
Setelah mengatakan hal tersebut Giandra segera berlalu dari meja makan dan berjalan ke parkiran mobil nya..
Mas apakah mata ku terlalu buta oleh Cinta, sehingga melihat kelakuan mu,dan apa yang telah kau lakukan terhadap mbak Amanda aku memilih untuk diam.
Anindita mengatakan hal tersebut di dalam hatinya, Anindita melihat semua kelakuan buruk Giandra,namun Anindita seakan - akan tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut dan tetap ingin dekat dengan Giandra.
"Nin kau kenapa?ada yang sedang kau pikirkan?"
Giandra menegur Anindita di dalam mobil,karena Giandra melihat Anindita hanya terdiam dalam perjalanan mereka ke tempat pak Jaya.
"Tidak ada mas,aku hanya sedang memikirkan perasaan mbak Amanda,pasti saat ini dia sedang menangis di dalam kamar,atas perkataan mas Giandra tadi"
"Ah kenapa kau masih membahas hal itu sih Nin?"
"Ya kami sebagai kaum wanita yang belum pernah di sentuh oleh siapapun dan betul - betul menjaga hal ini hanya untuk satu pria pasti akan merasa sangat terpukul ketika hal tersebut di ambil dengan paksa,dan tidak bisa menuntut apa -apa"
Deg
Perasaan bersalah kembali mendera hati Giandra.
__ADS_1
Apakah seperti itu juga yang sedang kau rasakan Amanda?
Giandra mengatakan hal tersebut di dalam hatinya,bibirnya tak cukup kuat untuk menanyakan kepada Anindita apakah yang dikatakan itu benar.
"Tapi mungkin berbeda dengan mas Giandra,laki - laki seperti mas Giandra tidak akan mungkin menghargai kesucian seorang wanita,aku bodoh jika aku marah terhadap mas Giandra,ayo mas turun kita sudah sampai di kantor pak Jaya"
Perkataan Anindita sangat tajam, seperti pisau yang kini mulai menusuk - nusuk relung hati Giandra.
Namun tidak ada yang bisa Giandra katakan,karena ego yang besar masih menutup mata hatinya tersebut,pada akhirnya dengan diam Giandra mengikuti langkah kaki Anindita keluar dari dalam mobil dan menuju ke ruangan pak Jaya, pimpinan salah satu Perusahaan makanan di kota J.
"Selamat pagi pak Jaya,saya Anindita dan ini adalah pengacara Giandra, pengacara yang ditunjuk putri kandung untuk membela bapak Surjono"
Begitu sampai di ruangan pak Jaya Anindita segera memperkenalkan diri kepada pak Jaya.
Pak Jaya dengan ramah mempersilahkan Anindita dan Giandra untuk duduk.
"Jadi apakah yang saya bisa bantu untuk Mas Giandra dan juga Mbak Anindita"
Pak Jaya mencoba untuk menanyakan kembali kepada Anindita dan Giandra untuk hal apa saja yang bisa dia bantu.
__ADS_1
"Pak Jaya kita langsung pada pokok permasalahan nya saja,ada beberapa hal yang akan kami tanyakan kepada pak Jaya"
"Silahkan"
"Apakah pak Jaya mengenal bapak Surjono?"
Pak Jaya terdiam dengan pertanyaan dari Anindita.
"Sangat mengenal"
"Sudah berapa lama pak Jaya mengenal bapak Surjono?"
"Kami adalah sahabat lama,aku,Surjono dan Melati atau orang sering menyebutnya nyonya Joyodiningrat"
Anindita dan Giandra saling pandang ketika pak Jaya mengatakan hal tersebut.
"Baik pak menurut perkataan dari pak Surjono sebelum kejadian kematian Ibu Melati pak Surjono bersama dengan pak Jaya,apakah itu betul?"
Pak Jaya kembali terdiam dengan pertanyaan dari Giandra.
__ADS_1
"Mas Giandra memang betul Surjono sebelum kejadian bersama dengan ku,apakah ini ada hubungannya dengan kematian Melati?"
"Hal apa saja yang menjadi pembicaraan pak Surjono dengan anda?"