku tidak suka untuk di bantah Nin"


Giandra mengatakan hal tersebut kepada Anindita.


"Ayo"


Setelah mengatakan hal tersebut Giandra kembali menarik tangan Amanda dan terus berjalan menuju ke parkiran mobil, sedangkan Anindita hanya bisa memandang kepergian Giandra begitu saja.


"Mas,kenapa kau selalu menjadi laki-laki yang egois? kenapa kau tidak pernah melihat aku sebagai wanita dewasa?"


Anindita terus berjalan untuk menemui para wartawan.


"Anindita"


Satu suara memanggil Anindita ketika Anindita akan berjalan menemui wartawan.


Aditya tersenyum dan menghampiri pemilik senyum manis bernama Anindita tersebut.


"Ya ini mas Aditya"


"Mas ikut menyaksikan persidangan ini?"


"Ya Nin mas tadi ikut menyaksikan di dalam"


"Aku tidak melihat mas Aditya"


"Jelas saja kau tidak melihat ku,kau sibuk membantu Giandra"


"Ah mungkin"

__ADS_1


"Sekarang kau mau kemana Nin?"


"Mau ke depan ketemu wartawan mas"


"Oh begitu,mas temani yah"


"Tidak usah mas"


"Sudah tidak apa-apa mas juga mau ke depan kok,ayo"


Tanpa persetujuan Anindita, Aditya langsung menggandeng tangan Anindita,dan Anindita cukup kaget dengan perlakuan Aditya ini,tapi pada akhirnya Anindita membiarkan Aditya menggengam erat tangannya.


Sementara itu kini mobil Giandra sudah masuk ke dalam halaman parkir kediaman rumah Giandra.


"Mobil siapa itu?"


Begitu mobil Giandra masuk, Giandra melihat satu mobil mewah sudah terparkir di halaman depan rumahnya.


"Ah itu mobil Jonas mas"


Deg


Giandra langsung terdiam dengan semua hal yang saat ini dikatakan oleh Amanda.


"Mau kemana kau?"


Giandra mengatakan hal tersebut kepada Amanda karena saat ini Giandra melihat Amanda sudah mau membuka pintu mobil.


"Mau ketemu Jonas mas"


"Tidak boleh!"


Deg


Amanda begitu kaget ketika mendengarkan Giandra mengatakan hal tersebut kepadanya.

__ADS_1


"Apa hak mas Giandra melarang aku untuk bertemu dengan teman aku mas?"


"Hak ku?hak ku ada kepada mu,selama aku masih menjadi Pengacara mu"


__ADS_2