Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
62. Menjalankan pesan


__ADS_3

Setelah sepakat dengan Anthoni dan Mark, maka Ranvier melanjutkan komunikasinya dengan arwah Albert.


Anthoni berkali-kali mengusap matanya yang basah. Ia hampir tak sanggup membayangkan arwah anak yang ia sayangi, ada bersamanya dan tengah memperlihatkan rasa sakit karena terganjal urusan yang belum selesai. Anthoni bertekad membantu menyelesaikan semuanya agar arwah Albert bisa pergi dengan tenang.


" Silakan dimulai Ranvier. Saya siap mendengarnya..., " kata Anthoni.


" Baik Tuan...," sahut Ranvier.


Untuk sejenak suasana di dalam ruangan kembali hening. Mark dan Anthoni nampak mengamati Ranvier dengan intens. Mereka kagum dengan kemampuan anak muda di hadapan mereka itu.


Saat itu Ranvier terdiam lalu sesekali menganggukkan kepala seolah mengiyakan sesuatu.


" Albert bilang dia punya tabungan Tuan Anthoni..., " kata Ranvier tiba-tiba hingga membuat Anthoni terkejut.


" Tabungan apa...?" tanya Anthoni.


" Uang dan sedikit emas. Albert menyimpannya di kotak. Mmm..., sepertinya kotak rahasia yang hanya dia dan Anastasya yang tau. Keliatannya itu tabungan masa depan yang sengaja Albert siapkan sebelum ia menikahi Anastasya..., " sahut Ranvier.


Mark dan Anthoni saling menatap sejenak kemudian menoleh kearah Ranvier.


" Aku percaya itu. Anakku memang hebat. Dia tak peduli ejekan keluarga Anastasya karena dia memilih membuktikan nanti daripada banyak bicara...," kata Anthoni dengan air mata berderai yang tak lagi mampu ia kuasai.


" Sekarang Kita hanya bisa berharap pada Anastasya. Karena hanya dia yangvbisa menunjukkan dimana kotak itu berada. Tapi Kita ga akan pernah bisa melihatnya jika saat Anastasya siuman nanti dia justru kehilangan ingatannya...," kata Mark sambil menatap Anastasya dengan tatapan iba.


" Kamu benar Mark. Tapi Saya tak terlalu berharap akan mendapat bagian dari harta itu. Tabungan Albert adalah miliknya. Terserah dia bagaimana mau menggunakannya nanti...," kata Anthoni.


" Tapi Albert ingin membaginya dengan Kalian dalam jumlah yang sama banyak Tuan Anthoni..., " sela Ranvier.


" Jujur Aku tak menginginkannya Ranvier. Aku ga akan sanggup menyimpannya karena akan membuatku teringat terus sama dia. Bisakah Kamu katakan itu padanya...?" tanya Anthoni penuh harap.


" Albert sudah dengar Tuan. Tapi dia juga bersikeras dengan keinginannya itu. Albert minta agar Tuan Mark mebantunya membagi dua tabungannya itu. Setengah untuk orangtuanya dan sisanya untuk Anastasya. Saran Saya, Anda terima saja Tuan. Bukan kah Kita di sini untuk membantunya agar bisa segera pergi ke tempat seharusnya dengan cepat...," sahut Ranvier.


" Itu betul Tuan Anthoni. Sekarang bicara lah langsung dengan Albert sebelum dia benar-benar pergi...," bisik Mark.


Anthoni menoleh kearah Ranvier yang saat itu juga tengah menatap kearahnya. Ia melihat Ranvier mengangguk pertanda menyetujui ucapan Mark.


" Albert ada di depanmu Tuan...," kata Ranvier hingga mengejutkan Anthoni.


Pria itu bangkit dari duduknya lalu perlahan mengulurkan tangannya seperti yang Anastasya lakukan tadi. Dia tampak kesulitan bicara karena desakan air mata yang berlomba ingin keluar.

__ADS_1


Saat itu Anthoni merasakan udara hangat menyapanya, mengalir perlahan hingga ke bagian siku. Kemudian Anthoni memejamkan matanya sambil membayangkan sang anak berdiri di hadapannya lalu mengatakan sesuatu.


" Baik lah. Aku... Aku terima pemberianmu Nak. Aku janji akan menggunakannya sebaik mungkin. Terima kasih karena telah hadir dalam hidup Kami. Kamu selalu membuat Aku dan Ibumu bangga dan bahagia hingga di detik terakhir hidupmu. Kami sayang padamu Albert Anthoni Hudson...," kata Anthoni dengan suara bergetar.


Ranvier tersenyum saat menyaksikan arwah Albert tersenyum. Sesuatu terjadi padanya. Jika sebelumnya Albert selalu datang dengan wajah pucat dan kemeja kesayangannya, perlahan semuanya berubah.


Ranvier melihat Albert diliputi cahaya putih menyilaukan. Wajah Albert pun tampak berbinar bahagia.


Albert nampak memeluk sang ayah dengan erat. Setelahnya arwah Albert menghampiri sang ibu. Mengecup wajahnya dengan sayang lalu memeluknya dengan erat. Kemudian arwah Albert melayang cepat menghampiri Anastasya.


" Aku mencintaimu Anastasya...," bisik Albert sambil mengecup kening gadis itu.


Terakhir Albert menghampiri Ranvier lalu berdiri tepat di depannya.


" Terima kasih Ranvier. Aku siap sekarang...," kata arwah Albert.


" Sama-sama. Pergi lah Albert...," sahut Ranvier.


Arwah Albert mengangguk lalu perlahan lenyap begitu saja.


" Albert sudah pergi Tuan...," kata Ranvier sesaat kemudian.


Anthoni hampir terjatuh namun beruntung Mark sigap menangkap tubuhnya. Kemudian Mark membantu mendudukkan Anthoni di sofa.


" Apa itu artinya Albert sudah pergi dengan tenang...?" tanya Mark.


" Betul Tuan...," sahut Ranvier.


" Syukur lah. Apa Anda baik-baik saja Tuan Anthoni...? " tanya Mark sambil menatap Anthoni lekat.


" Aku gapapa Mark...," sahut Anthoni sambil tersenyum.


" Itu bagus. Jujur Saya ga akan sanggup membawa Anda dan istri Anda sekaligus karena tubuh Anda berdua yang jumbo ini...," gurau Mark sambil tersenyum.


Mendengar ucapan Mark membuat Anthoni tertawa. Ia juga menepuk bahu Mark beberapa kali. Melihat ketegangan diantara Mark dan Anthoni mencair Ranvier pun ikut tertawa.


\=\=\=\=\=


Dari kejauhan Ranvier nampak mengamati empat orang yang berdiri di depan makam Albert. Mereka adalah Nyonya Maureen, Anthoni, Anastasya dan Mark.

__ADS_1


Hari itu adalah hari dimana Anastasya diijinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Karena tak ada keluarga yang menjemput, maka kedua orangtua Albert yang datang menjemput ditemani Ranvier dan Mark.


Setelahnya mereka pergi mengunjungi makam Albert. Ranvier memilih menunggu di luar makam untuk memberi kesempatan mereka mendoakan Albert.


" Albert Sayang. Aku telah menjalankan pesanmu. Aku telah membagi dua harta peninggalanmu berupa uang dan emas itu dengan kedua orangtuamu. Aku..., Aku berterima kasih karena Kamu masih mencintaiku di akhir hayatmu. Aku bahagia menerima cintamu...," kata Anastasya sambil terisak.


" Kami janji akan menjaga hubungan ini. Meski pun Kamu dan Anastasya tak berjodoh, tapi Kami akan menyayangi Anastasya seperti Kami menyayangimu Nak...," kata Nyonya Maureen dalam hati.


Kemudian Anthoni memimpin doa untuk Albert. Angin berhembus sejuk saat mereka selesai berdoa.


Kini keempat orang tersebut tengah melangkah bersama menuju gerbang pemakaman dimana Ranvier berdiri menunggu.


" Apa Kamu sudah punya kekasih Mark...?" tanya Anthoni tiba-tiba.


" Saat ini Saya sedang tak punya kekasih. Kenapa Tuan...?" tanya Mark sambil menoleh kearah Anthoni.


" Saya pikir Saya bisa menitipkan Anastasya padamu...," sahut Anthoni sambil melirik kearah Anastasya.


" Tapi Aku bukan barang yang bisa dititip Tuan Anthoni...," sahut Anastasya pura-pura marah hingga membuat semua orang tertawa.


" Tapi Aku setuju dengan apa yang Anthoni katakan. Kenapa Kalian ga mencoba mengenal dan menjalin hubungan. Padahal Kalian terlihat cocok. Toh Kalian sama-sama single...," sela Nyonya Maureen.


" Apa...?!" tanya Mark dan Anastasya bersamaan lalu saling menatap dengan tatapan malu-malu.


" Lihat Sayang. Mereka berdua lucu sekali ya. Saat bicara kompak, pas menghindar pun kompak. Aku merasa bersama mereka suasana jadi seru. Bukan begitu Sayang...?" tanya Anthoni sambil tertawa.


" Betul Sayang. Kalo mereka menikah pasti bakal lebih seru lagi...," sahut Nyonya Maureen ikut tertawa.


Ucapan Anthoni dan istrinya membuat Mark dan Anastasya salah tingkah. Dan itu membuat Nyonya Maureen bahagia.


" Jangan bicara seperti itu Tuan, Nyonya. Aku ga mau disangka memanfaatkan situasi untuk mendekati Anastasya...," kata Mark tak enak hati.


" Kami hanya bergurau Mark. Tapi kalo itu benar terjadi dan Kalian menikah, Kami adalah orang pertama yang akan bahagia...," kata Nyonya Maureen diangguki suaminya.


Mendengar ucapan Nyonya Maureen membuat Mark tersenyum.


Setelah mengamati dan dekat dengan Anastasya beberapa hari ini, Mark memang tertarik dengan gadis itu. Namun Mark sadar jika Anastasya butuh waktu agar bisa menerima kehadirannya untuk menggantikan Albert.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2