
Ibu Tomi pun menoleh saat salah seorang tetangga menyentuh bahunya dan bertanya. Kemudian wanita itu menunjuk ke dalam rumah dimana Tomi dan ayahnya tengah bergeser menjauh dari ular besar berwarna hitam kuning itu.
" Ular apa Pak...?" tanya tetangga Tomi.
" Ular sendok Pak...," sahut ayah Tomi gusar.
" Waaahh..., bahaya nih. Ayo Kita tangkap...!" ajak warga bersahutan.
" Hati-hati dipatuk. Bisanya beracun lho...!" kata salah seorang warga mengingatkan.
" Siap Pak...!" sahut warga lainnya.
" Kalo ketangkap jangan diapa-apain ya Pak. Buang aja ke bukit biar ga timbul masalah baru nanti...," kata ayah Tomi mengingatkan.
" Iya...!" sahut warga bersamaan.
Warga pun dengan sigap membantu menangkap ular itu. Berkat kerjasama yang baik, ular kobra itu pun berhasil ditangkap dan dimasukkan ke dalam karung.
" Alhamdulillah..., akhirnya ketangkep juga...," kata warga sambil tersenyum puas.
" Padahal badannya besar tapi gesit banget ya...," kata seorang warga sambil menghapus peluh di keningnya.
" Iya. Untung Kita banyak, jadi ularnya takut karena kalah jumlah kayanya...," gurau seorang warga disambut tawa semua orang.
" Kok bisa-bisanya ada ular di dalam rumah. Padahal kampung ini udah lama ga didatangin ular lho...," kata tetangga Tomi sambil menatap kearah Ranvier dengan tatapan curiga.
" Betul. Jangan-jangan ada yang udah melanggar pantangan di kampung Kita dengan bersiul di dalam rumah...," sela warga lainnya sambil menatap kesal kearah Ranvier.
Wajah Ranvier pun nampak memucat. Ia khawatir dihakimi warga karena telah menjadi penyebab datangnya ular kobra berukuran besar itu.
" Yah mana Kami tau. Mungkin ular itu lagi nyari sarang baru karena sarangnya rusak. Kan belum lama warga kampung Kita panen besar-besaran...," kata ayah Tomi dengan tenang.
" Masuk akal sih. Kemarin lagi panen di ladang Pak Wid Kami juga nemuin banyak telur. Keliatannya sih telur ular. Mungkin yang ini induk ular yang kemarin telurnya ada di ladangnya Pak Wid...," kata salah satu tetangga menengahi.
" Oh iya, Saya dan beberapa warga juga liat kok...," sahut warga lainnya.
Ranvier dan keluarga Tomi pun nampak menghela nafas lega karena warga tak menyalahkan mereka atas datangnya ular kobra itu.
__ADS_1
" Makasih ya Bapak-bapak..., " kata ayah Tomi dengan tulus.
" Sama-sama Pak. Mungkin ular itu lapar dan mengincar kambing Bapak di halaman belakang. Coba dicek, mudah-mudahan ular itu belum sempat makan kambingnya Bapak Tomi...," kata warga sebelum berlalu.
" Iya, nanti Saya cek Pak. Makasih sekali lagi...," kata ayah Tomi.
Warga pun mengangguk lalu membubarkan diri satu per satu. Tak lama kemudian Tomi dan salah seorang tetangga pergi membuang ular kobra besar itu ke bukit.
" Alhamdulillah Ya Allah. Untung ketauan ya Pak. Ibu ga bisa bayangin kalo ular itu masuk ke kamar dan menyerang pas Kita lagi tidur...," kata ibu Tomi sambil memijit pelipisnya.
" Iya Bu...," sahut ayah Tomi sambil tersenyum kecut.
" Jadi pantangan itu bener. Aku minta maaf ya Pak Bu. Gara-gara Aku rumah ini didatangin ular. Andai Aku ga siul-siul kemarin pagi, pasti ular itu ga datang ke sini...," kata Ranvier tak enak hati.
" Udah gapapa. Ini cuma kebetulan aja kok. Yang penting sekarang Kamu bisa belajar memahami bahwa tiap daerah punya adat istiadat dan aturan yang berbeda. Kadang terdengar ga masuk akal, tapi hargai aja. Semua larangan dan pantangan itu kan dibuat demi kebaikan Kita juga...," kata ayah Tomi bijak.
" Iya Pak...," sahut Ranvier lirih.
Kedua orangtua Tomi nampak tersenyum melihat Ranvier menundukkan kepala. Dalam hati mereka bersyukur karena ular itu tak melukai Ranvier. Bagaimana pun Ranvier adalah tamu di rumah mereka. Tentu saja mereka berharap bisa memberi yang terbaik dan bukan justru membahayakan Ranvier.
\=\=\=\=\=
" Tapi kenapa Kek ?. Ini baru empat hari lho Kek. Kan Kakek bilang Aku boleh liburan selama seminggu. Asal ditemenin sama Bang Tomi kemana pun boleh...," kata Ranvier mengingatkan sang kakek.
" Iya Kakek tau. Tapi ini ada hal penting Vier. Kamu pulang dulu ya. Kakek udah bilang sama Tomi supaya siap-siap..., " sahut kakek Randu.
Ranvier tahu jika ucapan sang kakek adalah perintah yang tak bisa dibantah. Dengan enggan Ranvier mengiyakan permintaan sang kakek.
" Kakekmu telephon ya Vier...?" tanya ayah Tomi tiba-tiba.
" Iya Pak. Aku disuruh pulang cepet. Padahal belum seminggu liburan dan Aku masih betah di sini...," sahut Ranvier sambil cemberut.
" Sebaiknya turuti dulu permintaan Kakekmu. Pasti ada yang penting makanya beliau minta Kamu pulang secepatnya. Bapak dengar Kakekmu sangat menyayangi Kamu ya. Mungkin beliau kangen sama Kamu...," bujuk ayah Ranvier sambil tersenyum.
" Iya Pak. Kalo gitu Aku siap-siap dulu ya...," kata Ranvier sambil beranjak ke kamar untuk membereskan pakaian dan perlengkapan pribadi yang dibawanya.
" Jadi Tomi harus balik lagi Pak. Padahal Ibu juga masih kangen sama dia...," kata ibu Tomi lirih.
__ADS_1
" Iya Bu. Tomi itu kan lagi kerja, jadi jangan diganggu sama rengekan Kamu yang ga perlu itu Bu...," gurau ayah Tomi.
" Aku ga merengek kok. Aku cuma masih kangen sama Tomi. Emang ga boleh ya kangen sama anak sendiri...," kata ibu Tomi.
" Insya Allah Tomi pulang lagi pas dapat cuti nanti Bu...," sela Tomi dari ambang pintu kamar.
Wajah Ibu Tomi tampak berbinar bahagia mendengar janji sang anak.
" Jangan lupa oleh-olehnya ya Tom...," kata ibu Tomi.
" Siap. Emangnya Ibu mau dibawain oleh-oleh apaan...?" tanya Tomi.
" Menantu perempuan...," sahut ibu Tomi cepat.
" Menantu perempuan, maksud Ibu tuh apaan sih...?" tanya Tomi tak mengerti.
" Istri Tom, Ibu minta Kamu cari pasangan buat jadi istri. Masa gitu aja ga ngerti...," kata ayah Tomi sambil menggelengkan kepala.
" Oohh itu. Kalo itu mah ntar dulu deh Bu. Aku masih pengen sendiri. Lagian Aku baru kerja dan lagi nabung biar bisa bangun rumah Kita. Aku kan laki-laki, jadi urusan betulin rumah ya jadi tanggung jawab Aku. Ya walau ada Kakak, tapi kan dia juga harus ngurus keluarganya sekarang. Rencananya sebelum nikah, Aku betulin rumah dulu Bu...," kata Tomi hati-hati.
Ucapan Tomi membuat kedua orangtuanya terharu, keduanya nampak tersenyum bangga.
" Tapi jangan terlalu ngoyo kerjanya ya Tom. Ingat, Kamu juga harus mikirin masa depan Kamu. Ibu ga mau Kamu terlalu fokus kerja sampe lupa cari pasangan...," kata ibu Tomi sambil tersenyum.
" Insya Allah siap Bu. Sekarang Aku pamit ya. Ini ada sedikit uang titipan dari Kakeknya Ranvier. Mudah-mudahan bermanfaat buat Ibu dan Bapak...," kata Tomi sambil menyerahkan amplop coklat berisi uang.
" Kapan Kakek kirim uang Bang...?" tanya Ranvier dari belakang Tomi.
" Kemarin waktu Kita di Gili Trawangan. Kakek Kamu kirim uang khusus buat Ibu sama Bapaknya Abang...," sahut Tomi sambil menoleh kearah Ranvier.
" Ya Allah, ini banyak banget. Tolong sampaikan terimakasih Kami sama Kakekmu ya Vier...," kata ibu Tomi dengan mata berkaca-kaca.
" Iya Bu. Makasih juga udah mau nerima Aku, maaf kalo ngerepotin. Sekarang Aku pamit ya. Assalamualaikum..., " kata Ranvier sambil mencium punggung tangan kedua orangtua Tomi bergantian.
" Wa alaikumsalam..., hati-hati ya anak-anak...," kata kedua orangtua Tomi bersamaan.
" Siap Pak Bu...," sahut Tomi dan Ranvier sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Tomi dan Ranvier tampak telah dijemput oleh sebuah mobil di depan rumah. Tak lama kemudian mobil melaju cepat meninggalkan desa dengan satu tujuan yaitu bandara Zainuddin Abdul Madjid.
bersambung