Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
100. Sundel Bolong ?


__ADS_3

Seperti dugaan Ranvier, wanita itu adalah Mutia. Dalam mimpi Ranvier, wanita yang mirip Mutia itu nampak tersenyum sambil melangkah kearahnya.


" Apa kabar Ranvier...," sapa Mutia.


" Seperti yang Kamu liat. Aku baik-baik saja. Hanya saja sekarang Aku bingung harus memanggilmu dengan sebutan apa, Mutia atau Yara...," sahut Ranvier sambil mundur perlahan.


Ucapan Ranvier membuat Mutia alias Yara terkejut, namun hanya sesaat. Sebab detik berikutnya Mutia kembali melangkah dengan senyum yang bisa dibilang lebih mirip seringai daripada sebuah senyuman.


" Terus kenapa Kamu menghindari Aku Ranvier...?" tanya Mutia.


" Siapa bilang Aku menghindar. Bukannya Kamu yang menghindar dariku Yara...," sahut Ranvier.


" Selama ini Aku terus mencarimu Ranvier tapi ga pernah ketemu. Kamu menghilang bak ditelan bumi. Tau kah Kamu kalo Aku sangat merindukanmu...?" tanya Mutia sedih..


" Merindukanku, kenapa ?. Bukannya Kamu membenciku...?" tanya Ranvier.


" Aku ga pernah membencimu Ranvier. Kamu salah paham. Aku tau Kamu selalu berusaha melerai teman-teman yang ingin membullyku dulu. Aku hanya malu karena Aku merasa tak sepadan denganmu...," sahut Mutia.


" Kenapa harus merasa tak sepadan. Kita hanya berteman, jadi harusnya Kamu ga perlu punya perasaan itu...," kata Ranvier tak mengerti.


" Tapi Aku mau lebih dari sekedar teman Ranvier...!" sahut Mutia gusar.


Dan setelah mengatakan itu sosok Mutia perlahan berubah. Dari sosok gadis biasa yang mengenakan seragam sekolah putih abu-abu menjadi gadis dengan rambut kribo dan pakaian old fashion.


Ranvier menggelengkan kepala melihat perubahan Mutia. Perlahan ia bisa melihat tak hanya pakaian Mutia yang berubah tapi juga wujudnya.


Wanita itu bertambah tinggi dan besar secara perlahan. Selain itu juga wajah dan permukaan kulit wanita itu ikut berubah. Ranvier menahan nafas saat wujud Mutia telah berubah menjadi wujud sundel bolong yang berlumuran darah di bagian punggung hingga menembus ke perut. Kulit wajah Mutia perlahan terkelupas menyisakan tulang tengkorak yang berongga di bagian mata dan hidung.


Helaian rambut Mutia juga berubah dari lebat menjadi tinggal beberapa helai yang sebagian menempel di kulit kepala wanita itu. Belum lagi bau busuk yang menguar dari tubuh wanita itu membuat Ranvier mual.


Dan saat wanita itu mengulurkan tangannya untuk meraih Ranvier, sebuah cahaya putih keperakan melesat cepat di depan Ranvier hingga pandangan wanita jelmaan sundel bolong itu pun terhalang.


Saat Ranvier masih terkejut melihat cahaya keperakan itu, mimpi itu pun berakhir.


" Ya Allah. Jadi Mutia itu sebenernya jelmaan sundel bolong ?. Tapi ga mungkin kan. Kalo dia jelmaan sundel bolong, mana mungkin dia bisa hidup tenang di bawah cahaya matahari layaknya manusia normal...," gumam Ranvier sambil bergidik ngeri.


Ranvier turun dari tempat tidur lalu memutuskan berwudhu dan menunailan sholat malam.

__ADS_1


Setelah sholat malam, Ranvier kembali menoleh kearah jam dinding yang menunjukkan angka dua. Itu artinya saat itu masih jam dua hari. Terlalu awal untuk Ranvier beraktifitas.


Akhirnya Ranvier kembali naik ke atas tempat tidur. Saat akan memejamkan mata, Ranvier teringat dengan sinar putih keperakan yang tadi menghadang langkah sundel bolong di dalam mimpinya.


" Sinar putih keperakan itu darimana datangnya ya. Kok, kayanya Aku pernah ngeliat sinar itu sebelumnya. Tapi dimana...?" tanya Ranvier bingung.


Karena tak jua menemukan jawaban, Ranvier pun kembali terlelap. Ia terbangun saat mbok Rah mengetuk pintu kamarnya.


" Mas Ranvier udah babgun belum...?!" tanya mbok Rah sambil mengetuk pintu.


" Iya iya Mbok. Aku bangun nih, makasih yaa...!" sahut Ranvier lantang.


" Iya Mas...!" sahut mbok Rah sambil tersenyum di balik pintu.


Setelah membangunkan Ranvier, kemudian Mbok Rah berjalan ke dapur. Mbok Rah yakin Ranvier kesiangan karena ia melihat lampu kamar Ranvier masih menyala saat ia keluar kamar jam dua dini hari tadi. Itu tandanya saat itu Ranvier masih terjaga. Dan biasanya Ranvier akan sulit bangun pagi karena tidur terlalu larut.


Setelah menyelesaikan sholat Subuh yang kesiangan, Ranvier pun keluar dari kamar.


" Kesiangan ya Mas...," sapa Mbok Rah saat Ranvier melintas di ruang makan.


" Iya Mbok. Kopiku udah jadi Mbok...?" tanya Ranvier.


" Ga usah Mbok. Aku sarapan nasi aja nanti. Sekarang Aku mau jogging sebentar di depan ya...," kata Ranvier.


" Iya Mas...," sahut mbok Rah.


Setelah meneguk kopinya sedikit, Ranvier pun berlari kecil di halaman rumah. Hal itu rutin ia lakukan untuk menjaga kebugaran tubuhnya.


Saat sedang berlari kecil mengelilingi taman kecil di halaman rumah, tak sengaja ia mendengar celotehan para baby sitter yang berkumpul di jalan depan rumah. Biasanya mereka bertemu untuk saling bertukar cerita tentang keseharian mereka mengasuh anak majikan masing-masing.


" Yang bener Kamu Mina...," kata sebuah suara hingga membuat Ranvier terusik.


Ranvier pun memutuskan berhenti berlari lalu melakukan olah raga di tempat sambil 'menguping' pembicaraan dua baby sitter itu.


" Ih serius Teh. Non Kayla emang kesurupan semalam...," sahut wanita yang dipanggil Mina.


" Kok bisa kesurupan...?" tanya wanita yang dipanggil Teteh tadi.

__ADS_1


" Aku juga ga tau. Kata orang pinter yang dipanggil Nyonya semalam, Non Kayla itu ketulah sama khodam penjaganya...," sahut Mina.


" Emangnya Non Kayla punya khodam penjaga...?" tanya Teteh.


" Punya. Kan leluhur Tuan keluarga ningrat, jadi pasti punya khodam penjaga yang bakal menjaga anak keturunannya dari hal yang ga diinginkan...," sahut Mina.


" Hal yang ga diinginkan tuh maksudnya apa...?" tanya Teteh penasaran.


" Non Kayla bakal dilindungi dari orang yang punya niat jahat atau mau mencelakainya. Jadi kaya body guard tapi ga kasat mata kaya jin...," sahut Mina.


" Kalo emang begitu, harusnya Non Kayla aman dong. Kenapa Kamu bilang dia kesurupan ?. Terus ga masuk akal lagi karena dia kesurupan sama khodam yang menjaganya...," kata Teteh bingung.


" Mmm..., Kamu jangan bilang siapa-siapa ya...," pinta Mina sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


" Mau bilang sama siapa ?, kan cuma Kamu sama Saya yang ada di sini...," sahut Teteh cepat.


" Iya, tapi jangan ceritain lagi sama Suri atau Desi ya. Janji dulu...!" pinta Mina.


" Iya janji, udah buruan mau ngomong apaan...," kata Teteh tak sabar.


" Kata orang pinter yang dipanggil Nyonya, Non Kayla udah melakukan sesuatu yang ga disukain sama khodam penjaganya itu. Dan yang dilakukan cukup fatal makanya khodamnya marah...," sahut Mina.


" Emang Non Kayla ngapain sampe khodamnya marah kaya gitu...?" tanya Teteh.


" Berzina sama Pacarnya. Mereka melakukannya saat mabuk...," sahut Mina cepat.


" Astaghfirullah aladziim..., itu sih udah keterlaluan. Pantesan aja khodamnya marah. Kalo Saya jadi khodamnya Non Kayla, Saya juga pasti marah lah. Apalagi ini khodam dari leluhur yang pasti sangat menjaga moral dan kesucian...," kata Teteh.


" Iya, makanya ga lama lagi Non Kayla bakal dinikahin sama pacarnya itu. Kalo ga, khodamnya bakal terus gangguin Non Kayla...," kata Mina.


" Nikah, bukannya Non Kayla masih SMA kelas dua...?" tanya Teteh.


" Iya, abis mau gimana lagi. Cuma ada dua pilihan. Nikahin Non Kayla secepatnya dengan pacarnya atau Non Kayla bisa gila karena terus diterror sama khodam penjaganya itu...," kata Mina di akhir kalimatnya.


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Mina dan Teteh memisahkan diri karena suara majikan mulai terdengar memanggil.


Ranvier yang mendengarkan pembicaraan Mina dan Teteh tadi nampak tersenyum karena mulai mengerti sesuatu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2