PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA

PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA
RASA SAKIT AMANDA


__ADS_3

Sssst tenang lah Nin, nanti kita pikirkan ini belakangan, sekarang yang terpenting semua operasi untuk Giandra harus berjalan dengan baik."


"Ya mas, kita doa ya mas Aditya."


Aditya merangkul Anindita sambil terus menunggu di ruang Unit Gawat Darurat.


"Nduk, piye nduk keadaan mas mu?"


Satu wanita paruh baya datang sambil menangis ke arah Anindita dan juga Aditya.


"Bapak, Ibu kalian tiba kemari cepat sekali?"


Anindita langsung memeluk bapak dan ibu Giandra yang sudah di anggap nya sebagai orang tua kandung nya sendiri.


"Iya nduk tadi bapak langsung ambil penerbangan paling cepat, ini Ibu mu nangis - nangis terus."


"Sabar ya bu, sekarang mas Giandra masih menjalani operasi."


"Kok bisa loh mas mu kecelakaan seperti ini, memang dia ngapain ke Magelang?"


Anindita dan Aditya langsung saling pandang ketika ibu menanyakan hal ini.


"Mas Giandra nyusul mbak Amanda bu."


Deg


Ibu Giandra langsung mengernyitkan dahi ketika Anindita mengatakan hal ini.


"Nyusul Amanda? loh ada masalah apa Giandra sama Amanda?"

__ADS_1


Tangisan ibu semakin menjadi ketika mengetahui alasan Giandra pergi ke Magelang.


"Wes bu, nanti ini kita urus, sekarang Ibu Sam Anindita istirahat saja di hotel, biar bapak dan Aditya yang menunggu di sini."


"Tapi pak?"


"Buk yang dikatakan bapak benar, ayo bu kita istirahat dulu, nanti Ibu ikutan sakit juga kan kita semua tambah sedih."


Ibu langsung menganggukan kepalanya mengikuti dengan apa yang di katakan oleh Anindita.


Mereka berdua pada akhirnya melangkahkan kaki keluar dari rumah sakit menuju hotel yang sudah di pesan tak jauh dari rumah sakit.


"Nak Adit."


"Ya pak."


"Ayo pak, sebaiknya kita bicarakan ini sambil duduk tenang di kantin rumah sakit."


Bapak langsung menganggukan kepala dan mengikuti Aditya pergi dari depan ruang Unit Gawat Darurat.


Operasi yang masih berlangsung dan masih lama membuat Aditya mengajak bapak untuk pergi ke kantin dan membicarakan masalah Giandra dan Amanda.


Sementara itu di rumah pada akhirnya Amanda membuka pesan singkat yang dikirimkan oleh Anindita kepadanya.


"Ya Tuhan mas Giandra kecelakaan, mas kamu kecelakaan setelah kamu dari sini mas."


Amanda langsung menangis dengan histeris begitu membaca pesan singkat yang telah di kirimkan oleh Anindita di ponselnya.


"Aku harus ke Semarang sekarang juga, aku harus memastikan kondisi mas Giandra, bagaimana keadaan nya mas Giandra."

__ADS_1


Amanda yang sedang berbaring di tempat tidur langsung mencoba untuk berdiri.


"Arrrrh sakit."


Tiba - tiba saja perut Amanda begitu sakit ketika Amanda mencoba untuk berdiri dari tempat tidurnya.


"Ah aku tidak boleh menyerah, ayo Amanda kamu harus kuat!"


Amanda mencoba untuk menyemangati diri sendiri dan mencoba untuk kembali berdiri.


"Aaaaarrrh sakit."


Amanda kembali merasakan kesakitan yang luar biasa ketika akan kembali berdiri lagi."


"Non Amanda baik - baik saja?"


Sang bibi yang hendak membawakan Amanda susu langsung menghampiri Amanda yang saat ini duduk di tepi tempat tidur sambil menahan sakit.


"Manda gapapa bi, bi kalau dari Magelang ke Semarang naik apa bi biar cepat?"


"Pakai mobil pribadi mbak Amanda."


"Bukan mobil pribadi bi, tapi kendaraan umum yang paling cepat untuk ke Semarang itu naik apa bi?"


"Bisa pakai bus patas non, kenapa tidak meminta diantar saja sama mas Jonas non?"


"Tidak bi aku tidak mau merepotkan Jonas lagi."


Hai, hai terima kasih sudah membaca cerita mas Giandra jangan lupa vote, like yang banyak yah biar authornya tetap semangat untuk menulis. Terima kasih 😘

__ADS_1


__ADS_2