
Seperti yang David katakan, ternyata polisi mendatangi rumah orangtua Albert untuk mencari tahu hubungan Anastasya dengan keluarga mereka.
Saat polisi melihat Tuan Anthoni dan Nyonya Maureen, mereka terkejut. Salah seorang polisi bernama Mark, yang dulu menangani kasus kebakaran gereja yang menewaskan Albert, nampak salah tingkah. Ternyata Mark adalah polisi yang sempat bertengkar dengan Nyonya Maureen dulu.
Pertengkaran Mark dengan Nyonya Maureen dipicu pernyataan Nyonya Maureen yang mengatakan jika polisi salah menetapkan kasus. Nyonya Maureen bersikeras jika anaknya meninggal karena sengaja dibakar. Tapi Mark cs mengatakan jika Albert meninggal karena kebakaran.
" Selamat siang Tuan dan Nyonya Anthoni. Kami datang ke sini untuk menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan penemuan gadis bernama Anastasya yang disekap oleh Tantenya sendiri...," kata Mark mengawali percakapan.
" Anastasya siapa...?" tanya Anthoni pura-pura tak tahu hingga membuat Mark tertegun sejenak.
" Anastasya yang merupakan calon tunangan Anak Anda yang bernama Albert itu...," sahut Mark tak enak hati.
" Tunangan Albert bukannya juga ikut terbakar saat kebakaran di gereja lima tahun yang lalu Sayang...?" tanya Anthoni sambil menoleh kearah istrinya.
" Yang Aku dengar dari Polisi dulu sih begitu Sayang. Tapi kenapa sekarang justru para polisi ini mengatakan jika Anastasya masih hidup. Ini aneh bukan...," sahut Nyonya Maureen sambil tersenyum sinis.
" Maafkan Saya. Saya mengaku salah. Waktu itu Saya masih muda, banyak tekanan dari kanan dan kiri. Selain itu kasus kebakaran gereja yang menyebabkan anak Anda meninggal dunia adalah kasus pertama yang Saya tangani. Saya hanya ingin memberi kesan yang baik pada korps dan teman-teman. Jadi Saya berbohong dan mengatakan Albert meninggal karena kebakaran hanya supaya Saya bisa diakui oleh para senior. Saya sadar telah melukai Anda dan Saya minta maaf. Setelah ini Saya akan meluruskan berita yang beredar sekaligus mempertanggung jawabkan perbuatan Saya dulu. Sekali lagi Saya mohon maafkan Saya...," kata Mark sungguh-sungguh.
Melihat kesungguhan Mark membuat hati Nyonya Maureen luluh. Ia pun tersenyum lalu merentangkan tangannya. Mark pun bergegas menghambur ke pelukan Nyonya Maureen.
" Aku ga marah lagi sekarang. Tapi berjanji lah akan mengungkap kematian anakku dengan sungguh-sungguh..., " pinta Nyonya Maureen.
" Iya Nyonya, makasih karena telah memaafkan dan mempercayai Saya...," kata Mark dengan suara tercekat.
" Sama-sama. Duduk lah, katakan apa maumu...," kata Nyonya Maureen sambil tersenyum.
Kemudian Mark dan teamnya menceritakan hasil temuan mereka. Mark juga meminta kedua orangtua Albert itu untuk menjenguk Anastasya.
" Kenapa Kami harus menjenguk, kan Anastasya punya keluarga...," kata Nyonya Maureen.
" Itu benar. Tapi mereka sekarang kan ada di penjara, jadi ga mungkin diijinkan keluar untuk menjenguk Anastasya. Lagipula Anastasya selalu menjerit ketakutan saat melihat mereka...," sahut Mark.
" Baik lah. Kapan Kami bisa pergi menemui Anastasya...? " tanya Anthoni.
" Sekarang pun bisa jika Anda tak keberatan...," sahut Mark cepat.
" Kalo gitu Kami bersiap sebentar...," kata Nyonya Maureen.
__ADS_1
" Silakan Nyonya...," sahut Mark sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=
Kedua orangtua Albert nampak tertegun menatap Anastasya yang duduk menunduk di hadapan mereka. Saat itu kedua tangan Anastasya nampak diikat menggunakan tali kain agar tak menyakiti dirinya sendiri.
" Anastasya..., " panggil Nyonya Maureen lirih.
Ajaib. Anastasya nampak merespon panggilan nyonya Maureen. Padahal sebelumnya tak seorang pun berhasil membuatnya mengalihkan perhatian dari lantai.
Perlahan Anastasya mendongakkan kepalanya lalu mencari asal sumber suara. Saat tatapannya bertemu dengan tatapan Nyonya Maureen, ia pun menangis.
" Nyo... nya Ma... Maureen...," panggil Anastasya lirih.
" Iya Sayang. Ini Aku. Bagaimana keadaanmu, apa yang terjadi Sayang. Kenapa Kamu seperti ini...?" tanya Nyonya Maureen beruntun.
" Pelan-pelan Sayang. Jangan terlalu banyak bertanya. Anastasya bisa bingung nanti...," bisik Anthoni mengingatkan sang istri.
" Oh iya, maaf Aku lupa. Aku terlalu bersemangat tadi...," sahut Nyonya Maureen malu-malu.
" Albert..., dimana dia...?" tanya Anastasya tiba-tiba.
" Jangan ingat Albert lagi ya Sayang. Sekarang yang penting Kamu fokus untuk kesembuhanmu dulu. Setelah itu Kamu bisa pikirkan yang lain...," kata Nyonya Maureen lembut.
Namun nampaknya Anastasya tak peduli dengan ucapan Nyonya Maureen. Ia terus bicara tanpa peduli tatapan kedua orangtua Albert juga Mark.
" Albert pergi. Dia janji kembali. Tapi Aku tak pernah melihatnya kembali...," kata Anastasya berulang-ulang.
" Kalo boleh tau memangnya Albert pergi kemana...?" tanya Mark hati-hati.
" Albert pergi ke dalam gereja untuk menjemput cincin pernikahan Kami. Awalnya dia mengajakku lari keluar gereja setelah melihat api di altar. Tapi dia nekad kembali ke dalam gereja untuk mengambil cincin pernikahan Kami yang terjatuh di altar. Albert pergi. Dia... tak mendengar ucapanku. Aku menjerit memanggil namanya. Dan tiba-tiba semua gelap. Aku ga tau kenapa. Saat Aku terbangun Aku sudah ada di rumah Tante Blair. Aku terkejut, Aku mencoba kabur, tapi selalu gagal. Aku tau Albert pasti mencariku. Dia pasti mencariku ke tempat dimana dia memintaku menunggu. Albert pasti kebingungan saat tak melihatku di sana. Jika Kau bertemu dengannya, tolong katakan jika Aku ada di Rumah Nyonya Blair. Bilang padanya Aku selalu menunggunya. Aku selalu menunggu dia datang menjemput ku...," kata Anastasya sambil menangis.
Ucapan Anastasya mengejutkan kedua orangtua Albert juga polisi.
" Lalu selanjutnya apa yang terjadi ?. Apa yang mereka lakukan padamu...?" tanya Mark.
" Aku dikurung di kamar gelap. Aku dipukuli, Aku dimaki dan dikasari jika Aku menolak menikahi anak laki-laki suami Tanteku...," sahut Anastasya dengan tubuh bergetar hebat.
__ADS_1
" Maksudmu Tuan Blair...?" tanya Nyonya Maureen.
" Iya dia. Anak laki-lakinya jatuh cinta padaku dan ingin Aku jadi istrinya. Tapi Aku menolak karena Aku hanya mencintai Albert. Mereka marah lalu memukuli Aku...," sahut Anastasya.
" Tapi kenapa begitu lama. Apa Kamu tau sudah berapa lama Kamu di sana...?" tanya Anthoni.
" Beberapa bulan mungkin...," sahut Anastasya sambil menggigiti ujung kukunya.
" Ya Tuhan, Kamu salah. Lima tahun Kamu di rumah mereka Anastasya !. Kenapa Kamu ga kabur saat ada kesempatan. Tetangga mereka bilang sering mendengar suara jeritanmu. Dimana Kamu sembunyi saat Polisi datang untuk menggeledah rumah itu dulu...?" tanya Nyonya Maureen.
" Aku ga tau. Aku cuma disuruh diam. Jika Aku bersuara, mereka akan membunuh Albert. Mereka bilang Albert akan datang menjemput, tapi Aku tak pernah melihat dia. Dimana Albert...?" tanya Anastasya lagi.
" Albert... Albert sudah meninggal dunia Sayang. Dia meninggal di dalam gereja yang terbakar itu...," sahut Nyonya Maureen sambil terisak.
Anastasya terkejut bukan kepalang. Pria yang ia cintai dan yang berjanji akan menikahinya justru telah pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Anastasya tampak menggelengkan kepala tanda tak percaya. Selanjutnya ia menjerit sekencang-kencangnya hingga membuat suasana menjadi ricuh.
" Maaf Tuan, Nyonya. Sudahi saja pembicaraan ini. Pasien harus segera kembali ke kamar...," kata salah seorang perawat.
Mau tak mau Nyonya Maureen, Anthoni dan Mark pun pergi meninggalkan Rumah Sakit.
Hari-hari berikutnya kondisi Anastasya makin memburuk. Ia seringkali menjerit menangisi kepergian Albert. Pihak Rumah Sakit hampir menyerah karena tak sanggup menghadapi Anastasya.
Di saat genting itu lah Ranvier hadir dengan membawa ide brilian. Ia berniat mempertemukan Anastasya dengan arwah Albert. Ranvier berharap, setelah bertemu dan saling bicara, rasa penyesalan di hati Anastasya akan segera sirna.
Semua orang setuju dengan ide Ranvier. Dan saat hari yang dimaksud tiba, Ranvier pun datang ke Rumah Sakit. Ia duduk berhadapan dengan Anastasya untuk membantunya berkomunikasi dengan Albert.
Anastasya tampil cantik hari itu. Dengan gaun pink berenda kesukaannya dan rambut yang digerai ke belakang, membuat siapa pun yang menatapnya tak segan memuji kecantikannya.
" Dia di sini sekarang. Albert bilang Kamu cantik sekali hari ini...," kata Ranvier hati-hati.
" Terima kasih...," sahut Anastasya dengan wajah merona.
" Bisa kah Kamu ulurkan tanganmu. Albert ingin menyentuh jarimu...," pinta Ranvier.
" Tentu...," sahut Anastasya cepat.
Kemudian Anastasya mengulurkan tangannya sambil memejamkan mata. Saat itu Anastasya merasa udara hangat menyapa telapak tangannya. Gadis itu mencoba membuka mata dan tak melihat siapa pun di sana. Namun rasa hangat itu terus ada dan membuat perasaan Anastasya ikut menghangat.
__ADS_1
bersambung