Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
57. Mengintai


__ADS_3

Ranvier nampak tersenyum diam-diam melihat reaksi berbeda yang diperlihatkan Nyonya Maureen dan suaminya.


" Ba... bagaimana cara Albert mendatangimu Ranvier...?" tanya Nyonya Maureen dengan suara bergetar.


Ranvier tak menjawab. Ia menatap kearah Antoni seolah menunggu ijin dari Anthoni untuk melanjutkan pembicaraan ini. Nyonya Maureen ikut melirik kearah suaminya hingga membuat Anthoni menghela nafas panjang.


" Lanjutkan...," pinta Anthoni.


" Terima kasih...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Jadi apa yang dia katakan Ranvier...?" tanya Nyonya Maureen tak sabar.


" Maaf Nyonya. Saat Albert mendatangi Saya pertama kali, dia memang ga bicara apa-apa. Tapi Saya yakin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan sekarang...," sahut Ranvier.


" Sekarang...?" tanya Nyonya Maureen dan suaminya bersamaan.


" Apa maksudmu...?" tanya Anthoni gusar.


" Dia..., maaf. Maksud Saya Albert. Albert datang dan sedang berdiri di belakang Anda Nyonya...," sahut Ranvier sambil menatap kearah sosok pria yang berdiri di belakang Nyonya Maureen.


" Tunggu sebentar. Jika Kamu yakin itu Albert, tolong kasih tau Saya seperti apa wujudnya...," tantang Anthoni.


Anthoni sengaja mengucapkan itu. Ia yakin Ranvier akan sulit menjawab karena di sana tak ada satu pun foto Albert. Sejak lima tahun lalu Anthoni memang sengaja menurunkan semua foto Albert dari dinding karena tak ingin istrinya sedih berkepanjangan.


Mendengar tantangan Anthoni membuat Ranvier tersenyum. Dengan lugas ia mulai menyebut ciri-ciri fisik Albert.


" Albert berambut lurus pirang, bermata biru, berbadan tegap dengan tinggi kurang lebih 6 kaki. Mmm..., saat ini dia mengenakan kemeja berwarna biru garis abu-abu. Dan satu lagi, ada luka memanjang di dahi sebelah kanan yang melintang seperti ini. Sangat tipis dan samar tapi Saya bisa melihatnya karena Albert menyibak rambutnya seolah ingin memperlihatkannya kepada Saya...," kata Ranvier sambil menyentuh dahi kanannya dan membuat gambar garis di sana.


Ucapan Ranvier membuat Nyonya Maureen dan suaminya terkejut. Bahkan Nyonya Maureen menangis keras lalu menghambur ke pelukan Anthoni.


" Itu dia, itu Albert Kita Sayang...," kata Nyonya Maureen lirih di sela tangisnya.


" Iya Sayang...," sahut Anthoni dengan suara tercekat.


" Albert memakai baju kesayangannya. Itu hadiah ulang tahun ke sembilan belas yang Aku berikan untuknya...," kata Nyonya Maureen.


" Iya. Dan tanda itu, Albert tak akan memperlihatkannya jika lawan bicaranya bukan orang yang membuatnya nyaman...," sahut Anthoni sambil mengusap titik air mata yang jatuh di ujung matanya.


Untuk sejenak ruangan itu menjadi hening. Hanya isak tangis Nyonya Maureen yang terdengar.


" Sekarang Saya percaya Ranvier. Saya percaya sama Kamu karena Kamu bisa menyebut ciri-ciri Albert dengan jelas dan tepat. Mungkin benar kata Maureen. Albert meninggal karena ada seseorang yang sengaja mencelakainya. Tolong bantu Kami mengungkap kematian Albert ya...," pinta Anthoni dengan suara serak.

__ADS_1


" Insya Allah Saya siap membantu Tuan...," sahut Ranvier mantap.


" Terima kasih Ranvier. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu...," kata Anthoni yang disambut senyum oleh Ranvier.


Nyonya Maureen pun mengurai pelukannya. Ia menatap wajah Anthoni dan Ranvier bergantian. Wanita itu nampak bahagia karena akhirnya sang suami bersedia mencari tahu penyebab kematian Albert. Sesuatu yang terus membuat Nyonya Maureen penasaran selama lima tahun ini.


" Jadi Kita mulai darimana Ranvier...?" tanya Anthoni.


" Saya ingin Tuan Anthoni menemani Saya mengintai rumah Nyonya Blair. Kita akan merekam aktivitas mereka agar bisa dijadikan alat bukti melapor ke Polisi nanti...," sahut Ranvier.


" Saya aja Ranvier...," sela Nyonya Maureen tiba-tiba.


" Maaf Nyonya. Tapi Saya mau Tuan Anthoni yang pergi dengan Saya karena Saya merasa lebih nyaman...," sahut Ranvier cepat.


" Saya setuju...," kata Anthoni tegas.


" Tapi Saya mau ikut. Saya penasaran sama si Blair itu...," sahut Nyonya Maureen.


" Mana ada orang mengintai dengan cara berkelompok Nyonya. Saya akan berbagi tugas dengan Tuan Anthoni. Karena Beliau pria, Saya ga perlu menjaganya atau mengkhawatirkannya. Saya yakin Tuan Anthoni bisa menjaga diri dan meringankan pekerjaan Saya nanti. Justru hal berbeda bakal terjadi jika Anda yang ikut...," kata Ranvier sambil menahan tawa.


Ucapan Ranvier membuat Anthoni ikut tertawa sedangkan Nyonya Maureen nampak tersipu malu.


" Ayo lah Sayang. Kamu di rumah aja ya. Aku dan Ranvier bakal bawa kabar menyenangkan nanti...," bujuk Anthoni.


" Ok, makasih Sayang...," sahut Anthoni sambil mengecup kening istrinya.


Ranvier tersenyum melihat kemesraan sepasang suami istri di hadapannya itu. Sesaat kemudian Ranvier dan Anthoni telah berada di dalam mobil menuju kediaman Blair.


\=\=\=\=\=


Anthoni menghentikan mobilnya tak jauh dari kediaman Blair.


" Rumah berdinding batu hitam itu rumah keluarga Blair. Ada taman bermain di belakang, Kita bisa mampir dan melihat situasi dari sana supaya ga terlalu mencolok...," kata Anthoni.


" Ok...," sahut Ranvier.


Ranvier dan Anthoni pun bergegas melangkah menuju ke taman bermain. Ada banyak keluarga yang tengah duduk sambil menikmati keindahan taman saat itu.


Anthoni memilih duduk di kursi taman yang menghadap kearah Rumah keluarga Blair. Ia mengeluarkan ponselnya dan merekam kondisi sekitar rumah keluarga Blair. Anthoni juga merekam pembicaraannya dengan wanita yang duduk di sampingnya yang ternyata adalah tetangga keluarga Blair.


" Keluarga Blair ya. Mereka memang aneh. Setau Saya mereka ga punya anak perempuan atau pelayan perempuan. Tapi Saya sering mendengar jeritan perempuan dari dalam rumahnya...," kata wanita itu.

__ADS_1


" Mungkin itu suara Nyonya Blair...?" tanya Anthoni.


" Bukan. Saya yakin itu bukan suaranya. Saya mengenal mereka sejak lama dan Saya tau bagaimana warna suara Nyonya Blair...," sahut wanita itu.


" Jangan-jangan mereka...," ucapan Anthoni terputus.


" Saya setuju jika Anda melaporkan mereka ke Polisi. Jujur Saya terganggu dengan suara jeritan itu. Dan Saya khawatir lama-lama perempuan itu bisa mati di tangan mereka...," kata wanita itu.


" Kenapa bukan Anda saja yang melapor...?" tanya Anthoni sambil mengerutkan keningnya.


" Sudah. Tapi Polisi ga bisa membuktikan apa-apa atau memang keluarga Blair yang terlalu pintar menyembunyikan semuanya...," sahut wanita itu kesal.


Anthoni terdiam dan menghela nafas panjang.


Di sisi lain terlihat Ranvier tengah melangkah mendekati rumah keluarga Blair. Ia berdiri tepat di samping pagar tanaman rambat setinggi pinggang orang dewasa yang berdiri mengelilingi rumah itu.


Dari tempatnya berdiri Ranvier bisa leluasa mengamati rumah keluarga Blair. Tiba-tiba Ranvier menyipitkan matanya saat melihat Anastasya ada di balik jendela dan tengah melambaikan tangan kearahnya. Sesekali Anastasya nampak memukul jendela dengan kedua telapak tangannya.


Ranvier bergegas merekam Anastasya dan mencoba berkomunikasi dengan gadis itu. Namun sesuatu terjadi. Ada seseorang yang menarik tubuh gadis itu agar menjauhi jendela.


Bukan menarik tubuh tapi menjambak rambut Anastasya lebih tepatnya. Karena Anastasya tampak kesakitan sambil memegangi kepalanya yang bergerak mengikuti arah rambutnya yang direnggut dari belakang. Setelahnya sosok pria berwajah sangar nampak berdiri mengamati keluar jendela sejenak lalu menutup gorden jendela dengan kasar.


Saat pria itu menampakkan diri, Ranvier segera merunduk. Hanya ponselnya yang ia posisikan lebih tinggi dari tubuhnya agar bisa tetap merekam aksi pria berwajah sangar itu.


Setelahnya Ranvier bergegas menghampiri Anthoni lalu memperlihatkan hasil rekamannya. Anthoni terkejut saat melihat gadis yang mirip Anastasya ada di dalam rumah keluarga Blair.


" Ini memang Anastasya. Kita bisa laporkan ini ke Polisi sekarang...," kata Anthoni.


" Tapi jangan Anda yang melapor Tuan. Biar Saya aja. Saya yakin jika orang asing seperti Saya melapor tak akan membuat Polisi marah dan teringat dengan ucapan Nyonya Maureen...," kata Ranvier mengingatkan.


" Iya Ranvier, Saya setuju. Saya yakin Polisi pasti sudah menandai Saya dan Istri Saya karena pernah meragukan kinerja mereka dulu...," sahut Anthoni sambil tersenyum kecut.


" Jangan khawatir Tuan. Insya Allah kasus kematian Albert akan segera terungkap dan orang yang mencelakai Albert akan segera ditangkap...," hibur Ranvier.


" Iya Ranvier, makasih...," sahut Anthoni sambil tersenyum.


" Sama-sama Tuan Anthoni. Apa Anda dapat sesuatu tadi...?" tanya Ranvier.


" Iya. Saya akan kirim ini ke ponsel Kamu biar Kamu punya cukup bukti untuk laporan ke Polisi nanti...," sahut Anthoni antusias.


Ranvier pun mengangguk lalu ikut menyimak rekaman video yang dimiliki Anthoni.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2