Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
130. Pesan Terakhir Nada


__ADS_3

Kakek Randu duduk dengan gelisah di ruang tengah. Sesekali ia menoleh kearah anak tangga dengan tak sabar. Rupanya ia sedang menunggu Ranvier turun.


Setelah lima belas menit menunggu, Ranvier pun tampak menuruni anak tangga. Pria itu terlihat lebih fresh setelah membersihkan tubuh dan berganti pakaian.


" Ranvier...!" panggil kakek Randu.


" Iya Kek...," sahut Ranvier.


" Ceritakan apa yang terjadi. Harus jujur dan jangan bohong...!" kata kakek Randu.


Ranvier tersenyum lalu duduk di sampimg sang kakek. Ia meraih tangan sang kakek lalu mencium punggung tangannya untuk beberapa saat. Kakek Randu nampak mengerutkan keningnya karena merasa bingung dengan aksi Ranvier kali ini.


" Ada apa Nak...?" tanya Kakek Randu.


" Ga ada apa-apa Kek. Aku hanya mau menetralisir rasa ga nyaman yang Aku rasain aja...," sahut Ranvier.


" Rasa ga nyaman. Apa itu karena Nada...?" tanya kakek Randu.


" Iya Kek...," sahut Ranvier dengan wajah merona.


Namun jawaban Ranvier membuat kakek Randu membulatkan matanya.


" Jangan bilang Kamu terang**ng saat membantu Nada tadi Ranvier...!" kata kakek Randu galak.


" Astaghfirullah aladziim Kakek. Kenapa mikir kaya gitu sih. Aku bukan cowok mes*m ya Kek. Lagian gimana bisa terang**ng ngeliat Nada diselimuti darah hitam berbau busuk kaya gitu...!" sahut Ranvier kesal.


Ucapan Ranvier membuat kakek Randu tertawa kecil. Ia lalu memeluk Ranvier dengan erat sambil memgusap punggungnya.


" Maafkan Kakek ya Nak. Tapi terima kasih telah menyelamatkan Nada tadi. Kamu hebat. Kakek bangga sama Kamu...," kata kakek Randu hingga membuat Ranvier tersenyum.


" Alhamdulillah, sama-sama Kek. Tapi kenapa Kakek bilang terima kasih...?" tanya Ranvier saat sang kakek mengurai pelukannya.


" Tentu harus berterima kasih dong sama orang yang telah menyelamatkan calon Cucu menantuku...," sahut kakek Ranvier sambil menaik turunkan alisnya hingga membuat Ranvier tertawa.


" Tapi Nada belum tau kalo dia bakal diangkat jadi Cucu menantu Kakek...," kata Ranvier mengingatkan.


" Lho kok gitu. Emang Kamu belum melamar dia Vier...?!" tanya kakek Randu.


" Ya belum dong Kek. Belum sempat. Kan Nada masih sakit, masa tiba-tiba Aku ngelamar dia. Yang ada bukannya diterima malah dimaki-maki nanti...," sahut Ranvier.

__ADS_1


" Oh gitu. Tapi Kakek ga percaya kalo Nada bakal nolak Kamu. Soalnya Kakek ngerasa chemistry diantara Kalian tuh kuat banget...," kata Kakek Randu.


" Alhamdulillah kalo Kakek ngeliatnya kaya gitu. Sejujurnya Aku juga ngerasain perasaan kaya gitu saat deket sama Nada Kek...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


Ucapan Ranvier membuat kakek Randu tersenyum bahagia. Kemudian ia mengusak kepala Ranvier dengan lembut hingga membuatnya tertawa.


" Jadi serangan ghaib itu darimana Vier...?" tanya kakek Randu.


" Aku belum terlalu yakin sih Kek. Tapi kalo dari ceritanya Nada, Aku menduga kalo serangan ghaib itu dilakukan orang suruhan Ibu tirinya Nada atau bahkan justru wanita itu sendiri lah yang melakukannya...," sahut Ranvier.


" Kok Kamu seyakin itu...?" tanya kakek Randu gak mengerti.


" Soalnya sakit yang dirasakan Nada itu luar biasa sakitnya Kek. Aku ga yakin kalo cewek lain bakal sanggup nahan sakit sehebat itu. Nada yang terlatih aja hampir nyerah tadi. Setau Aku rasa sakit seperti itu hanya bisa dikirim oleh seseorang yang memiliki dendam kesumat pada korban. Dan orang yang paling berkompeten untuk melakukannya adalah Ibu tirinya Nada alias istri barunya Pak Wijaya...," sahut Ranvier.


" Subhanallah. Dendam kesumat apa yang dimiliki wanita itu sampe tega menyakiti anak semanis Nada...," kata kakek Randu sambil menggelengkan kepalanya.


" Aku juga belum tau Kek. Soalnya Nada masih jaga jarak sama Aku. Keliatannya dia belum percaya kalo Aku, mmm... maksudku Kita. Nada belum percaya kalo Kita ada di pihaknya dan akan membantunya...," sahut Ranvier gusar.


" Kalo itu masalahnya, biar Kakek bantu bicara sama dia nanti...," kata kakek Randu.


" Ga perlu Kek. Aku bisa menghandlenya sendiri. Memang harus sedikit sabar tapi Aku percaya insya Allah Nada akan mengerti dan bisa melihat ketulusanku nanti...," kata Ranvier sambil tersenyum.


Ranvier pun tersenyum kemudian menoleh saat melihat mbok Rah keluar dari kamar tamu.


" Gimana kondisi Nada Mbok...?" tanya Ranvier.


" Alhamdulillah dia udah siuman Mas. Dan dia nyariin Mas Ranvier. Katanya ada yang mau diomongin, penting...," kata mbok Rah sambil tersenyum penuh makna.


" Nyariin Aku, masa sih Mbok...," kata Ranvier tak percaya.


" Beneran Mas...," sahut mbok Rah.


" Udah sana temuin dulu. Bisa-bisanya bikin cewek menunggu. Apa Kamu ga kasian sama Nada yang baru aja dapat serangan ghaib...?" tanya kakek Randu sambil menatap kesal kearah Ranvier.


" Iya Kek...," sahut Ranvier lalu bergegas melangkah menuju kamar tamu.


Ranvier mengetuk pintu lalu membuka pintu. Ia tersenyum saat melihat Nada tersenyum kearahnya.


" Gimana keadaan Kamu Nad...?" tanya Ranvier sambil melangkah masuk ke dalam kamar dan membiarkan pintu tetap terbuka.

__ADS_1


" Buruk...," sahut Nada cepat hingga membuat Ranvier mengerutkan keningnya.


" Kok buruk. Apa serangan ghaib itu datang lagi atau justru efeknya bikin Kamu tambah sakit...?" tanya Ranvier cemas.


" Aku khawatir serangan itu datang lagi. Dan yang membuatku lebih khawatir adalah Ayahku juga dapat serangan yang serupa. Aku yang masih muda dan berada jauh aja sampe kaya gini apalagi Ayahku yang berumur dan berada dekat dengan si penyerang...," sahut Nada gusar.


" Kamu ngomong begitu seolah Kamu udah tau siapa yang melancarkan serangan ghaib itu Nad...," kata Ranvier sambil menatap Nada lekat.


" Aku memang tau dan yakin ini semua ulahnya. Ulah Istri baru Ayahku...!" sahut Nada tegas hingga membuat senyum di wajah Ranvier memudar seketika.


Ada secuil bahagia saat Ranvier merasa tebakannya tepat sasaran dan sama dengan dugaan Nada. Bukan kah itu artinya mereka satu frekwensi dan cocok ?.


" Bagaimana Kamu tau...?" tanya Ranvier penasaran.


" Ini bukan kali pertama Aku dapat serangan kaya gini...," sahut Nada lirih.


" Yang bener Nad...?!" tanya Ranvier.


" Iya. Dan Aku memulihkan diri dari rasa sakit ya cuma dengan menjauh dari Ayah. Itu satu-satunya cara supaya Ayah tetap aman dan ga perlu ngeliat Aku kesakitan...," sahut Nada sedih.


Ranvier menelan saliva dengan sulit mendengar ucapan Nada. Ia merasa iba sekaligus kesal.


" Ran... Ranvier...," panggil Nada gugup hingga membuat Ranvier tersentak lalu menatap kearah kedua netra Nada.


Untuk sejenak Ranvier dan Nada saling menatap dalam diam. Selama tiga hari saling mengenal, baru kali ini Nada menyebut namanya. Terdengar berbeda di telinga Ranvier meski pun Nada menyebut namanya dengan suara bergetar.


" Kenapa Nada...?" tanya Ranvier dengan lembut.


" Jika... jika terjadi sesuatu padaku, bisa kah Kamu temui Ayahku...?" tanya Nada dengan suara tercekat.


" Kenapa harus menunggu sesuatu terjadi dulu untuk menemui Ayahmu. Aku bisa melakukannya sekarang jika Kamu mau...," kata Ranvier mantap.


" Jangan !. Aku... Aku minta tolong sekali saja. Tolong jauhkan Ayahku dari wanita itu. Aku ga ingin Ayahku sakit atau terluka. Walau belakangan ini Ayah membenciku karena menurutnya Aku ini selalu membangkang ucapannya, tapi Aku tetap menyayanginya. Bisakan Ran... vier...?" tanya Nada dengan air mata yang jatuh menganak sungai di pipinya.


Ranvier mengangguk sambil mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Nada. Gadis itu tak menolak. Bahkan ia membiarkan Ranvier menariknya lalu memeluknya erat sesaat kemudian.


Di ambang pintu kakek Randu nampak tak kuasa menahan haru melihat aksi Ranvier itu. Ia memang tak tahu persis isi pesan yang Nada sampaikan kepada Ranvier tadi. Namun kakek Randu yakin keduanya akan bahagia bersama meski pun harus menempuh jalan yang terjal dan berliku.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2