
Masuk, kubilang masuk ke mobil dan kau tidak boleh ke luar dari mobil,ayo cepat masuk!"
Giandra kembali membentak Amanda dan kini Amanda memilih untuk diam dan mengikuti perintah Giandra.
"Tunggu disini jangan kemana - mana"
Giandra mengatakan hal tersebut lalu menutup pintu mobil.
"Apa yang sebenarnya dilakukan oleh mas Giandra"
Amanda melihat Giandra menghampiri para aparat dan berbicara serius kepada mereka
"Nico,ada sesuatu hal yang harus kau tau,apakah kau tidak merasa aneh dengan reka adegan yang tadi diperagakan oleh Pak Surjono?"
Giandra membisikkan hal tersebut ke sahabatnya yang merupakan salah satu aparat.
"Aku mengerti Giandra,dalam hal ini akan menjadi ke ahlian mu untuk bertarung di meja hijau nanti,dengan tuntutan dari Jaksa kepada bapak Surjono"
Nico membisikkan kembali hal tersebut kepada Giandra.
"Baiklah aku mengerti"
"Ngomong - ngomong wanita yang kau gandeng tadi itu anak kandung pak Surjono?"
Nico membisikkan hal tersebut ke arah Giandra.
"Dia manis juga, nampaknya kau begitu melindungi gadis tersebut"
Nico kembali tertawa kepada Giandra.
"Ya tetap dia bukan seleraku"
__ADS_1
"Taruhan kita masih berlangsung Mr.Gian"
Nico membisikkan kembali hal tersebut ke telingga Giandra dan perkataan Nico disambut senyuman sinis Giandra.
"Tetap pasti aku pemenangnya"
Giandra kembali tersenyum kepada Nico dan langsung meninggalkan pembicaraan tersebut dan kembali masuk ke dalam mobil.
"Ada apa mas Giandra?"
Amanda yang penasaran dengan hal yang dilakukan oleh Giandra mulai bertanya kembali.
"Tak adar urusan dengan mu,kenapa kau jadi ingin tau sekali semua urusan ku ha?"
Giandra mengatakan hal tersebut sambil memandang wajah Amanda dan mau tidak mau Giandra harus mengakui jika perkataan Nico itu benar bahwa Amanda sangatlah manis.
"Mas,jangan kau pandangi aku seperti itu"
"Kenapa kau naksir?"
"Bukan mas Giandra aku takut"
Sial baru kali ini ada wanita yang mengatakan hal tersebut kepada ku.
Giandra mengatakan hal tersebut di dalam hati sambil menghidupkan mobilnya,dengan perlahan Giandra mengarahkan mobil tersebut untuk kembali ke rumah dan menurunkan Amanda.
"Mas semangat bekerja"
Amanda mengatakan hal tersebut kepada Giandra dan senyuman manis Amanda mampu membuat Giandra menganggukan kepalanya.
Setelah menurunkan Amanda dengan perlahan mobil Giandra keluar kembali dari gerbang untuk menuju ke kantornya.
__ADS_1
"Anindita!"
Setelah sampai lobby, Giandra berteriak dan memanggil Anindita yang kebetulan lewat.
"Masuk ke ruangan ku,cepat!"
Semua orang yang berada diruangan tersebut menatap ke arah Giandra dan berganti ke arah Anindita.
"Nanti ya mas"
"Sekarang!"
Suara bentakan Giandra semakin menjadi - jadi ketika Anindita menolak untuk ikut bersama masuk ke dalam ruangan Giandra.
"Baiklah!"
Anindita yang melihat kondisi sudah tidak kondusif segera mengikuti langkah kaki Giandra.
"Katakan sekarang,kenapa kau tidak ikut dengan ku ke kediaman Joyodiningrat hari ini?"
Giandra mengatakan hal tersebut sambil duduk dengan menyalakan satu batang rokok.
"Mas sebelum aku jawab,aku hanya ingin mengingatkan bahwa ruangan ini ber AC,dan mas lihat simbol itu?"
Anindita menunjuk satu simbol yang berada di dalam ruangan Giandra.
"Ini simbol dilarang merokok,peduli apa,ini kantor ku,dan aku yang berkuasa, terserah aku mau melakukan hal apapun"
Giandra tetap tenang dengan menghisap rokoknya tersebut.
"Ya Sudah Anindita keluar,mas seharusnya mas Anindita alergi terhadap asap rokok"
__ADS_1