
Saat suara ranting berderak patah itu terdengar lagi, kyai Ireng pun bangkit. Kemudian dia berdiri menghadap kearah sumber suara seolah menanti sesuatu.
Kyai Ireng nampak menghela nafas lega saat melihat seekor kucing keluar dari rimbunan pohon.
" Cuma kucing liar. Kupikir siapa...," gumam kyai Ireng sambil tersenyum.
Namun sedetik kemudian senyum kyai Ireng memudar. Karena dari rimbunan pohon dimana sumber suara ranting berderak itu berasal, tiba-tiba muncul sosok besar, berbulu dan bermoncong mirip babi hutan yang berlari cepat kearahnya.
Kyai Ireng tak sempat menghindar. Ia terjengkang ke tanah dengan posisi babi hutan raksasa itu berada di atas tubuhnya.
" Mbah... a... apa yang terjadi. Kenapa kaya gini...?" tanya Kyai Ireng gugup.
" Hoshh... hoshh... hoshh...," suara makhluk besar itu.
Kyai Ireng nampak tak kuasa menahan bobot makhluk jadi-jadian di atasnya. Apalagi makhluk yang mirip babi hutan itu juga menitikkan liurnya di atas wajah kyai Ireng hingga pria itu megap-megap kesulitan bernafas.
" Mana tumbal yang Kau janjikan...?" tanya makhluk besar itu diantara dengus nafasnya yang memburu.
" A... Aku sudah memberikannya Mbah. Bahkan ada bonus satu orang bod*h tadi...," sahut kyai Ireng dengan bangga.
" Dua Ireng, harus dua. Dan Kau hanya memberi satu. Aku tak peduli dengan satu orang lainnya karena dia tak memenuhi persyaratan...,," kata makhluk itu kesal.
" A... apa ?. Dua ?. Sejak kapan tumbalku jadi dua Mbah...?" tanya Kyai Ireng bingung.
" Sejak Kau mendapatkan sesuatu yang lebih besar bod*h...!" sahut makhluk besar itu dengan lantang.
Kyai Ireng nampak menelan saliva dengan sulit. Ia ingat jika ia menerima 'hasil' yang di luar kebiasaan belakangan ini. Padahal sesuai kesepakatan, jumlah tumbal akan bertambah tiap kali penghasilan kyai Ireng bertambah.
Dan nampaknya kyai Ireng sadar telah lalai menyerahkan tumbal hingga membuat makhluk itu marah.
__ADS_1
" Kenapa diam Ireng, apa Kau ingat sekarang. Itu artinya Kau tau apa resikonya kan...?" tanya makhluk besar itu sambil menyeringai.
Tubuh Kyai Ireng pun bergetar hebat. Ia paham maksud dari ucapan babi hutan raksasa itu.
" To... tolong beri A... Aku waktu Mbah. A... Aku janji akan...," ucapan kyai Ireng terputus karena makhluk itu memotong cepat.
" Dengan kondisimu yang cacat ini tak akan mungkin bisa memenuhi apa yang Kuinginkan Ireng. Sekarang Kita akhiri saja semuanya...!" kata makhluk itu.
Kyai Ireng pun panik. Apalagi saat melihat makhluk itu membuka mulutnya dan memperlihatkan gigi taring yang panjang melengkung, basah dan berkilat.
Sesaat kemudian jeritan kyai Ireng terdengar melengking panjang memecah malam. Hanya sekali, karena setelahnya kyai Ireng tak lagi bersuara. Rupanya urat leher kyai Ireng terputus karena ditarik paksa oleh makhluk besar itu. Bukan dengan senjata tajam tapi dengan ujung gigi taringnya yang mencuat itu.
Kyai Ireng masih bernafas saat babi hutan besar itu mengoyak tubuhnya. Jangan ditanya bagaimana rasa sakit yang harus ia tanggung saat itu.
Bayangan para karyawan pabrik yang telah menjadi tumbal pesugihan yang dianutnya itu pun berseliweran di depan matanya. Dan sebagian besar korbannya adalah wanita.
Kyai Ireng memang memiliki akses untuk keluar masuk pabrik dengan bebas bahkan di jam kerja sekali pun. Tak akan ada seorang pun yang berani melarang karena kyai Ireng mendapat ijin langsung dari sang pemilik pabrik.
Kesempatan itu dimanfaatkan kyai Ireng untuk mencari calon tumbal. Ia bisa leluasa berbincang akrab dengan para karyawan wanita lalu menjerat mereka. Dari perbincangan itu Kyai Ireng tahu siapa saja wanita yang sedang mempersiapkan pernikahannya. Ia mengklaim bisa membuat para wanita terlihat berbeda di hari pernikahan mereka.
Para wanita itu tertarik dan datang ke rumah kyai Ireng untuk melakukan ritual. Dan tanpa mereka sadari, mereka telah dibimbing untuk mengucapkan mantra 'penyerahan diri' kepada sesuatu yang dipuja oleh kyai Ireng.
Kemudian kyai Ireng tinggal duduk menunggu untuk menuai hasilnya. Karena setelah para wanita mengucap mantra penyerahan diri, tak lama kemudian mereka akan mati. Dimana pun dan dalam kondisi berbeda. Hanya dua orang wanita yang meninggal di pabrik karena mengalami kecelakaan kerja, salah satunya adalah Aini.
Bayangan para wanita korban keserakahan kyai Ireng yang sejak tadi berseliweran pun nampak berhenti melayang. Kemudian mereka berkerumun mengelilingi tubuh kyai Ireng yang sekarat. Mereka menyaksikan bagaimana makhluk sembahan kyai Ireng mengoyak tubuh pria itu lalu memakannya hingga hanya tersisa tulang tanpa daging. Setelahnya mereka mengekori makhluk besar mirip babi hutan itu pergi entah kemana.
Tulang belulang kyai Ireng ditemukan warga keesokan harinya. Warga pun berdatangan untuk memastikan jasad mengenaskan itu.
Polisi kembali dibuat pusing karena saat itu tubuh kyai Ireng sulit dikenali. Semua daging dan kulit yang melekat di tubuhnya habis tak bersisa.
__ADS_1
Setelah melakukan penyelidikan beberapa waktu, polisi memutuskan jasad yang mereka evakuasi kemarin adalah jasad tak dikenal dan tanpa identitas.
Kabar penemuan jasad tak dikenal itu juga sampai di telinga Erwin. Ia menceritakan kabar yang diterimanya itu kepada Daeng Payau saat mereka bertemu di resto XX.
" Jadi..., Om yakin itu jasadnya Kyai Ireng...?" tanya Erwin ragu.
" Iya...," sahut Daeng Payau cepat.
" Jadi ini maksud dari ucapan Om malam itu...," kata Erwin.
" Emang apa yang Saya ucapkan malam itu, kok Saya lupa ya...?" tanya Daeng Payau tak mengerti.
" Sesaat sebelum Polisi datang, kalo ga salah Om sempet bilang sebelum terlambat. Saya bingung waktu itu. Tapi sekarang Saya mengerti...," sahut Erwin hingga membuat Daeng Payau tersenyum.
" Polisi pasti kesulitan memastikan identitasnya dan terpaksa menyematkan nama jasad tak dikenal pada jasad Kyai Ireng. Mungkin itu imbalan yang pantas atas kejahatan yang dia lakukan. Dia bakal dikubur tanpa nama dan keluarganya pasti kesulitan mencari...," kata Daeng Payau sambil tersenyum kecut.
" Iya Om...," sahut Erwin.
" Terus gimana rencanamu Win. Saya dengar pabrik tempat mu bekerja masih disegel Polisi...?" tanya Daeng Payau.
" Kayanya Saya mau resign aja Om. Yah walau perusahaan tetap membayar gaji Saya selama Kami dirumahkan, tapi kayanya Saya ga tertarik untuk kembali ke sana. Saya mau cari pengalaman baru di tempat lain nanti...," sahut Erwin.
" Bagus, Saya setuju dengan keputusanmu itu. Sudah waktunya Kamu keluar dari sana. Masih banyak tempat yang bisa menerima orang berbakat dan jujur seperti Kamu Win. Kamu ga usah khawatir. Saya yakin setelah ini Kamu bakal dapat pekerjaan yang lebih baik. Yah walau harus sedikit sabar dan perlu sedikit usaha untuk mendapatkannya...," kata Daeng Payau sambil tersenyum.
" Ga masalah, Saya siap Om...," sahut Erwin mantap.
Daeng Payau pun menepuk punggung Erwin untuk memberi semangat. Pembicaraan mereka masih berlanjut hingga malam hari.
\=\=\=\=\=
__ADS_1