
Sedangkan di dalam ruangan sepeninggal Erwin dan Riska.
Wijaya nampak menatap lekat Ranvier yang masih merangkul Nada. Ia menunggu beberapa saat dan berharap kedua sejoli itu sadar dengan kehadirannya di ruangan itu. Namun sayangnya setelah menunggu beberapa saat Ranvier dan Nada masih diam sambil saling menatap.
" Ehm...!. Apa ga ada sesuatu yang ingin Kalian bicarakan...?!" tanya Wijaya lantang hingga mengejutkan Nada dan Ranvier.
Nada dan Ranvier pun saling mengurai pelukan dengan gugup.
" Maaf Pak Wijaya. Saya bisa jelaskan semuanya...," kata Ranvier.
" Ok, Saya tunggu penjelasan Anda Pak Ranvier...," sahut Wijaya sambil menarik kursi lalu duduk di hadapan Ranvier.
Melihat ayahnya mencoba menekan Ranvier, Nada pun tak tinggal diam. Ia mendekati ayahnya lalu menarik kursi lain dan duduk di samping sang ayah.
" Jangan galak-galak dong Yah...," pinta Nada setengah berbisik.
" Kenapa Ayah ga boleh galak sama pria yang akan membawa anak Ayah pergi...?" tanya Wijaya sambil menatap Nada dan Ranvier bergantian.
Ucapan Wijaya membuat Ranvier tersenyum maklum. Ia pun menarik kursi lain dan duduk tepat di hadapan Wijaya.
" Begini Pak Wijaya. Mari Kita lupakan sejenak status Kita sebagai rekan bisnis. Saya duduk di sini sebagai Ranvier, hanya Ranvier tanpa embel-embel lainnya. Saya pria dewasa yang mapan dan bertanggung jawab. Saya jatuh hati pada seorang gadis bernama Nada Kiara Wijaya yang kebetulan adalah putri tunggal Bapak...," kata Ranvier menjeda kalimatnya lalu menatap Nada dengan tatapan penuh cinta.
Nada pun membalas tatapan Ranvier sambil tersenyum manis hingga membuat Wijaya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.
" Ehm..., lanjutkan...!" pinta Wijaya lantang hingga mengejutkan Ranvier dan Nada.
" Dan Saya di sini ingin meminta ijin untuk menyunting putri Bapak ini menjadi Istri Saya. Insya Allah Saya akan membahagiakan Nada nanti...," kata Ranvier mantap.
" Dan menjadikan dia satu-satunya Istrimu...," sela Wijaya cepat.
" Dan menjadikan Nada sebagai satu-satunya Istri yang Saya nikahi di dunia ini...," sahut Ranvier cepat.
Sikap tenang Ranvier saat mengucapkan kalimat itu membuat Wijaya dan Nada terhipnotis sejenak. Sesaat kemudian keduanya tersenyum. Namun bukannya bergegas menjawab permohonan Ranvier tadi, Wijaya justru sengaja mengulur waktu hingga membuat Ranvier menunggu.
Nada yang gemas melihat sikap ayahnya itu pun terpaksa mencubit lengan sang ayah hingga pria itu terkejut.
" Ayaaahhh...," panggil Nada gemas.
" Adduuuhhh..., kok nyubit sih...?!" tanya Wijaya sambil mengusap lengannya yang terasa panas akibat cubitan Nada.
" Abisnya Ayah gitu..., " sahut Nada kesal.
" Gitu apa sih Nak...?" tanya Wijaya pura-pura tak mengerti.
" Jawab dong Yah. Kenapa diem aja sih ?. Bang Ranvier udah ngomong baik-baik tadi tapi Ayah malah cuek aja...," rengek Nada hingga membuat Wijaya tersenyum.
__ADS_1
" Jadi Kamu maunya Ayah jawab apa...?" tanya Wijaya.
" Ayah pasti udah tau jawabnya...," sahut Nada sambil membuang tatapannya kearah lain karena malu.
" Oohh..., jadi Kamu juga suka juga sama cowok itu...?" tanya Wijaya.
" Iya...," sahut Nada malu-malu.
" Dan Kamu mau nikah sama dia walau pun bakal banyak cewek-cewek di luar sana yang ngejar-ngejar dia dan bikin Kamu sakit kepala nanti...?" tanya Wijaya.
" Kok Ayah ngomong gitu sih !. Harusnya Ayah doain supaya Aku dan Bang Ranvier bahagia, bukan malah nyumpahin bakal ada orang ketiga nanti...!" sahut Nada gusar.
Ucapan Nada membuat Wijaya tertawa keras. Sedangkan Ranvier tampak tersenyum melihat interaksi Nada dan Wijaya yang kembali mencair itu.
" Kalo kaya gini Ayah angkat tangan deh. Ayah nyerah. Ayah ga punya hak menolak karena ternyata anak Ayah sendiri juga mau dinikahi sama pria mapan dan bertanggung jawab di depan Ayah ini...," kata Wijaya di sela tawanya.
Ucapan Wijaya membuat Nada bahagia, ia pun menghambur memeluk sang ayah hingga membuat Wijaya terharu. Masih dengan posisi memeluk Nada, Wijaya pun menjawab permintaan Ranvier tadi.
" Baik lah Ranvier, Saya terima pinangan tak resmi ini. Saya harap pinangan resmi akan segera menyusul nanti...," kata Wijaya sambil tersenyum.
" Alhamdulillah..., makasih Pak. Insya Allah Saya dan Kakek akan segera datang untuk melamar Nada secara resmi secepatnya..., " sahut Ranvier sambil menjabat tangan Wijaya dengan erat.
" Bagus. Saya tunggu yaa...," kata Wijaya.
" Panggil Saya Ayah aja, biar enak dengernya. Toh sebentar lagi Kita akan jadi keluarga...," pinta Wijaya.
" Baik Ayah...," sahut Ranvier sambil tersenyum bahagia.
Kemudian Wijaya merentangkan satu tangannya yang lain pertanda ia ingin memeluk Ranvier. Tanpa membuang waktu, Ranvier pun masuk ke dalam pelukan Wijaya hingga ketiganya pun tertawa bahagia.
Saat Erwin masuk ke dalam ruangan ia dibuat terkejut melihat tiga orang yang ia tinggalkan tadi kini tengah saling memeluk. Erwin pun tersenyum karena tahu apa yang telah terjadi. Namun saat melirik kearah meja, Erwin nampak kecewa.
" Ehm !. Maaf bukan bermaksud ganggu. Emangnya Kalian ga lapar ya. Makanannya keburu dingin lho...!" kata Erwin mengingatkan.
Semua tersentak kaget, menoleh kearah Erwin lalu kearah meja.
" Biar Aku pesenin yang baru ya...," kata Nada tak enak hati sambil mengeluarkan ponsel dari saku bajunya.
" Ga perlu Sayang. Kita makan ini aja. Mubazir kalo ga dimakan...!" sahut Ranvier cepat.
" Tapi...," ucapan Nada terputus saat Ranvier memotong cepat.
" Ini ga dingin banget kok. Masih hangat dan masih bisa dimakan. Kalo Kamu ga percaya, Kita makan sekarang ya...," kata Ranvier sambil menghadapkan Nada ke meja makan.
Kemudian dengan sigap Ranvier mengambil beberapa makanan yang tersaji di atas meja lalu menyuapi Nada.
__ADS_1
" Kamu juga makan dong...," pinta Nada sambil mengambil alih sendok di tangan Ranvier dan balik menyuapi Ranvier.
Tindakan Nada dan Ranvier membuat hati Wijaya menghangat. Dalam hati ia bersyukur karena masih bisa menyaksikan kebahagiaan Nada.
\=\=\=\=\=
Setelah Wijaya menyatakan kesiapannya menerima lamaran Ranvier, maka di hari yang ditentukan Kakek Randu dan rombongan pun datang ke rumah Wijaya untuk mengadakan lamaran resmi.
Wijaya nampak antusias dan gembira. Apalagi saat ini Nada telah kembali ke rumah dan tinggal bersamanya. Bi Siti yang semula pulang kampung pun bersedia datang hanya untuk menyaksikan hari bahagia Nada.
" Rombongan Mas Ranvier udah datang Pak...," lapor security di rumah Wijaya.
" Oh ya. Ayo Kita sambut mereka...," sahut Wijaya.
" Aku ikut kan Yah...?" tanya Nada.
" Ga usah. Kamu tunggu di kamar sama Bi Siti. Tunggu Ayah panggil, baru Kamu keluar. Paham kan Nak...?" tanya Wijaya.
" Iya Ayah...," sahut Nada pasrah.
Bi Siti yang ada di samping Nada nampak tersenyum. Ia tahu sang majikan harus kembali menahan rindu setelah hampir dua minggu tak bertemu dengan Ranvier atas permintaan Wijaya.
" Biar pas jadi pengantin nanti keliatan manglingi...," sahut Bi Siti tiap kali Nada bertanya apa alasan ayahnya menahannya seperti ini.
Dan pertemuan dua keluarga pun terjadi. Erwin dan Akmal yang hadir mendampingi Ranvier tak hentinya menggoda Ranvier hingga pria itu malu.
" Cieee... cieee..., yang mau jadi penganten mah beda. Mukanya bersinar kaya bulan...," kata Akmal.
" Apaan sih Lo. Bulan kan geradakan. Masa muka Gue yang kinclong dan rata disamain sama bulan...," gerutu Ranvier.
" Itu kan cuma perumpamaan Vier. Sensi amat sih Lo...," kata Akmal sambil tersenyum.
" Maklum Mal, udah dua minggu ga ketemu Nada jadi bawaannya sewot terus...," kata Erwin hingga membuat Akmal tertawa.
" Biar ga ketemu tapi kan bisa video call. Sama aja lah...," sahut Akmal.
" Sayangnya ga boleh juga sama Pak Wijaya. Makanya Ranvier uring-uringan kaya gitu...," kata Erwin sambil tertawa disambut tawa Akmal.
" Puas-puasin deh ketawanya mumpung Gue masih sabar. Ntar kalo Gue ga sabar siap-siap Lo berdua tanggung akibatnya...," kata Ranvier setengah mengancam.
" Atuuuuttt...," sahut Akmal dan Erwin bersamaan sambil menjauh hingga membuat Ranvier bertambah kesal.
Kakek Randu yang mendengar gurauan tiga sahabat itu pun hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
\=\=\=\=\=
__ADS_1