Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
129. Serangan Ghaib


__ADS_3

Nada memang tak terlacak oleh para preman bayaran itu karena Kakek Randu dan Ranvier menyembunyikan gadis itu dengan baik. Namun hal itu tentu saja membuat seseorang sangat marah. Dia adalah Ayu, istri baru Wijaya yang juga merupakan ibu tiri Nada.


Saat mendengar kabar tentang raibnya Nada, Ayu pun marah besar.


" Gimana sih Kalian, beresin satu cewek aja ga bisa !. Percuma dong Saya bayar mahal kalo kerja Kalian kaya gini...!" kata Ayu kesal.


" Maaf Bu. Tapi cewek itu emang ga ada dimana-mana Bu. Di Rumah Sakit ga ada, di kost-an kosong, tempat tongkrongannya juga sepi. Ini Saya dan anak buah Saya masih nyari kok...," sahut kepala preman membela diri.


" Kalo gitu teruskan pencarian Kalian. Saya bayar sisanya kalo Saya udah ngeliat dia di depan mata Saya...!" kata Ayu di akhir kalimatnya.


Setelahnya Ayu melangkah masuk ke dalam rumah untuk menemui Wijaya yang kini berstatus suaminya.


Saat melihat Wijaya sedang makan di ruang makan, Ayu pun tersenyum. Ia menghampiri Wijaya lalu mengecup pipinya.


" Udah telephonnya ?, kok lama banget. Ada apa, siapa yang telephon...?" tanya Wijaya beruntun.


" Satu-satu dong nanyanya. Aku jadi bingung mau jawab yang mana duluan...," sahut Ayu sambil duduk di samping Wijaya.


" Ok. Jadi ada apa...?" tanya Wijaya.


" Salah satu famili di kampung mau ngadain hajatan. Biasa lah minta uang buat tambahan biaya hajatan. Tapi Aku yakin bukan buat tambahan ya, itu sih sama aja Kita yang biayain hajatan karena jumlahnya tuh besar banget...," sahut Ayu berbohong.


" Minta berapa...?" tanya Wijaya.


" Dua puluh juta...," sahut Ayu cepat.


" Kasih aja. Jangan kaya orang susah deh, uang segitu aja pake ribut...," kata Wijaya.


" Kamu serius...?" tanya Ayu sambil membelalakkan matanya.


" Iya Sayang. Aku udah selesai makan, sekarang Aku harus berangkat ke kantor. Kamu baik-baik di rumah ya...," kata Wijaya sambil mengecup kening istrinya.


" Ok, makasih Sayang...," sahut Ayu sambil tersenyum lebar.


Wijaya mengangguk lalu bergegas bangkit dari duduknya. Ayu pun ikut bangkit lalu mengantar Wijaya hingga ke teras rumah. Ayu pun nampak melambaikan tangannya kearah Wijaya yang melambaikan tangan dari balik jendela mobil.


Untuk beberapa saat Ayu masih mematung di teras rumah sambil tersenyum puas.


" Jadi begini rasanya jadi Istri Wijaya. Duduk santai, ga harus ngelakuin pekerjaan berat, bisa megang uang banyak dan belanja sesuka hati. Hmm..., menyenangkan. Tapi ini belum sempurna selama Nada masih ada. Dia adalah biang masalah jadi wajar kalo dilenyapkan...," gumam Ayu sambil mengepalkan tangannya.


Setelah mengucapkan itu Ayu pun membalikkan tubuhnya lalu melangkah cepat ke dalam rumah. Ia pergi ke kamar dan mengunci pintu.


Di dalam kamar Ayu menghampiri lemari lalu mengambil kotak kayu dan membawanya ke atas tempat tidur. Ayu nampak merapatkan kedua telapak tangannya sambil merapal mantra sebelum membuka kotak kayu itu.

__ADS_1


Dan saat kotak kayu dibuka, asap berwarna kehitaman nampak melayang keluar bersama bau busuk yang menyengat. Ayu pun tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk meraih dua boneka jerami yang ada di dalam kotak itu.


Kemudian Ayu mulai memainkan dua buah boneka bertuliskan nama Wijaya dan Nada itu seperti boneka Barbie. Ayu bahkan membuat suara berbeda untuk Wijaya dan Nada.


" Kamu dimana sekarang Nada, kenapa ga pulang. Ayah kangen Nak...,"


" Aku lagi ada di suatu tempat Ayah. Ga usah khawatir, Aku baik-baik aja kok...,"


" Syukur lah. Pulang lah Nak. Kamu punya Ibu sekarang...,"


" Ibu...?"


" Iya. Bukannya Kamu selalu ingin Tante Ayu jadi Ibumu ?. Sekarang Ayah kabulkan keinginanmu itu. Tante Ayu dan Ayah sudah menikah tiga hari yang lalu. Ayah sudah mencarimu kemana-mana tapi ga ketemu juga. Karena semua sudah dipersiapkan dengan matang, Ayah dan Tante Ayu pun menikah tanpa kehadiranmu. Meski Kamu ga bisa hadir, tapi Ayah yakin Kamu juga bakal bahagia melihat pernikahan Kami...,"


" Aku bahagia Ayah...,"


" Bagus. Karena Kamu bahagia, terimalah hadiah kecil dari Ayah untukmu...,"


Usai mengucapkan kalimat terakhir Ayu pun menyayat perut boneka bertuliskan Nada dengan silet berkarat yang diambilnya dari dalam kotak. Tak hanya sekali tapi berkali-kali dan sambil tertawa terbahak-bahak.


Efek dari aksi Ayu tadi terlihat pada diri Nada yang kini tinggal di rumah kakek Randu. Gadis itu tiba-tiba menjerit saat merasakan sakit yang amat sangat pada perutnya. Bahkan tubuhnya menegang dan matanya mendelik ke atas karena tak kuasa menahan sakit di perutnya itu.


Suara jeritan Nada terdengar membahana di rumah kakek Randu dan membuat semua orang terkejut. Dalam waktu singkat Ranvier, Krisna, Mbok Rah dan dua karyawan lain nampak sudah berkumpul di depan pintu kamar Nada.


Bukan menjawab panggilan Ranvier, Nada kembali menjerit. Bahkan kali ini disertai suara berdebum yang membuat semua orang khawatir.


" Didobrak aja Mas...," usul salah satu karyawan.


" Tapi kalo dia lagi ga pake baju gimana...?" tanya Ranvier bingung.


" Kita yang dobrak pintu, tapi Mbok Rah yang masuk ke dalam...," usul Krisna yang diangguki semua orang.


" Ok...," kata Ranvier sambil menepi.


Kemudian dua orang karyawan kakek Randu mendobrak pintu bersamaan. Dua kali tendangan telah berhasil menjebol pintu. Mbok Rah pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengamankan kondisi Nada. Namun saat melihat Nada mengejang di lantai kamar, mbok Rah pun ikut menjerit.


Ranvier dan Krisna langsung melesat cepat ke dalam kamar dan terkejut melihat kondisi Nada yang nampak mengenaskan itu. Saat itu Nada nampak memegangi perutnya, sesekali tubuhnya mengejang tiap kali ada sesuatu yang menyerang perutnya. Luka di lengan gadis itu kembali terbuka dan berdarah akibat jatuh dari tempat tidur tadi.


Saat Krisna hendak maju untuk membantu Nada, Ranvier mencegahnya.


" Jangan Pak Kris...!" kata Ranvier lantang.


" Tapi Mas...," ucapan Krisna terputus saat Ranvier memotong cepat.

__ADS_1


" Nada diserang secara ghaib. Dan Aku khawatir kalo Pak Kris maju justru Pak Kris ikut terluka nanti...," kata Ranvier.


" Terus gimana cara membantunya Mas. Kasian Nada...," kata Krisna tak sabar.


" Saya yang bakal membantunya. Sekarang Pak Kris dan Mbok Rah menjauh dari Nada...," pinta Ranvier sambil mendekati Nada.


" Baik Mas...," sahut Krisna dan Mbok Rah bersamaan.


Saat keduanya menepi, kakek Randu pun masuk ke dalam kamar dibantu salah seorang karyawannya. Setelahnya kakek Randu meminta karyawannya keluar dari kamar.


" Ada apa Kris. Apa Nada jatuh ?. Kenapa banyak darah di lantai...?!" tanya kakek Randu cemas.


" Tolong jaga Kakek Pak Kris...!" kata Ranvier sebelum ia mulai menyentuh Nada.


" Iya Mas. Ayo Pak, Kita keluar aja...," ajak Krisna.


" Aku di sini aja Kris, Aku janji ga akan mengganggu. Tapi kasih tau Aku ada apa ini...?" tanya kakek Randu.


" Nada mendapat serangan ghaib Pak. Dan Mas Ranvier mau membantunya sendiri. Saya udah mau ikut bantuin tapi Mas Ranvier ngelarang Saya tadi...," sahut Krisna.


" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun. Laa haula wala quwwata ilaa billahill aliyyil adziim. Apa lagi ini, siapa yang ingin menyakiti anak itu..., " gumam kakek Randu sambil menggelengkan kepala.


" Kita mundur sedikit ya Pak...," bisik Krisna yang diangguki Kakek Randu.


Dari tempat mereka berdiri terlihat bagaimana Ranvier menatap Nada sejenak sebelum mulai menyentuh Nada yang sedang menangis kesakitan itu.


" Maafkan Aku Nada. Bismillahirrohmaanirrohiim..., " kata Ranvier sambil menarik kedua tangan Nada yang sedang memegangi perutnya.


Tubuh Nada tersentak saat kedua tangannya ditarik oleh Ranvier. Rasa sakit yang menyerang perutnya makin hebat dan tubuh Nada tampak mengejang. Setelah menarik tangan Nada, Ranvier meletakkan telapak tangannya di atas perut Nada. Sedikit menekannya sambil terus berdzikir.


Ajaib. Nada berhenti menjerit. Sesaat kemudian Ranvier meletakkan satu tangan lainnya di punggung Nada lalu membantunya duduk. Ranvier mengusap punggung Nada beberapa kali dan kembali menekan kedua telapak tangannya bersamaan. Dan saat itu lah Nada memuntahkan darah berwarna kehitaman berbau busuk dari mulutnya.


Setelah beberapa kali muntah, tubuh Nada pun melemah. Ia hampir tak sanggup duduk dengan baik saat itu. Beruntung Ranvier sigap menahan tubuhnya hingga gadis itu tak tersungkur di lantai.


" Alhamdulillah..., " kata Ranvier.


Setelah mendengar kalimat hamdalah yang diucapkan Ranvier, Krisna bergegas mendekat dan membantu menggotong tubuh Nada ke atas tempat tidur.


" Tolong gantiin pakaiannya Mbok...," pinta Ranvier sambil bergegas keluar kamar diikuti Kakek Randu dan Krisna.


" Baik Mas...," sahut Mbok Rah.


Kemudian Mbok Rah pun memanggil asisten pria untuk membersihkan darah di lantai kamar. Setelahnya ia menutup pintu dan menguncinya lalu mulai menggantikan pakaian Nada.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2