
Kehidupan Nada selama Ranvier berada di dimensi lain berjalan normal seperti biasa. Meski pun Barong diutus untuk mengawalnya, namun Nada tetap bersikap waspada.
Seperti kali ini. Nada yang sedang berbelanja keperluan kafe merasa dibuntuti oleh seseorang dan itu membuatnya tak nyaman. Berkali-kali Nada menoleh ke belakang untuk memastikan jika sosok yang mengikutinya bukan orang yang bermaksud jahat.
Nada berusaha tenang dan berbelanja dengan santai karena yakin tak akan diserang di depan umum. Setelah semua barang yang dibelinya sudah dikemas dan akan dikirim langsung ke kafe seperti biasa, Nada pun keluar dari toko.
Sebenarnya Nada bisa saja menghubungi toko dan meminta barang langsung dikirim ke kafe. Tapi karena jenuh, Nada sengaja keluar untuk sekedar mencari angin.
Nada terus melangkah sambil mempersiapkan diri. Ia sengaja memilih jalan memutar untuk memancing orang yang mengikutinya tadi keluar menampakkan diri.
Tiba di tempat sepi Nada mempercepat langkahnya lalu berbalik untuk menghadang pelaku yang ternyata adalah seorang pria.
" Apa kabar Nada. Sudah lama tak bertemu ternyata Kamu jadi orang sukses sekarang...," sapa pria itu sambil tersenyum lebar.
" Kalong, jadi Lo yang ngikutin Gue...?!" tanya Nada tak percaya.
" Iya. Kenapa, kaget ya...," sahut Kalong sambil tertawa.
" Ga lucu !. Kenapa Lo ngikutin Gue...?" tanya Nada.
" Gue cuma mau mengenang masa lalu aja. Masa iya Lo lupa waktu Kita sama-sama jadi gelandangan dulu...," sahut Kalong sambil tersenyum penuh makna.
" Oh itu. Gue inget kok. Dan Gue juga masih inget gimana waktu itu Lo ngebius Gue dan mencoba menjual Gue sama laki-laki tua bangka yang udah ngasih Lo duit banyak. Tapi beruntung Allah masih melindungi Gue dan bikin Gue tetep sadar. Jadi Gue bisa kabur dari laki-laki breng**k itu...," kata Nada ketus.
" Yang itu Gue minta maaf Nad. Gue khilaf...," kata Kalong dengan mimik wajah menyesal.
" Ya ya..., Gue udah maafin Lo sejak dulu. Dan waktu itu Kita udah sepakat untuk ga saling ganggu lagi kan. Terus kenapa Lo gangguin Gue sekarang...? " tanya Nada tak suka.
" Gue... Gue butuh uang Nad. Gue lapar dan ga punya kerjaan. Gue minta tolong sama Lo, Gue minta uang Lo sedikit ya Nad. Bisa kan...?" tanya Kalong penuh harap.
" Berapa...?" tanya Nada cepat.
__ADS_1
" Lima puluh juta...," sahut Kalong hingga membuat Nada terkejut.
" Lima puluh juta, Lo g*la ya. Buat apa uang sebanyak itu...?!" tanya Nada gusar.
" Gue banyak keperluan Nad. Lo tau kan harga barang sekarang serba mahal. Ga bakal cukup kalo...," ucapan Kalong terputus karena Nada memotong cepat.
" Gue ga bisa...!" kata Nada tegas.
" Ga bisa atau ga mau...?" tanya Kalong sambil menatap Nada lekat.
" Dua-duanya. Uang segitu besar banget Long...! " sahut Nada.
" Tapi uang segitu ga ada artinya buat Lo Nad. Lo kan kaya, masa pake hitungan sih sama temen sendiri...," kata Kalong kesal.
Ucapan Kalong membuat Nada tersenyum getir.
" Kalo Lo nganggep Gue temen, kenapa Lo jahatin Gue...," sindir Nada.
" Gue kan udah minta maaf. Kenapa ngebahas itu terus sih Nad ?. Lo ga ikhlas ya Maafin Gue dulu...?!" kata Kalong gusar.
" Kalo Gue nolak...?" tanya Kalong.
" Gue juga nolak ngasih uang...," sahut Nada cepat.
" Apa ga bisa mempertimbangkan pertemanan Kita dulu Nad. Anggap aja ini sebagai kompensasi atas masa lalu Kita. Lo ga mau kan kalo keluarga Lo, semua karyawan Lo dan pelanggan kafe Lo tau siapa Lo dulu...?" tanya Kalong.
Nada tersenyum karena sadar jika Kalong sedang berusaha mengancamnya.
" Gue ga peduli. Lo bisa kasih tau mereka semua dan setelah itu Lo yang bakal hancur...," kata Nada dengan santai.
" Lo berani ngancem Gue Nad...?!" tanya Kalong kesal.
__ADS_1
" Lo yang ngancem duluan. Gue cuma mengikuti permainan Lo kok...," sahut Nada sambil menggedikkan bahunya.
Mendapati kenyataan dirinya gagal menekan Nada, Kalong pun marah. Ia mengeluarkan senjata api rakitan dari balik pakaiannya lalu mengarahkannya ke kepala Nada.
Namun saat Kalong menarik pelatuk senapannya, saat itu lah Barong muncul dan langsung menyerangnya.
Nada yang terkejut melihat Kalong mengeluarkan senjata itu pun makin terkejut melihat kehadiran Barong yang tiba-tiba. Apalagi saat itu Barong langsung menyerang Kalong hingga pria itu terjengkang ke tanah.
Kalong yang tak menyangka akan diserang makhluk aneh itu pun panik dan berusaha menembak Barong. Sayangnya peluru itu tak berarti apa-apa untuk Barong. Peluru itu seolah menabrak dinding keras lalu memantul dan berbalik kepada pemiliknya.
Kalong mengerang kesakitan saat peluru mengenai perutnya. Ia menatap nanar kearah Nada seolah memohon agar Barong berhenti menyakitinya. Nada yang mengerti arti tatapan Kalong pun mengangguk lalu memanggil Barong.
" Cukup Barong !. Jangan bunuh dia. Dia... dia temanku...," kata Nada ragu.
Barong pun menghentikan aksinya lalu melompat ke samping Nada seolah ingin memastikan ucapannya. Namun saat melihat Nada menatap Kalong dengan tatapan iba, Barong pun percaya.
" Ingat Kalong !. Setelah ini jangan berani mengancam apalagi nemuin Gue. Kita bukan lagi teman karena teman ga akan menyakiti temannya apalagi sampe berniat membunuhnya segala...," kata Nada sambil menatap Kalong lekat.
" Lo... Lo ga akan biarin Gue mati di sini kan Nad...?" tanya Kalong menghiba.
" Lo ga denger apa yang Gue bilang tadi ?. Kita bukan siapa-siapa lagi, jadi Lo urus diri Lo sendiri karena Gue ga punya kewajiban ngurus Lo...!" sahut Nada ketus.
Ucapan Nada membuat Kalong marah. Ia bergerak cepat meraih senjata api yang tergeletak tak jauh darinya lalu menembakkannya kearah Nada.
Barong pun bergeser ke depan Nada untuk menghadang peluru. Setelahnya ia melompat menyerang Kalong dengan menyabetkan cakarnya kearah leher dan wajah Kalong hingga pria itu melolong kesakitan.
Setelahnya Barong menyambar tubuh Nada dan membawanya pergi entah kemana.
Rupanya jeritan Kalong tadi telah menarik perhatian warga. Mereka berdatangan ke lokasi dan terkejut melihat Kalong mengejang sekarat dengan perut, leher dan wajah bersimbah darah. Beberapa orang yang mengenali Kalong sebagai preman pasar pun hanya mencibir sinis. Bagi mereka apa yang menimpa Kalong seimbang dengan apa yang telah Kalong lakukan selama ini.
Warga masih berkerumun di sana tanpa melakukan sesuatu hingga akhirnya Kalong tewas.
__ADS_1
Sedangkan di saat yang sama Nada nampak duduk di sebuah tempat di ketinggian sambil menatap jauh ke depan. Di belakangnya Barong masih setia menemani sambil membersihkan bercak darah di kedua tangannya.
\=\=\=\=\=