Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
114. Pamit...


__ADS_3

Sementara itu Ustadz Rahman dan Daeng Payau masih setia menunggu Ranvier di gerbang antar dimensi. Jika biasanya keduanya terlihat tenang, kali ini justru keduanya menampakkan gelagat yang berbeda.


Karena tepat di saat Ranvier mengatakan Arcana sebagai calon istrinya, saat itu pula satu ledakan keras melanda ustadz Rahman dan Daeng Payau. Akibat ledakan itu membuat tubuh keduanya terdorong ke belakang. Tak sampai terjatuh namun membuat keduanya saling menatap penuh makna.


" Keliatannya telah terjadi sesuatu Daeng...!" kata ustadz Rahman.


" Betul Ustadz...," sahut Daeng Payau sambil mengusap wajahnya.


" Ini..., maksudku Kita harus pergi Daeng. Keliatannya urusan Ranvier akan memakan waktu yang lumayan lama..., " kata ustadz Rahman gusar.


" Apa Kita ga bisa bertahan sebentar lagi Ustadz...?" tanya Daeng Payau penuh harap.


" Ga bisa Daeng. Kamu tau betul apa yang Kumaksud..," sahut ustadz Rahman yang diangguki Daeng Payau.


" Baik lah. Kita kembali sekarang Ustadz...," kata Daeng Payau.


Kemudian kedua guru spiritual Ranvier itu meninggalkan gerbang dimensi. Saat mereka membuka mata, mereka mendapati ruangan dimana mereka melakukan ritual tampak sunyi. Rupanya Kakek Randu sengaja keluar dari ruangan itu agar tak mengganggu mereka.


Ustadz Rahman dan Daeng Payau pun mengucap hamdalah bersamaan. Kemudian mereka menoleh kearah Ranvier yang masih duduk bersila dengan mata terpejam.


" Apa Kita pergi terlalu lama Daeng...?" tanya ustadz Rahman.


" Tidak. Kita hanya sebentar pergi tadi...," sahut Daeng Payau sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


" Bagaimana dengan Ranvier...?" tanya ustadz Rahman.


" Keliatannya Ranvier sedang berperang melawan hati dan logikanya. Walau saat ini Ranvier sedang menikmati kebersamaannya dengan gadis itu, tapi Aku yakin Ranvier tau jika ia tak bisa melanjutkan hubungan mereka...," sahut Daeng Payau.


" Kasian Ranvier. Dia harus jatuh cinta pada gadis yang berasal dari dimensi yang berbeda. Meski pun sering Kita dengar pernikahan antara manusia dengan jin, tapi Aku tak membenarkan itu. Apalagi Ranvier dan gadis itu memiliki keyakinan yang berbeda...," kata ustadz Rahman dengan wajah sendu.


" Semoga Ranvier bisa segera menyadari kekeliruannya dan kembali kepada Kita secepatnya...," kata Daeng Payau penuh harap.


" Aamiin yaa Robbal'alamiin..., " sahut ustadz Rahman sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Terus apa yang akan Kita katakan sama Pak Randu Ustadz ?. Rasanya Aku ga sampe hati menceritakan apa yang Ranvier alami sekarang...," kata Daeng Payau sambil melirik kearah pintu.


" Jangan bilang apa pun Daeng. Simpan saja cerita itu untuk Kita bertiga. Aku khawatir Pak Randu shock lalu sakit saat mendengar cucu semata wayangnya tertahan di dimensi lain karena jatuh cinta pada salah satu gadis di sana...," sahut ustadz Rahman.


" Baik lah. Aku akan tutup mulut Ustadz...," kata Daeng Payau sambil membuat gerakan mengunci mulut.


Aksi Daeng Payau membuat ustadz Rahman tersenyum sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Waktu pun bergerak lambat. Ustadz Rahman dan Daeng Payau masih setia menemani Ranvier di ruangan itu. Mereka tak pergi kemana pun dan tetap berada di sana. Bahkan sholat fardhu pun mereka lakukan bergantian di ruangan itu.


Beruntung Kakek Randu telah meminta mbok Rah menyiapkan makanan dan minuman di ruangan itu hingga ustadz Rahman dan Daeng Payau masih bisa mengisi perut.


" Kalo sampe Maghrib Ranvier ga kembali, Kita terpaksa menjemputnya Ustadz...," kata Daeng Payau sambil mengusap mulutnya dengan tissu.


" Iya, Aku setuju Daeng...," sahut ustadz Rahman sambil menggerakkan tasbih di tangannya.


Ustadz Rahman dan Daeng Payau pun kembali mengamati Ranvier sambil terus berdzikir dalam hati.


Tiba-tiba tubuh Ranvier nampak bergetar. Ustadz Rahman dan Daeng Payau pun bergegas mendekat.


" Ranvier...!" panggil Daeng Payau namun Ranvier masih membisu dan memejamkan matanya.


" Assalamualaikum Ranvier...!" kini giliran ustadz Rahman yang memanggil.


Sama seperti sebelumnya, Ranvier hanya membisu namun tampak sedikit lebih tenang. Setelahnya Ranvier kembali bernafas dengan normal dengan posisi tubuh yang tak berubah.


" Apa yang terjadi Daeng...?" tanya ustadz Rahman.


" Keliatannya Ranvier sedang melakukan sesuatu di sana. Aku belum tau pasti apa yang dia lakukan karena Kita kan ga di sana...," sahut Daeng Payau sambil terus mengamati Ranvier.


" Mmm..., mudah-mudahan sih dia gapapa. Kita tunggu sebentar lagi. Kalo Ranvier ga balik juga, terpaksa Kita jemput dia Ustadz...," sahut Daeng Payau cepat.


" Maksudmu Kita majukan waktu penjemputannya Daeng...?" tanya ustadz Rahman.


" Iya Ustadz. Aku khawatir kalo kelamaan di sana Ranvier justru berat untuk pulang. Kalo Kita datang menjemput, mau ga mau dia pasti ikut pulang...," sahut Daeng Payau yang diangguki ustadz Rahman.


Sementara itu di dimensi lain.


Ranvier dan Arcana tengah berjalan bersama menyusuri tepian jalan raya sambil saling menautkan jari. Sebelumnya mereka telah mendapat nasehat panjang dari Kyai Ranggana.


Kyai Ranggana berusaha meyakinkan Ranvier jika hubungannya dengan Arcana tak mungkin berlanjut.


" Aku senang karena ada pria sebaik Kamu yang mencintai Anakku. Tapi Aku juga sedih karena tak bisa mengijinkan Kalian bersatu. Maaf...," kata Kyai Ranggana.


" Aku tau Kyai. Terima kasih telah percaya pada ketulusan cintaku dan maafkan Aku karena telah membuat hati Arcana terluka...," kata Ranvier dengan wajah sendu.


" Iya Ranvier. Andai Kamu tak memiliki dua guru spiritual yang hebat, mungkin dengan mudah Aku bisa mengajakmu tinggal di sini. Tapi mereka telah membentengimu dengan kekuatan yang tak Ku mengerti hingga membuatku sulit menarikmu ke dunia Kami...," kata Kyai Ranggana.

__ADS_1


" Itu Ustadz Rahman dan Paman Daeng Payau. Mereka memang selalu membimbing dan membantu mengingatkan Aku saat Aku lengah Kyai...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Ya ya, mereka orang baik Ranvier. Tolong sampaikan salamku untuk mereka...," kata Kyai Ranggana dengan tulus.


" Insya Allah akan Aku sampaikan nanti...," sahut Ranvier.


Usai Ranvier menyebut kata suci itu, angin panas pun berhembus kencang hingga membuat Kyai Ranggana beserta anak dan istrinya meringis kesakitan. Sadar telah melakukan kesalahan, Ranvier pun meminta maaf.


" Maaf...," kata Ranvier tak enak hati.


" Tak apa. Bukan ingin mengusirmu, tapi sekarang waktumu sudah hampir habis, jadi pergi lah Nak...," kata Kyai Ranggana dengan lembut.


" Apa Aku boleh berkunjung lagi ke sini suatu saat nanti...?" tanya Ranvier.


" Tentu. Kamu tau pintu rumah Kami selalu terbuka untukmu...," sahut Kyai Ranggana sambil tersenyum.


" Dan jika Aku pergi, bagaimana nasib Arcana. Apa dia... tak akan menikah...? " tanya Ranvier hati-hati sambil melirik kearah Arcana.


" Jangan pikirkan itu Ranvier. Arcana gadis yang cantik, pintar dan tangguh. Masih banyak pria yang menginginkan dia untuk dijadikan pendamping...," sahut Kyai Ranggana dengan bangga.


Mendengar jawaban Kyai Ranggana membuat emosi Ranvier terpancing. Ada rasa cemburu yang Ranvier rasakan. Dan untuk mengendalikan perasaannya itu Ranvier pun mengepalkan kedua tangannya dengan kuat hingga tubuhnya bergetar seperti yang disaksikan ustadz Rahman dan Daeng Payau tadi.


Menyadari kemarahan Ranvier membuat Arcana tersentuh. Diam-diam Arcana menyentuh punggung Ranvier dan mengusapnya lembut. Tindakan Arcana berhasil mengurai emosi Ranvier. Ia pun menoleh kearah Arcana sambil tersenyum.


" Aku baik-baik saja Arcana...," kata Ranvier lirih.


" Syukur lah. Maafkan Ayahku, beliau tak bermaksud menyinggung perasaanmu Ranvier...," sahut Arcana dengan mata berkaca-kaca.


" Aku tau...," sahut Ranvier sambil tersenyum kecut.


Dan setelah berpamitan dengan Kyai dan Nyai Ranggana, Ranvier pun bergegas pergi menuju gerbang antar dimensi. Kyai Ranggana mengijinkan Arcana mengantar Ranvier karena paham ada hal yang ingin mereka bicarakan nanti.


" Di seberang danau itu lah gerbang yang Aku ceritakan tadi Arcana...," kata Ranvier sambil menunjuk ke sebrang danau.


Arcana mengangguk lalu menatap Ranvier lekat. Kemudian Arcana mendekatkan wajahnya lalu mengecup pipi Ranvier sejenak sambil berbisik.


" Pergi lah Ranvier, pergi lah Sayang..., " bisik Arcana dengan suara bergetar dan air mata berderai.


Ranvier pun memeluk Arcana sekali lagi. Mengecup kening dan wajahnya untuk yang terakhir kali lalu bergegas pergi dengan mata yang basah.


Saat tiba di gerbang antar dimensi terlihat ustadz Rahman dan Daeng Payau menyambut Ranvier. Dan tanpa menoleh lagi ketiganya pun pergi lalu hilang begitu saja dari pandangan Arcana.

__ADS_1


Arcana tersenyum melepas kepergian Ranvier sambil terisak. Perlahan Arcana menghapus air matanya lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan pelan menyusuri tepi jalan raya untuk kembali ke rumah orangtuanya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2