Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
49. Ranvier Yang Menghadapi


__ADS_3

Erwin dan Akmal nampak melangkah cepat menuju sebuah meja sedangkan Ranvier sengaja memperlambat langkahnya. Melihat kedua sahabatnya hendak melangkah menuju meja yang ada di barisan ke empat dari pintu, Ranvier pun mencegahnya.


" Jangan di sana guys. Cari meja lain aja...!" kata Ranvier.


Ucapan Ranvier membuat Daeng Payau tersenyum diam-diam sedangkan Tomi nampak mendelik kesal karena niat makannya harus terganggu gara-gara sebuah meja.


" Kenapa sih Vier, sama aja kan...," sahut Erwin sambil menoleh kearah Ranvier.


" Pokoknya jangan di sana. Please, percaya sama Gue kali ini...," kata Ranvier sungguh-sungguh.


" Ya udah sih. Cuma meja doang mah sama aja kali. Ayo Win, Kita ke sebelah sana aja. Kayanya lebih enak juga...," kata Akmal menengahi.


" Tau nih. Gara-gara meja doang Kita jadi ngundur waktu makan. Buruan deh, keburu banyak orang malah ga bisa sarapan dan harus ngantri lagi nanti...," kata Tomi tak sabar.


" Iya iya, sabar dong Bang...," sahut Erwin sambil mengikuti Akmal yang duduk di tempat lain.


Ranvier nampak tersenyum puas melihat dua sahabatnya menuruti keinginannya. Bukan tanpa alasana Ranvier meminta sahabatnya mencari tempat lain. Itu karena Ranvier melihat sosok bayangan hitam ada di salah satu kursi yang akan mereka duduki.


Setelah mereka duduk, seoramg pelayan datang dan menawarkan menu unggulan untuk sarapan kepada mereka. Tomi, Erwin dan Akmal nampak antusias memilih menu, sedangkan Ranvier dan Daeng Payau hanya mengiyakan saja.


" Apa Kamu bisa liat juga Vier...?" tanya Daeng Payau sambil berbisik.


Saat itu Tomi, Erwin dan Akmal sedang sibuk dengan makanan mereka masing-masing.


" Liat apa Paman...?" tanya Ranvier pura-pura tak tahu.


" Liat makhluk yang Saya maksud tadi...," sahut Daeng Payau cepat.


" Apa wujudnya mirip manusia Paman ?. Jujur Aku masih samar ngeliatnya. Jadi Aku ga tau pasti gimana wujudnya. Tapi dari siluetnya sih mirip orang besar ya...," kata Ranvier ragu.


" Terus apa lagi yang Kamu liat...?" tanya Daeng Payau.


" Mmm..., cuma sosok bayangan berwarna hitam mirip asap gitu. Sekarang dia berdiri dan melayang-layang. Keliatannya dia mau ke sini Paman...," sahut Ranvier panik.


" Lakukan sesuatu Ranvier...!" kata Daeng Payau.

__ADS_1


" Baik Paman...," sahut Ranvier cepat.


Saat itu Ranvier refleks meraih tempat garam yang terletak di atas meja. Ia perlahan mengeluarkan isinya sedikit dan menggenggamnya erat. Setelahnya ia lemparkan diam-diam kearah punggung Tomi, Erwin dan Akmal.


Saking fokusnya dengan makanan masing-masing, ketiga pria itu tak meyadari apa yang dilakukan Ranvier.


Setelah menaburkan bubuk garam di tubuh Tomi, Erwin dan Akmal, Ranvier nampak bersiap menaburkan garam kearah Daeng Payau. Sayangnya Daeng Payau menggelengkan kepala pertanda ia tak ingin Ranvier menabur garam kearahnya.


" Kenapa Paman...?" tanya Ranvier.


" Aku bukan ikan goreng Ranvier...," sahut Daeng Payau sambil menahan senyum.


" Apa Aku salah Paman ?. Tapi cuma ini yang ada di kepalaku saat ini Paman...," kata Ranvier bingung.


" Gapapa. Kita liat bagaimana reaksi makhluk itu nanti. Bersiap lah, dia hampir dekat..., " kata Daeng Payau mengingatkan.


Ranvier pun menoleh dan bersiap dengan garam di genggaman tangannya. Jantungnya berdebar cepat saat menyadari bayangan hitam itu melayang pelan kearahnya.


Sambil berdzikir dalam hati Ranvier menanti datangnya sosok hitam itu. Saat itu lah Erwin menegurnya.


" Kok ga dimakan sih Vier. Katanya Lo lapar...," tegur Erwin sambil menoleh kearah Ranvier.


" Sssttt..., jangan ganggu Ranvier. Kamu lanjutkan makanmu aja...," kata Daeng Payau setengah berbisik sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.


" Emangnya Ranvier lagi ngeliat apaan Om, hantu ya...?" tanya Erwin cemas.


Ucapan Erwin membuat Tomi dan Akmal menghentikan suapannya lalu menoleh kearah Ranvier. Keduanya memang melihat Ranvier tengah menoleh kearah kiri seolah ada sesuatu yang sedang ia amati.


Sesaat kemudian Ranvier bangkit berdiri lalu melempar sesuatu kearah tempat kosong. Setelahnya Ranvier kembali duduk dan terkejut saat menyadari semua mata menatap kearahnya.


" Kenapa ngeliatin Gue kaya gitu ?. Dimakan dong ntar keburu dingin ga enak lho...," kata Ranvier.


" Lo abis ngapain Vier...?" tanya Erwin.


" Ga ngapa-ngapain...," sahut Ranvier cepat.

__ADS_1


" Ga usah bohong deh Vier. Gue liat kok Lo ngelempar sesuatu ke tempat kosong tadi. Apaan yang Lo liat Vier...?" tanya Erwin penasaran.


" Bukan apa-apa. Udah deh, ga usah kepo. Terlalu kepo juga ga baik...," sahut Ranvier sambil menyuap makanan ke dalam mulut.


" Ranvier...," panggil Erwin tak sabar.


" Iya iya. Tapi kalo Gue bilang apa yang Gue liat, janji ga kabur atau minta pulang ya...," kata Ranvier.


" Kenapa harus kabur dan minta pulang segala. Emangnya Lo ngeliat apaan sih Vier...?!" tanya Erwin tak sabar.


" Hantu...," sahut Ranvier cepat.


" Hantu...?!" tanya Akmal dan Erwin bersamaan.


" Iya. Apa mau Gue ceritain juga wujudnya kaya gimana...?" tantang Ranvier.


" Ga usah Vier !. Simpen aja buat Lo sendiri...," sahut Erwin cepat dan diangguki Akmal.


" Ok...," kata Ranvier sambil tersenyum.


Daeng Payau dan Tomi nampak saling menatap sejenak lalu tersenyum melihat tingkah Ranvier dan kedua sahabatnya itu.


Dalam hati Daeng Payau merasa bangga karena Ranvier berhasil mengatasi makhluk berlendir yang akan mengganggu mereka tadi. Meski pun Ranvier belum bisa melihat wujud makhluk itu secara sempurna tapi Ranvier tahu bagaimana cara menghadapi makhluk itu.


Dalam penglihatan Daeng Payau ia menyaksikan makhluk berlendir itu melangkah perlahan kearah Ranvier. Tatapan mata makhluk itu terlihat marah pertanda ia tak suka dengan apa yang Ranvier lakukan. Rupanya makhluk itu melihat Ranvier menaburkan garam di punggung Tomi, Akmal dan Erwin yang merupakan calon mangsanya. Dan itu membuatnya marah.


Daeng Payau melihat bagaimana cara Ranvier berdiri untuk menyambut kedatangan makhluk itu. Dan tanpa membuang waktu, Ranvier langsung melempar garam yang ada di dalam genggaman tangannya kearah makhluk berlendir itu.


Akibatnya sungguh di luar dugaan. Saat bubuk garam mengenai tubuh makhluk berlendir itu, jerit kesakitan pun membahana di ruangan itu. Rupanya bubuk garam telah membuat kulit makhluk itu meletup-letup.


Makhluk itu menjerit kesakitan sambil menatap Ranvier dengan tatapan marah tanpa ia kuasa berbuat apa-apa. Tangannya terulur ingin menyentuh Ranvier. Sayangnya ada sesuatu dari dalam tubuh Ranvier yang menepis tangannya bahkan mendorong tubuhnya ke belakang dengan keras.


Setelah gagal menyentuh Ranvier, makhluk berlendir itu menoleh kearah Daeng Payau yang saat itu tengah menatapnya.


Daeng Payau nampak menggelengkan kepala seolah memberi isyarat agar makhluk berlendir itu tak perlu mencoba untuk menyentuh Ranvier lagi. Makhluk berlendir itu menggeram marah lalu lenyap begitu saja.

__ADS_1


Setelahnya Ranvier kembali duduk dan berdebat dengan Erwin. Sedangkan Daeng Payau nampak tersenyum diam-diam. Ternyata usaha perdana Ranvier mengusir makhluk tak kasat mata itu membuat sang guru spiritual bangga.


\=\=\=\=\=


__ADS_2