Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
79. Yang Pamit Siapa ?


__ADS_3

Sejak kejadian itu para karyawan semakin berhati-hati bekerja terutama saat jam menjelang tengah hari dan menjelang Maghrib.


Sebenarnya pabrik hanya beroperasi hingga jam lima sore. Tapi saat pesanan meningkat, mau tak mau pengelola pabrik memberi waktu luang dan mengijinkan mesin beroperasi hingga menjelang Maghrib. Setelahnya para karyawan yang bekerja lembur hanya diijinkan mengemas dan memindahkan barang tanpa mengaktifkan mesin.


Entah mengapa hari itu pesanan dalam jumlah besar datang mendadak. Semua divisi, terutama divisi pimpinan Erwin pun harus lembur untuk memenuhi target.


" Duh, bisa ga sih ijin ga lembur hari ini aja...," kata Aini setengah berbisik.


" Ga tau deh. Coba tanya sama Pak Erwin..., " sahut salah seorang rekan Aini.


" Pak Erwin ya. Gue ga berani ngomongnya. Ga enak, Gue kan karyawan baru. Masa udah berani nawar waktu disuruh lembur...," kata Aini tak enak hati.


" Itu sih terserah Lo. Kalo emang mau ga lembur karena ga enak badan atau ada urusan, ya ngomong langsung sama Pak Erwin. Dia kan pimpinan divisi...," sahut rekan Aini yang lain.


" Emangnya Lo mau kemana sih Ni, kok pake ga bisa lembur segala...?" tanya rekan Aini.


" Duh gimana ya ngomongnya. Pokoknya ini urusan keluarga, penting banget...," sahut Aini cepat.


" Urusan keluarga kan banyak Ni. Harus spesifik biar Pak Erwin percaya dan ngasih ijin Lo buat pulang...," kata rekan Aini.


" Malam ini ada rombongan mau bertamu ke rumah orangtua Gue...," sahut Aini gusar.


" Rombongan, mau ngapain...?" tanya rekan Aini setengah memaksa.


" Gueee... Gue mau dilamar sama cowok Gue dan keluarganya malam ini...," sahut Aini malu-malu.


Ucapan Aini mengejutkan semua orang. Mereka saling menatap kemudian tersenyum.


" Waahh... selamat ya Aini. Ga nyangka cewek imut kaya gini udah laku aja...," gurau rekan Aini.


" Apaan sih, emang Gue barang pake dibilang laku segala...," sahut Aini pura-pura marah.


Ucapan Aini membuat semua rekannya tertawa.


" Selamat ya Aini. Masih kecil udah mau jadi Istri orang aja. Bentar lagi hamil, terus jadi Ibu deh...," gurau rekan Aini.


" Aamiin, makasih Bu. Tapi gimana nih caranya ngomong sama Pak Erwin...?" tanya Aini bingung.


" Gampang. Pak Erwin kan selalu keliling tuh. Sebentar lagi dia pasti balik ke sini. Nah, pas dia ke sini Lo langsung samperin dan minta ijin. Mudah-mudahan sih dikasih ijin ya. Kalo ga dikasih ijin, itu artinya nasib Lo aja yang apes Ni...," sahut salah seorang rekan Aini disambut tawa rekan-rekan Aini lainnya.

__ADS_1


" Oh gitu ya. Gampang banget caranya...," kata Aini sambil tersenyum.


" Iya Ni. Nah itu Pak Erwin. Samperin gih...," kata rekan Aini sambil menunjuk kearah Erwin dengan ujung dagunya.


Aini memgangguk lalu bergegas menghampiri Erwin. Melihat Aini melangkah kearahnya dengan sikap malu-malu membuat hati Erwin berbunga-bunga.


" Selamat sore Pak...," sapa Aini.


" Selamat sore Aini, ada apa...?" tanya Erwin.


" Mmm..., maaf Pak. Bapak bilang kan semua karyawan harus lembur karena lagi dikejar target. Tapi Saya mau ijin pulang lebih cepat, bisa ga Pak...?" tanya Aini ragu.


" Pulang lebih cepat...?" tanya Erwin sambil mengerutkan keningnya.


" Maksud Saya pulang jam empat kaya biasanya Pak. Mohon maaf Saya ga bisa lembur hari ini karena ada urusan keluarga...," sahut Aini sambil menautkan jemarinya dengan gusar.


" Urusan keluarga apa Aini ?. Yang jelas dong kalo ngomong. Kalo cuma urusan arisan keluarga kan bisa diundur sebentar. Lagipula di arisan keluarga bukan Kamu yang ikut arisan kan, paling Ayah atau Ibu Kamu. Jadi terlambat sedikit kan gapapa...," kata Erwin.


" Bukan Pak. Justru Saya yang wajib hadir karena ini acara Saya...," sahut Aini.


" Acara apa Aini...?" tanya Erwin penasaran.


Jawaban Aini membuat Erwin terkejut dan sesak nafas. Bunga di hatinya yang sempat mekar bersemi tadi pun layu dalam sekejap.


" Pak Erwin...," panggil Aini lirih.


" Eh i ... iya. Kamu boleh pulang jam empat nanti Aini...," sahut Erwin gugup.


" Makasih Pak. Makasih banget atas pengertiannya. Makasih ya Pak...," kata Aini antusias sambil menyentuh lengan Erwin dan mengguncangnya dengan lembut.


Erwin hanya mengangguk dengan jantung berdetak cepat. Setelahnya ia membalikkan tubuhnya kearah lain. Rupanya Erwin tak ingin Aini tahu bagaimana perasaannya saat gadis itu menyentuh lengannya tadi.


\=\=\=\=\=


Jam empat sore bel tanda jam kerja usai pun berdering nyaring. Beberapa pekerja yang tak kebagian jatah lembur nampak mulai bersiap untuk pulang, salah satu diantaranya adalah Aini.


Aini nampak bergegas mengemas pekerjaan terakhirnya. Aini juga membersihkan serpihan kayu di atas meja tempat kerjanya lalu menyapu sebagian lantai.


Setelahnya Aini melangkah meninggalkan tempat itu sambil tersenyum kepada semua rekannya.

__ADS_1


" Gue duluan ya...," pamit Aini.


" Iya. Hati-hati ya Aini. Semoga acara lamarannya berjalan sukses dan lancar...," kata salah seorang rekan Aini.


" Aamiin. Makasih doanya...," sahut Aini sambil tersenyum.


" Sisain kuenya ya Aini...," gurau salah seorang rekan Aini hingga membuat Aini dan semua rekannya tertawa.


" Sisain kuenya sekarang, terus dibawa besok maksud Lo. Ya udah basi dong...," sahut Aini di sela tawanya.


" Tau nih. Kalo Gue mah ogah dikasih kue basi Ni, Gue minta ditraktir baso aja sama Lo besok...," sela rekan Aini lainnya.


" Udah jangan diajak bercanda terus. Aini ga pulang-pulang tuh jadinya. Ntar kalo keliatan masih di sini tapi ga ikut lembur bisa dapat SP lho...," kata seorang rekan Aini mengingatkan.


" Kalo gitu Gue balik sekarang ya...," sahut Aini sambil bergegas melangkah meninggalkan semua rekannya.


Saat itu salah satu rekan Aini yang bernama Tuti tak sengaja mengamati pergerakan Aini. Ia nampak mengerutkan keningnya karena melihat cairan merah mengalir di sela cela*a panjang yang Aini kenakan.


" Cairan apaan tuh, kok mirip darah ya...," gumam Tuti.


Namun perhatian Tuti teralihkan saat Erwin datang mendekat kearah mereka dwn bertanya dengan lantang.


" Dimana Aini, katanya mau pulang ?. Kok Saya tunggu di depan ga keluar juga. Padahal udah Saya bantu minta ijin sama Bos tadi...?!" tanya Erwin.


" Baru aja pulang Pak...," sahut para karyawan serempak.


" Oh ya, lewat mana ?. Kok ga ketemu Saya...?" tanya Erwin.


" Lewat tempat biasa Pak...," sahut rekan Aini.


Tiba-tiba terdengar suara gaduh di belakang mesin. Saat semua menoleh ke sumber suara mereka pun terkejut. Mereka melihat tubuh Aini tergeletak bersimbah darah di lantai dengan tangan dan kaki yang tertekuk.


Sebagian rekan Aini pun menjerit histeris hingga mengejutkan divisi lain. Dalam waktu singkat divisi pimpinan Erwin dipenuhi karyawan dari berbagai divisi karena penasaran dengan suara jeritan tadi.


" Jika Aini terluka di lantai, jadi siapa yang pamit pulang tadi...?".


Pertanyaan seperti itu lah yang terus menggema di kepala para karyawan di divisi pimpinan Erwin.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2