Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
117. Menggelengkan Kepala


__ADS_3

Tepat di hari pernikahan Arcana dan Ganesha, saat itu Ranvier tengah melaksanakan ibadah umroh di tanah suci Mekkah.


Ranvier berangkat bersama jamaah pimpinan ustadz Rahman. Selama di tanah suci Ranvier melakukan ibadah bersama jamaah dengan antusias. Semua hal ia pelajari dan itu membuatnya sadar betapa tak berartinya Kita tanpa Allah. Karena sebutir debu yang Allah ciptakan juga memiliki makna dan manfaat. Masya Allah...


Di depan baitullah Ranvier melantunkan banyak doa. Memohon kepada Allah agar Kakek Randu panjang umur dan dia bisa membahagikan sang kakek. Ranvier juga berdoa untuk hidupnya pribadi, untuk kemajuan perusahaan sang Kakek dan untuk kebahagiaan orang-orang terdekat yang selama ini selalu ada untuk dia dan sang Kakek. Tak lupa Ranvier juga menyelipkan doa tulus untuk kebahagiaan Arcana dan Ganesh. Ranvier berharap ia bisa menemukan pendamping seperti Arcana.


Dan kini Ranvier beserta rombongan sedang berada di dalam bus. Mereka akan mengunjungi masjid Quba lalu lanjut ke kebun kurma di Madinah.


Sepanjang perjalanan Ranvier nampak menatap keluar jendela sambil tersenyum. Ia mengagumi keindahan alam yang tersaji di depan matanya.


" Masya Allah, kenapa baru sekarang Aku pergi ke tempat sebagus ini...," gumam Ranvier yang juga didengar ustadz Rahman.


" Itu karena Allah yang memilihmu Nak...," sahut ustadz Rahman.


" Jadi kalo ga dipilih sama Allah, artinya Kita ga bisa pergi ke sini Ustadz...?" tanya Ranvier sambil menoleh kearah ustadz Rahman.


" Allah memilih Kamu otomatis Allah gerakkan hatimu dan dirimu untuk pergi ke sini. Banyak orang yang ga bisa ke sini karena mereka pikir mereka bukan pilihan Allah. Padahal bukan itu maksudnya. Biaya pergi umroh seperti ini memang bisa dibilang mahal untuk orang yang tak mampu, dan itu kendala utama mereka. Tapi untuk orang kaya macam Kamu bukan kah hal ini mudah ?. Toh mereka punya uang banyak bahkan bisa dikatakan berlimpah. Tapi kendala mereka adalah karena mereka terlalu sibuk hingga ga punya waktu untuk mengenal lebih dekat tanah para Nabi ini. Andai mereka mau berusaha meluangkan waktu sebentar saja, mereka pasti bisa pergi ke sini. Jadi di sini diperlukan hati yang besar, otak yang waras dan pengorbanan yang ga sedikit. Makanya sering dibilang orang yang berangkat umroh atau haji adalah orang pilihan Allah. Karena hanya orang-orang seperti itu lah yang layak menginjakkan kakinya di sini...," sahut Ustadz Rahman.


" Pengorbanan...?" ulang Ranvier sambil mengerutkan keningnya.


" Iya pengorbanan. Untuk orang yang ga mampu secara finansial, dibutuhkan kesabaran dan kerja keras agar bisa menyiapkan biaya. Bukan kah itu bentuk pengorbanan namanya ?. Sedangkan untuk orang kaya pengorbanan mereka adalah waktu dan tindakan. Sanggupkah mereka meluangkan waktu dan meninggalkan setumpuk pekerjaan yang menjanjikan materi berlimpah itu ?. Semua kembali pada niat dan usaha. Punya uang, punya niat, tapi ga ada usaha buat berangkat, ya jangan harap bisa ke sini...," sahut Ustadz Rahman sambil tersenyum.


Ranvier pun menganggukkan kepala tanda mengerti. Entah mengapa ia teringat dengan Erwin. Saat ia mengajak sahabatnya mendaftar umroh, Erwin menolak. Padahal semua biaya akomodasi ditanggung oleh Ranvier.


" Lo ga usah pikirin biayanya Win. Insya Allah Gue yang nanggung semuanya. Plus Lo Gue kasih uang saku juga biar bisa jajan dan beli oleh-oleh nanti...," kata Ranvier.

__ADS_1


" Duh, kenapa mendadak banget sih Vier...?" tanya Erwin.


" Mendadak apanya sih. Kita berangkat masih tiga hari lagi kok. Lo bisa mulai siap-siap dari sekarang. Kalo perlu, Lo Gue kasih ijin pulang sekarang untuk nyiapin semuanya. Dan ini uang buat Lo. Kali aja Lo perlu buat ngadain pengajian nanti. Yang sederhana aja, ga usah mewah-mewah. Yang penting undang Ustadz dan beberapa orang untuk ngaji di rumah sekalian doain biar Lo selamat pulang pergi nanti...," kata Ranvier sambil meletakkan uang lima juta rupiah di atas meja.


" Ntar dulu deh Vier. Gue belum laporan nih sama Ibu Gue. Ntar kalo dia kaget gimana...," sahut Erwin.


" Ibu emang pasti kaget. Tapi Ibu juga pasti seneng tau Anaknya pergi umroh. Lo ga usah cari alasan deh Win...!" kata Ranvier kesal.


" Kenapa Lo ga daftarin Ibu Gue aja sih Vier. Jadi jatah umroh Gue biar dipake sama Ibu Gue. Itu lebih baik kayanya...," kata Erwin.


" Masalahnya Gue ga punya dokumen pribadi Ibu. Yang ada di tangan Gue kan cuma dokumen Lo, makanya Gue ngajak Lo. Ga ribet dan Kita tinggal berangkat aja karena semua udah diurus sama orang Gue. Kalo ngajak Ibu otomatis harus ngurus semua dokumen dulu dari awal dan itu pasti lama banget. Sedangkan Gue mau berangkat tiga hari lagi...," sahut Ranvier.


" Ya udah, Lo pergi sana. Gue di sini jaga gawang. Ntar di sana jangan lupa doain Gue. Dan jangan lupa juga oleh-olehnya yang banyak yaa...," pinta Erwin sambil nyengir.


Ranvier hanya mendengus sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan sang sahabat. Saat dilihatnya Erwin mengulurkan tangan untuk meraih uang yang ia letakkan di atas meja, Ranvier pun memukul punggung tangan Erwin.


" Siapa suruh Lo ngambil uang itu...?!" tanya Ranvier.


" Kan tadi Lo yang ngasih uang ini buat Gue. Jangan belaga pikun deh Vier...," sahut Erwin.


" Gue kasih untuk biaya pengajian ngedoain Lo umroh dan bukan buat Lo. Karena Lo ga jadi berangkat umroh, uang ini juga ga jadi Gue kasih ke Lo...!" kata Ranvier galak.


" Ish, perhitungan banget sih Lo. Gue juga mau ngadain pengajian Vier...!" sahut Erwin tak mau kalah.


" Pengajian apaan...?" tanya Ranvier tak percaya.

__ADS_1


" Pengajian buat ngedoain Lo lah. Emang buat apaan lagi. Ya sekalian ngedoain Gue juga biar hubungan Gue sama Atika direstuin Bapaknya Atika...," sahut Erwin sambil nyengir.


" Sembarangan !. Jangan campur aduk urusan ibadah sama urusan Lo ya. Kalo mau dapet restu Bapaknya Atika ya usaha sendiri dong. Ngapain ngerecokin Gue sih...," kata Ranvier ketus.


" Susah Vier...," sahut Erwin gusar.


" Itu urusan Lo. Pokoknya Gue bakal kasih uang ini kalo Lo berangkat umroh. Kalo ga berangkat, ya mimpi aja sana...," kata Ranvier sambil memasukkan uang itu ke dalam laci meja kerjanya.


" Pelit banget sih Lo Vier...!" kata Erwin kesal.


" Bodo amat...," sahut Ranvier cepat.


" Ya udah, Gue balik sekarang...," kata Erwin sambil bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju pintu.


" Kok balik, mau ngapain Lo...?!" tanya Ranvier.


" Kan Lo bilang kalo mau dapet restu Bapaknya Atika Gue harus usaha. Nah ini Gue lagi usaha Vier...," sahut Erwin.


" Tapi ga di jam kerja juga dong Win. Gimana sih Lo...!" kata Ranvier kesal.


" Udah terlanjur Vier. Kan Lo udah ngijinin Gue pulang tadi. Gue cabut dulu ya. Assalamualaikum...! " sahut Erwin sambil membanting pintu.


" Wa alaikumsalam. Dasar sableng...," gumam Ranvier sambil menggelengkan kepala.


Dan Ranvier kembali menggelengkan kepala saat teringat bagaimana reaksi Erwin saat mengantarnya ke bandara.

__ADS_1


Saat itu tiba-tiba Erwin memaksa ikut pergi bersamanya. Tapi karena tak mungkin pergi tanpa persiapan sama sekali, Ranvier hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala.


\=\=\=\=\=


__ADS_2