
Saat Erwin menghubungi Ranvier, saat itu Ranvier baru saja kembali dari makan malam bersama Decker dan Joshua.
" Ponsel Lo bunyi tuh Vier...," kata Joahua mengingatkan.
" Iya. Gue terima dulu ya...," sahut Ranvier.
" Ok. Gue juga mau istirahat di kamar. Thanks buat traktirannya ya Vier...," kata Joshua sambil tersenyum.
" Sama-sama..., " sahut Ranvier.
" Gue juga ke kamar ya Vier. Thanks makan malamnya...," kata Decker sambil melangkah kearah kamarnya.
Ranvier tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya untuk menjawab ucapan Decker karena saat itu suara Erwin lebih dulu masuk ke gendang telinganya.
" Assalamualaikum Vier...!" panggil Erwin dari seberang telephon.
" Wa alaikumsalam, iya Gue denger. Ada apaan Win...?" tanya Ranvier sambil menuang air minum ke dalam gelas.
" Tolong bantuin Gue Vier...," sahut Erwin to the point hingga membuat Ranvier sedikit terkejut dan mengerutkan keningnya.
" Kita video callan aja Win...," kata Ranvier sambil menutup pintu kamar.
Erwin pun menuruti permintaan Ranvier. Saat itu Ranvier bisa melihat wajah panik Erwin. Wajah pria yang biasa tenang dan selalu penuh canda itu kini nampak dibayangi ketakutan.
" Lo kenapa Win ?, bantuin apaan yang Lo maksud tadi...?" tanya Ranvier penasaran.
Erwin pun dengan lancar menceritakan kecelakaan kerja yang terjadi di pabrik tadi. Tak lupa Erwin juga menceritakan pertemuannya dengan sosok wanita mirip Aini, termasuk kalimat aneh yang dilontarkan Galih dan Tuti tadi.
" Gue benar-benar pusing Vier. Gue ngerasa apa yang dibilang Tuti bakal kejadian. Gimana nih Vier...?" tanya Erwin gusar.
" Sebentar ya Win. Sekarang Gue ngeliat penampakan sosok perempuan ikut berwajah cantik di belakang Lo...," kata Ranvier sambil menajamkan penglihatannya.
" Sosok perempuan imut berwajah cantik, jangan-jangan itu Aini Vier...," sahut Erwin panik.
" Kenapa dia ngikutin Lo Win ?. Jangan bilang sebelumnya Lo sempet naksir sama cewek ini...?" goda Ranvier.
" Iya iya, Gue emang ga bisa bohong sama Lo Vier. Gue ngaku deh. Gue emang naksir sama dia Vier. Gue sempet kaget waktu dia ijin pulang cepet karena mau dilamar sama keluarga pacarnya. Tapi abis itu Gue bisa legowo kok. Gue nerima takdir Gue yang ga berjodoh sama Aini...," sahut Erwin cepat.
" Oh gitu...," kata Ranvier sambil tersenyum.
" Jangan oh gitu doang Vier. Bantuin Gue, kasih tau Gue gimana caranya supaya Aini ga gentayangan gangguin teman-temannya di pabrik...," pinta Erwin dengan mimik wajah serius.
" Cuma temennya Aini aja...?" tanya Ranvier sambil tersenyum penuh makna.
" Ya termasuk Gue lah Vier. Gimana sih Lo...!" kata Erwin kesal.
__ADS_1
Ucapan Erwin membuat Ranvier tak kuasa menahan tawa. Erwin hanya menggaruk kepalanya karena sadar dirinya telah sok jual mahal dan berbelit-belit tadi.
" Ranvier...!" panggil Erwin kesal karena Ranvier tak juga berhenti tertawa.
" Iya sorry Win. Gini, Gue minta maaf karena ga bisa bantuin Lo. Posisi Gue kan jauh dari Lo Win. Tapi tenang aja. Lo bisa minta bantuan Paman Daeng nanti. Ntar Gue kasih nomornya Om Daeng dan Lo bisa ngobrol langsung sama Beliau nanti...," kata Ranvier.
" Ok Gue setuju. Tapi yang sekarang Lo bisa kan bantuin Gue...," pinta Erwin.
" Maksud Lo...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Kan Lo bilang arwahnya Aini ngikutin Gue dari tadi. Tolong Lo bilang sama dia supaya ga ngikutin Gue. Jujur Gue beneran takut nih sekarang. Bulu kuduk Gue merinding disko terus daritadi Vier...," sahut Erwin cemas.
" Kenapa ga sekalian dinetralisir sama Paman Daeng aja nanti. Kan Lo bakal ketemuan sama Beliau juga...?" tanya Ranvier.
" Kelamaan dong Vier. Itu juga kalo Om Daeng bisa langsung datang nemuin Gue. Kalo Om Daeng lagi ada urusan di luar sana, bisa-bisa Gue keburu mati berdiri gara-gara ketakutan diterror sama arwahnya Aini...," sahut Erwin putus asa.
Ranvier tersenyum lalu mengangguk mengiyakan.
Kemudian Ranvier mulai berkomunikasi dengan arwah Aini. Ia menyapa arwah Aini dan memintanya menjauhi Erwin.
" Aku bingung. Aku mau pulang tapi ga bisa keluar dari sana. Aku hanya bisa keluar dari tempat itu saat Aku ada bersamanya...," kata arwah Aini lirih.
" Kamu sabar ya. Sebentar lagi akan ada orang yang akan membantumu. Nah, sampe saat itu tiba, sebaiknya Kamu menjauh dari Erwin untuk sementara waktu. Kasian Erwin. Dia punya pekerjaan dan tanggung jawab besar di pabrik. Apalagi setelah kematian Kamu dia lah yang paling sering bolak-balik ke kantor Polisi untuk diinterogasi nanti. Jangan ganggu dia dengan penampakan atau suaramu. Bisa kan...?" tanya Ranvier sambil menatap arwah Aini lekat.
Sambil berkomunikasi dengan arwah Aini, Ranvier juga membaca doa untuk memasang pagar ghaib di sekitar Erwin. Berhasil. Arwah Aini pun mundur teratur lalu pergi meninggalkan Erwin.
" Alhamdulillah..., " kata Ranvier sambil mengusap wajahnya.
" Gimana Vier...?" tanya Erwin tak sabar.
" Dia udah pergi Win. Tapi saran Gue Lo tetap harus waspada. Jangan lengah dan segera hubungi Paman Daeng sebelum terlambat...," sahut Ranvier.
" Iya Vier. Gue emang ga tau apa-apa soal ini. Tapi Gue ngerasa kalo kasus kematian Aini ga sesederhana yang terlihat...," kata Erwin.
" Betul...," sahut Ranvier cepat.
" Kalo gitu makasih ya Vier. Alhamdulillah Gue mulai merasa ngantuk nih, padahal daritadi Gue ga bisa tidur. Sekarang Gue tidur dulu ya Vier. Assalamualaikum..., " kata Erwin mengakhiri pembicaraan.
" Wa alaikumsalam..., " sahut Ranvier lirih.
Setelah panggilan video call dengan Erwin berakhir, Ranvier bergegas menghubungi Daeng Payau. Kemudian Ranvier menceritakan apa yang terjadi pada Aini sesuai yang disampaikan Erwin tadi.
" Keliatannya Aini jadi tumbal Vier. Tapi untuk tumbal ritual apa masih harus dicari tau...," kata Daeng Payau sambil mengetukkan ujung jarinya di atas meja.
" Saya juga mikir begitu Paman. Terus gimana, apa Paman bisa membantu Erwin...?" tanya Ranvier.
__ADS_1
" Insya Allah Saya bakal bantu Erwin nanti...," sahut Daeng Payau cepat.
" Makasih Paman. Aku tau Paman ga akan mengecewakan Aku...," puji Ranvier namun membuat Daeng Payau melengos sebal.
" Ga usah memuji. Kapan Kamu selesaikan pendidikanmu itu Vier ?. Banyak yang harus Kita lakukan nanti...," kata Daeng Payau.
" Insya Allah sebentar lagi Paman. Insya Allah ga sampe akhir tahun Aku udah ada di Jakarta..., " janji Ranvier hingga membuat Daeng Payau tersenyum.
" Kalo gitu cepat lah pulang !. Saya ga sabar ketemu sama Kamu Vier...!" kata Daeng Payau sambil tersenyum lebar.
" Siaaapp Paman...!" sahut Ranvier lantang hingga membuat keduanya tertawa.
\=\=\=\=\=
Daeng Payau datang menemui Erwin. Tak sulit menemui Erwin karena sebelumnya Erwin telah berpesan pada Galih agar segera mengantar Daeng Payau menemuinya.
" Apa kabar Om...?" sapa Erwin sambil mencium punggung tangan Daeng Payau dengan takzim.
Melihat sikap Erwin pada pria di hadapannya membuat Galih yakin jika sang tamu adalah seseorang yang dihormati oleh Erwin.
" Alhamdulillah baik. Kamu sendiri, gimana keadaanmu...?" tanya Daeng Payau sambil mengusap punggung Erwin beberapa kali.
Erwin nampak meringis sebelum menjawab pertanyaan Daeng Payau.
" Aku ga baik-baik aja Om. Ranvier pasti udah cerita sama Om apa yang terjadi di sini kan...?" tanya Erwin.
" Iya...," sahut Daeng Payau cepat.
" Jadi gimana Om. Bisa kan Om bantu Saya...?" tanya Erwin penuh harap.
" Insya Allah. Sekarang bisa Kamu tunjukkan dimana lokasi kecelakaan itu terjadi...?" tanya Daeng Payau.
Erwin tak menjawab. Ia nampak bingung bagaimana menjelaskan pada Daeng Payau tentang peraturan pabrik yang tak memperbolehkan orang asing masuk ke dalam pabrik, apalagi di saat jam kerja seperti sekarang.
" Bisa Pak. Biar Saya temani Bapak melihat-lihat..., " kata Galih tiba-tiba.
Ucapan Galih membuat Erwin terkejut namun justru membuat Daeng Payau tersenyum.
Kemudian dengan santai Galih membimbing Daeng Payau masuk ke area pabrik tanpa khawatir ditegur sang pengelola pabrik. Mau tak mau Erwin mengikuti dari belakang karena tak ingin terjadi salah paham nanti.
" Jadi apa kesimpulan Bapak sama dengan kesimpulan Saya...?" tanya Galih saat mereka ada di dekat mesin tempat Aini mengalami kecelakaan.
" Keliatannya Kita berada di pihak yang sama. Saya senang karena tak sendirian menangani kasus ini...," sahut Daeng Payau sambil tersenyum.
bersambung
__ADS_1