PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA

PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA
PERASAAN ANINDITA TERBONGKAR


__ADS_3

Giandra berteriak kepada Amanda dan setelah itu meninggalkan rumahnya untuk menuju ke kantor.


"Tuhan,hal apa lagi yang akan terjadi dengan ku?, kenapa perjalanan hidup ini semakin sakit?apakah aku perlu mengulang bunuh diri sekali lagi?lalu bagaimana jika aku gagal mati lagi?"


Amanda mengatakan hal tersebut sambil terduduk di belakang pintu kamarnya,ke dua tangannya Amanda pakai untuk menutupi wajahnya yang saat ini sedang menangis.


Sementara itu Giandra yang kini sudah sampai di depan kantornya berjalan dengan langkah yang ringan,entah mengapa dirinya merasakan bahagia saat dirinya berkata akan menikah dengan Amanda.


"Pagi Anindita adik ku tersayang"


Giandra masuk ke dalam ruangannya dan langsung menyapa Anindita yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Giandra.


"Pagi mas"


"Tumben kau pagi-pagi sekali sudah berada di dalam ruangan ku,ada apa?"


"Ini mas"


Anindita memberikan satu berkas kepada Giandra.


"Berkas apa ini?"


"Ini adalah semua berkas sidang bapak Surjono minggu ini"


"Oh, letakan saja di atas meja"


Giandra mengatakan hal tersebut seakan-akan berkas tersebut bukanlah hal penting bagi Giandra.

__ADS_1


"Itu saja mas?"


"Iya"


Anindita melihat gelagat yang aneh pada Giandra pagi ini.


"Mas,apakah mas baik-baik saja?"


"Ya aku baik-baik saja"


"Ada yang berbeda dari mas Giandra pagi ini"


"Ah itu hanya perasaan mu saja Nin"


"Aku tidak mungkin salah mas"


Ucapan Giandra yang sangat santai membuat jantung Anindita ingin berhenti berdenyut karena kaget.


"Mas,kau baik-baik saja? maksud mas akan menikahi mbak Amanda?"


"Ya sebentar lagi dia akan menjadi kakak ipar mu"


Anindita menggelengkan kepalanya sekaligus hatinya begitu sakit mendengarkan semua hal ini.


"Kau gila mas,aku tidak akan pernah merestui kalian berdua"


"Nin suka tidak suka kau harus menerimanya,mas tau selama ini kau mencintai mas secara diam -diam"

__ADS_1


Deg


Perkataan Giandra membuat Anindita yang sudah berdiri kini terduduk kembali di kursinya.


"Jadi mas tau perasaan ku?"


Anindita mengatakan hal tersebut sambil menundukkan wajahnya, Giandra mengetahui jika saat ini gadis yang di hadapan nya sedang sedih segera menghampiri dan duduk di hadapan gadis tersebut.


"Nin,mas tau semuanya,kau harus ingat mas ini pengacara,mas tau hal-hal kecil,mas tau gerak gerik mu saat kau memiliki perasaan terhadap mas"


"Lalu jika mas Giandra sudah tau,kenapa selama ini mas diam saja?"


"Mas hanya ingin menghargai perasaan mu,mas tidak ingin kau sakit hati dengan semua perkataan mas Giandra,jika mas mengatakan secara langsung kepada mu"


"Itu sebabnya mas selalu mengatakan bahwa aku adalah adik yang paling mas sayangi?"


Giandra tersenyum dengan semua perkataan Anindita.


"Kau pintar,mas berharap dengan mas mengatakan hal tersebut secara terus menerus kau akan tau perasaan mas yang sebenarnya terhadap mu"


"Dan aku sama sekali tidak terpengaruh dengan perkataan yang mas katakan,aku tetap berharap bisa memiliki hati mas Giandra"


Anindita menangis sambil mengatakan hal tersebut.


"Hei,jangan menangis,aku percaya bahwa suatu saat kau akan menemukan satu laki-laki yang betul-betul mencintai mu"


"Dan itu bukan mas Giandra kan?"

__ADS_1


"Ya dan itu pasti nya bukan aku Nin"


__ADS_2