Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
121. Sosok Lain


__ADS_3

Ranvier dan Erwin tampak duduk di sebuah restoran mewah. Mereka sengaja mencari tempat yang berkelas untuk menjebak Atika. Ranvier membooking dua meja yang berdekatan agar aksi mereka bisa berjalan lancar. Ranvier dan Erwin sengaja duduk saling membelakangi dengan dinding rotan tipis sebagai sekat pemisah yang memungkinkan keduanya bisa saling mendengarkan pembicaraan masing-masing.


Selain itu Erwin juga meminta Ranvier merekam pembicaraannya dengan Atika nanti. Awalnya Ranvier menolak karena tak nyaman melakukannya. Namun setelah Erwin memohon berkali-kali, akhirnya Ranvier pun setuju.


" Kekanakan banget sih Lo...," gerutu Ranvier.


" Bukan kekanakan. Tapi Lo bakal tau apa maksud Gue ngelakuin ini nanti...," kata Erwin sambil tersenyum.


" Ngelakuin apa lagi Win. Jangan aneh-aneh ya...?!" kata Ranvier mengingatkan.


" Udah tenang aja. Lo ga bakal terlibat sama sekali kok...," sahut Erwin cepat.


" Tapi...," ucapan Ranvier terputus saat Erwin memotong cepat.


" Sssttt..., dia datang tuh. Siap di posisi Lo dan Gue stand by di sini. Ok...?" tanya Erwin sambil kembali ke tempat duduknya.


" Sia*an. Nyesel Gue ikutan rencana g*la Lo Win...!" maki Ranvier kesal namun membuat Erwin tertawa.


Untuk menetralisir wajahnya yang masih sangat kesal, Ranvier pun meneguk air mineral di dalam botol hingga tersisa setengah.


Tepat di saat ia selesai meneguk air mineral, Atika datang dan menyapanya.


" Apa kabar Ranvier, maaf Saya terlambat...," sapa Atika sambil tersenyum.


Ranvier tak langsung menjawab sapaan Atika. Ia justru tertegun melihat penampilan Atika yang nampak berbeda dari yang pernah ia lihat.


Saat itu Atika mengenakan gaun selutut berwarna merah maroon yang mengekspos kedua bahunya. Meski pun terlihat cantik dan menarik namun tetap membuat Ranvier tak nyaman. Karena di saat yang sama Ranvier melihat 'sosok lain' tengah berdiri di belakang Atika dan mengikuti kemana pun gadis itu pergi.


Mengira Ranvier mengagumi penampilannya, Atika pun tersenyum puas.


" Ehm..., Ranvier...!" panggil Atika dengan nada suara sedikit tinggi.


" Eh iya, maaf. Silakan duduk Atika...," sahut Ranvier pura-pura gugup.


Erwin yang duduk di belakang Ranvier nampak mencibir mengetahui akting Ranvier yang cukup piawai itu.


" Ok makasih. Maaf kalo menunggu lama...," kata Atika.


" Gapapa, Saya juga lagi ga buru-buru kok...," sahut Ranvier sambil tersenyum.

__ADS_1


Sesaat kemudian seorang pelayan mendekat dan Ranvier pun sigap memesan menu termahal di sana. Atika hanya diam sambil menatap Ranvier saat pria itu bicara dengan pelayan restoran.


" Cukup. Kamu pesen apa Atika...?" tanya Ranvier sambil menoleh kearah Atika.


" Samain aja deh sama pesenan Kamu...," sahut Atika malu-malu.


Sikap Atika mungkin bisa menghipnotis Erwin tapi tidak dengan Ranvier. Di bawah meja diam-diam Ranvier mengepalkan tangannya untuk menetralisir rasa kesal melihat sikap 'malu-malu' Atika.


Setelah pelayan restoran berlalu, Ranvier pun nampak mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan sejenak. Dan itu membuat Atika sedikit tak nyaman karena merasa diabaikan.


" Cari apa Vier...?" tanya Atika tak sabar.


" Erwin mana, kok ga keliatan dari tadi...? " tanya Ranvier hingga membuat Atika terkejut.


" Saya ke sini sendiri. Kenapa Kamu nanyain Erwin sama Saya. Kan Saya bukan Ibunya..., " protes Atika.


" Tapi Kamu kan pacarnya Erwin. Wajar Saya tanyain dia sama Kamu...," sahut Ranvier.


" Bukan pacar Vier, tapi mantan pacar...!" sahut Atika cepat.


" Kalian udah putus ?, kapan...?" tanya Ranvier pura-pura terkejut.


" Oh ya. Wah sayang banget yaa...," kata Ranvier.


" Sayang kenapa...?" tanya Atika tak mengerti.


" Padahal Erwin baru aja beli rumah mewah di daerah Jakarta Selatan. Katanya sih rumah itu mau dia tempatin sama Kamu kalo udah nikah nanti. Mana rumahnya besar banget, ada kolam renangnya segala lho...," sahut Ranvier hingga membuat Atika terkejut.


" Rumah mewah di Jakarta Selatan...?" tanya Atika tak percaya.


" Iya. Erwin juga baru aja ngelunasin pembayaran kapal pesiar yang dibelinya secara mencicil. Plus bayar cash satu mobil keluaran terbaru yang katanya buat mahar pernikahan Kalian nanti...," sahut Ranvier dengan tenang namun justru membuat Atika salah tingkah.


" Apa ?!. Ga mungkin Erwin bisa beli semuanya di waktu hampir bersamaan. Dia kan ga punya uang sebanyak itu...!" kata Atika gusar.


" Kata siapa Erwin ga punya uang. Oh, keliatannya Kamu belum tau ya kalo Erwin ini masuk di deretan orang terkaya nomor lima belas di Indonesia. Penampilannya emang kaya gitu, suka merendah dan sedikit urakan. Tapi itu kan cuma trik aja. Karena sebenernya dia tuh orang kaya yang hartanya tuh tersebar dimana-mana lho Tik. Eh, maaf. Buat apa Saya ceritain sama Kamu ya, kan Kalian udah putus...," kata Ranvier.


Atika pun terdiam gusar, sedangkan Erwin nampak menutup mulutnya karena tak bisa menahan tawa mendengar bualan Ranvier.


" Maaf kalo lancang. Apa sih yang bikin Kalian putus. Kayanya selama ini hubungan Kalian baik-baik aja. Iya kan...?" tanya Ranvier.

__ADS_1


Atika tak langsung menjawab pertanyaan Ranvier karena saat itu pelayan restoran datang membawakan pesanan mereka. Setelah pelayan restoran berlalu, Atika pun mulai mengarang bebas.


" Erwin itu kasar Vier. Dia sering ngancam mau memukul Saya kalo apa yang Saya lakuin ga sesuai sama keinginannya. Dan kalo Kamu bilang dia kaya, Saya kok ga percaya ya. Karena selama Kami jadian dia ga pernah ngeluarin uang untuk sekedar bayar makanan atau minuman yang Kami beli...," kata Atika.


" Mungkin dia lagi ngetes Kamu. Sejauh mana Kamu bisa bertahan mendampingi dia yang ga punya apa-apa alias kere itu...," sahut Ranvier ketus.


Atika nampak dilema. Satu sisi ia memang ingin mengejar Ranvier, tapi di sisi lainnya dia ingin bertahan dengan Erwin setelah tahu jika pria itu kaya raya.


Lamunan Atika buyar saat sebuah suara yang akrab di telinganya datang menyapa. Atika terkejut saat melihat Erwin berdiri di samping meja sambil tersenyum.


" Er... Erwin...," panggil Aruna gugup.


" Ternyata di sini. Lagi ngapain ?, ngedate ya sama Ranvier...?" tanya Erwin sambil menatap sinis kearah Atika dan Ranvier bergantian.


" Oh ga kok. Ini... Kami kebetulan ketemu. Iya kan Vier...?" tanya Atika sambil melirik Ranvier.


" Ga kebetulan lah. Kan Kamu yang ngajakin Saya ketemu. Karena Saya baru punya waktu luang, jadi Saya baru bisa iya-in ajakan Kamu sekarang. Kenapa gugup gitu sih. Kan Kamu udah putus sama Erwin, jadi dia ga berhak ngelarang Kamu pergi sama siapa pun yang Kamu mau...," kata Ranvier cuek.


" Atika bilang gitu Vier...?" tanya Erwin.


" Iya...," sahut Ranvier cepat.


" Ga...!" kata Atika lantang.


" Mana yang bener nih...?" tanya Erwin.


Atika pun bangkit berdiri lalu memeluk lengan Erwin dengan manja.


" Biar Aku jelasin. Aku emang sengaja ngajak Ranvier ketemuan buat ngomongin perubahan sikap Kamu. Cuma itu kok...," kata Atika sambil menatap Erwin dengan tatapan menghiba.


Dan saat itu lah Ranvier melihat apa yang Atika lakukan.


Rupanya sambil menggelayut manja di lengan Erwin, Atika juga berusaha mempengaruhi Erwin dengan meniup telinganya hingga membuat pria itu sedikit linglung. Namun Ranvier sigap menetralisir sesuatu yang dilancarkan Atika. Ia menyentuh lutut Erwin sambil berdzikir dalam hati.


Dan sesaat kemudian Atika tampak mundur sambil mendesis karena bagian tubuhnya yang menyentuh lengan Erwin terasa panas seperti terbakar. Dan sosok lain yang mengikutinya sejak tadi pun nampak menyeringai sambil menatap Ranvier dengan tatapan marah.


Karena melihat Erwin yang agak linglung, Ranvier pun memutar rekaman suara di ponselnya dengan tujuan menyadarkan Erwin. Berhasil. Erwin tersentak kaget. Saat itu lah wajah Atika memucat karena Erwin menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2