PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA

PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA
SAKSI KUNCI


__ADS_3

"Ini simbol dilarang merokok,peduli apa,ini kantor ku,dan aku yang berkuasa, terserah aku mau melakukan hal apapun"


Giandra tetap tenang dengan menghisap rokoknya tersebut.


"Ya Sudah Anindita keluar,mas seharusnya mas tau Anindita alergi terhadap asap rokok"


Anindita sangat kesal dengan sikap Giandra kepadanya, Anindita merasa bahwa dia sama sekali tidak di pedulikan oleh Giandra,karena sudah bersama sejak lama,namun Giandra sama sekali tidak mengetahui jika Anindita alergi asap rokok.


"Nin jangan seperti anak - anak dong, baiklah mas matikan rokoknya,ayo kita diskusi"


Giandra kali ini terpaksa mengalah kepada Anindita karena kali ini Giandra membutuhkan kerjasama kecerdasan otak untuk pembelaan bapak Surjono.


"Ya,ya mas asal mas berjanji tidak bersikap demikian lagi"


Anindita yang sudah mulai melunak segera membalikan badannya.


"Ya mas janji, sekarang duduklah"


Anindita segera kembali duduk di ruangan Giandra.


"Jadi bagaimana mas dengan reka adegan tadi di rumah Joyodiningrat?"

__ADS_1


Giandra terdiam sejenak dan mulai berpikir dengan segala kecerdasan yang berada di dalam dirinya.


"Jika di lihat dari reka adegan tadi memang pak Surjono itu bersalah Nin"


"Apa yang membuat mas Giandra berpikir demikian?"


Sebelum kematian nyonya Joyodiningrat,mereka terlibat pertengkaran di dalam kamar,lalu tiba - tiba saja nyonya Joyodiningrat memegang pisau dan mengarahkan kepada pak Surjono,namun dengan gerakan tangkas pak Surjono menangkis serangan tersebut dan pisau itu melukai pergelangan tangan nyonya Joyodiningrat"


"Karena panik pak Surjono membawa nyonya Joyodiningrat ke dalam kamar mandi dan menaruhnya di bathup,namun sebelum pak Surjono berhasil pergi aksinya tersebut diketahui oleh Ibu Sri asisten rumah tangga di keluarga Joyodiningrat dan disinilah pada akhirnya pak Surjono tertangkap"


Giandra kembali terdiam.


"Namun ada yang aneh"


"Luka sayatan dari benda tajam tersebut terlalu kecil untuk membunuh seseorang dalam waktu dekat,namun perkiraan kematian nyonya Joyodiningrat hanya sekitar dua puluh menit dari awal nyonya Joyodiningrat terkena benda tajam tersebut,ini merupakan waktu yang cukup singkat untuk membunuh seseorang, bagaimana Nin?"


Anindita terdiam dan mencoba untuk kembali berpikir tentang pembicaraan dirinya dengan bapak Surjono saat di penjara.


"Mas,memang terjadi beberapa keanehan di dalam kasus kematian ini,pada saat aku bertanya kepada pak Surjono di penjara mas bisa melihat sendiri bahwa pak Surjono tidak banyak berbicara"


Giandra yang diingatkan kembali oleh Anindita kembali terdiam dan semakin terdiam.

__ADS_1


"Nin apakah benar jika pelakunya bukan Pak Surjono?"


"Dari sisi aku mengatakan bahwa pak Surjono adalah kambing hitam di balik kematian nyonya Joyodiningrat"


"Ya kau benar Nin,dan kita harus bisa membuktikan di meja hijau jika pak Surjono itu tidak bersalah,jadi kita akan memulai hal ini darimana?"


"Saksi kunci Ibu Sri mas,mas Giandra harus meminta izin pihak aparat untuk bisa bertemu dengan Ibu Sri"


"Itu sulit Nin,saksi kunci hanya akan dihadirkan saat persidangan nanti,dan sudah jelas Ibu Sri berada di pihak Joyodiningrat"


"Ada satu lagi mas"


"Siapa?"


"Pak Jaya"


"Pak Jaya?"


"Ya,pak Surjono mengatakan jika sebelum bertemu dengan nyonya Joyodiningrat pak Surjono mengantarkan dokumen milik keluarga Joyodiningrat kepada pak Jaya"


Giandra terdiam dengan semua hal yang kini dikatakan oleh Anindita.

__ADS_1


"Masuk akal Nin, baiklah kau atur waktu ku untuk bertemu dengan pak Jaya"


"Baik mas"


__ADS_2