PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA

PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA
IKUTI PERINTAH KU


__ADS_3

Ayo,jalan jangan banyak bergerak"


Giandra membisikkan hal tersebut ke telingga Amanda,membawa tubuh Amanda ke dalam pelukannya.


"Ayo jalan"


Lengan kekar Giandra berhasil melindungi Amanda dari para wartawan, Giandra dan Amanda masuk ke dalam kediaman Joyodiningrat yang masih di kelilingi oleh garis polisi berwarna kuning.


"Bapak"


Sesampainya di dalam Amanda dapat melihat satu laki -laki paruh baya menggunakan pakaian tahanan dengan tulisan sebagai tersangka tertunduk lesu di kelilingi oleh para aparat kepolisian,disana juga terlihat Citra dan Prasetya yang pandangan matanya sangat tajam ke arah Amanda.


"Mas lihat sendiri kan, Amanda itu wanita murahan,tidak mungkin seorang pengacara terkenal seperti Giandra Wijaya mau turun di dalam kasus ini jika tidak di bayar dengan tubuhnya"


Citra mengatakan hal tersebut sambil berbisik ke arah Prasetya yang pandangan matanya tak pernah beralih dari wajah Amanda dan satu tangan yang sejak tadi memeluk pundak Amanda.


"Huss,jangan bergosip Citra"


Prasetya mencoba untuk memperingatkan Citra yang sejak tadi tidak berhenti membicarakan tentang Amanda.


"Bukan gosip mas Prasetya,tapi ini adalah kenyataannya"


Dengan kesal Citra membisikkan kembali hal tersebut kepada Prasetya suaminya.


"Papa,apa kabar Pa?"

__ADS_1


Amanda mencoba menyapa satu laki - laki paruh baya yang masih terlihat tampan dengan banyak pengawal yang saat ini lewat di depan matanya.


"Siapa kau,aku tak mengenali mu"


Laki - laki paruh baya tersebut memandang Amanda dengan tajam sambil mengatakan hal tersebut.


"Pa ini Manda pa,ini Manda"


"Jalan"


Laki -laki paruh baya tersebut hanya memandang Amanda dengan sinis dan melangkahkan kaki kembali untuk berdiri di samping Citra.


Pa semudah itu kah Papa melupakan Amanda, padahal dulu Papa sangat sayang kepada Amanda.


Amanda berusaha untuk menahan air matanya yang sebentar lagi akan menetes.


Giandra yang telah melihat semua yang terjadi mencoba untuk memberikan penghiburan dengan caranya.


"Ya mas Giandra"


Pada akhirnya Amanda berusaha untuk kembali berdiri tegak dan tetap kuat saat ini, karena jauh di ujung sana ada satu orang laki - laki yang sangat membutuhkan kekuatan nya.


Reka adegan pun di mulai,pak Surjono dan beberapa saksi harus memperagakan bagaimana terbunuhnya nyonya Joyodiningrat, Giandra mengamati semua reka adegan tersebut dengan sangat teliti,sesekali Giandra menyilangkan ke dua tangan dan mengernyitkan dahi saat Giandra melihat semua adegan demi adegan yang saat ini diperagakan oleh Pak Surjono dan saksi.


"Baik,untuk semuanya reka adegan cukup sampai disini"

__ADS_1


Nico mengatakan semua hal tersebut kepada semua orang yang masih berkumpul di dalam ruangan,semua orang langsung meninggalkan ruangan tak terkecuali Citra dan Prasetya.


"Cih,dasar wanita murahan"


Hal tersebut yang Citra katakan ketika melewati Amanda, sedangkan Amanda hanya memandang kepergian kakak perempuan nya tersebut dengan terdiam.


"Ayo"


Giandra segera menggandeng tangan Amanda dan ikut pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Mas apa aku boleh bertemu bapak sebentar?"


"Tidak"


"Tapi mas"


"Kubilang tidak ya tidak!"


Giandra mengatakan hal tersebut sambil terus menyeret Amanda agar bisa berjalan lebih cepat lagi .


"Masuk"


"Mas"


Masuk, kubilang masuk ke mobil dan kau tidak boleh ke luar dari mobil,ayo cepat masuk!"

__ADS_1


Giandra kembali membentak Amanda dan kini Amanda memilih untuk diam dan mengikuti perintah Giandra.


__ADS_2