
Amanda yang bingung pada akhirnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Hari ini bapak mu sidang Manda"
Giandra mengatakan hal tersebut sambil berteriak di telingga Amanda.
"Mas serius?sekarang mas?"
"Tidak,tapi tahun depan,ya sekarang lah Amanda kau itu bodoh atau telat mikir sih?"
"Maafin Manda ya mas"
"Cepat sana mandi,lalu siapkan aku sarapan pagi"
"Masih mau sarapan pagi juga mas?"
"Apa maksud mu ha?"
Giandra begitu geram sekaligus begitu gemas dengan satu wanita yang saat ini berada di depan matanya tersebut.
"Ya kan mas sekarang tinggal di rumah orang tua,Manda kira Manda tidak perlu menyiapkan sarapan lagi untuk mas Giandra
"
Amanda mengatakan hal tersebut sambil menekuk wajahnya.
"Kau tidak perlu banya bertanya,di hadapan ku cukup katakan saja iya dan tidak kau harus menuruti semua kata-kata ku,apa kau mengerti"
"Iya mas"
__ADS_1
Kenapa hanya Iya saja?
"Kenapa hanya kata -kata iya saja?"
"Astaga tadi kan mas Giandra yang mengatakan kalau tidak boleh ada kata lagi selain kata Iya dan tidak bagaimana sih mas,aku kan jadi bingung dengan mas Giandra?"
"Sana,cepat mandi"
"Tau ah"
Dan setelah itu Amanda menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Hei punya sopan santun sedikit dong"
Giandra mengatakan hal tersebut sambil menendang pintu kamar.
"Dasar wanita!"
"Selamat pagi mas Giandra"
Begitu Giandra sampai di bawah Giandra audha melihat Anindita duduk di ruang tamu dengan berkas -berkas yang dia pegang.
"Kau ada disini Nin?"
Anindita yang tadinya duduk segera berdiri dan mendekatkan dirinya kepada Giandra.
"Harusnya aku yang bertanya untuk apa mas Giandra kesini pagi-pagi sekali?"
"Ya aku datang untuk membangun kan wanit itu Nin"
__ADS_1
"Tidak perlu untuk dibangunkan,karena mbak Amanda pasti bangun sendiri"
"Darimana kau tau jika dia akan bangun sendiri?"
"Mas mbak Amanda itu bukan anak kecil lagi,usia mbak Amanda itu sudah dewasa bukan seperti bayi lagi yang harus di awasi"
"Katakan jujur kepada ku,apakah mas Giandra ada hati dengan mbak Amanda?"
Deg
Pertanyaan Anindita kini membuat Giandra tidak bisa untuk menjawab nya.
"Cih mana mungkin aku jatuh cinta pada wanita kampungan itu,tidak mungkin Nin"
"Mas Giandra yakin?"
Anindita mengatakan hal tersebut sambil memandang Giandra dengan tajam.
"Sangat mungkin Nin"
"Mana mungkin aku jatuh cinta pada wanita jelek seperti dia"
"Baguslah jika memang seperti itu"
"Kau ini aneh-aneh saja"
Setelah mengatakan hal tersebut Giandra segera berjalan menuju ke meja makan,dan tanpa Giandra sadari sejak tadi ada sepasang mata dan telingga yang mendengarkan semua percakapan mereka.
Mas Amanda memang jelek,Amanda memang tidak pantas untuk mas Giandra,tapi mas Giandra tidak perlu mengatakan secara langsung kepada mbak Anindita sampai seperti itu.
__ADS_1
Amanda hanya bisa mengatakan semua hal tersebut di dalam hatinya,dengan sekuat tenaga Amanda berusaha tidak sedih dan berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan untuk Giandra.
Maafkan aku Amanda jika kau harus mendengarkan semua ini,aku tau hati mu saat ini pasti sakit,namun kau juga harus tau jika hatiku lebih sakit darimu Manda,apalagi ketika pandangan mata mas Giandra tidak pernah terlepas dari mu.