
Setelah berdiam diri sejenak, Ranvier memberanikan diri menatap Damar.
" Masih sama seperti terakhir kali ketemu. Tapi kenapa terasa beda ya. Lebih berwibawa dan terasa banget aura jagoannya...," batin Ranvier.
Damar yang mengerti jalan pikiran Ranvier pun tersenyum. Ia melirik kearah Nada yang masih pingsan dalam pelukan Ranvier.
" Ehm..., apa Kamu ga capek megangin gadis itu sendirian Mas. Perlu bantuan ga...?" tanya Damar basa-basi.
" Oh ini, ga usah Pak Damar. Saya bisa sendiri kok, makasih...," sahut Ranvier cepat.
" Tapi gadis ini terluka parah Mas. Apa ga sebaiknya Kita mengobatinya lebih dulu. Saya khawatir saat tiba di duniamu gadis ini keburu meninggal dunia karena terlambat mendapat pertolongan...," kata Damar.
Ucapan Damar mengejutkan Ranvier. Ia pun menatap wajah Nada sekilas dan percaya jika gadis di dalam pelukannya itu memang sedang sekarat.
" Apa mengobatinya di sini juga ga berbahaya untuknya Pak...?" tanya Ranvier hati-hati.
" Tentu saja tidak Mas Ranvier. Luka itu kan terjadi di dimensi Kami, tentu saja hanya Kami yang bisa menyembuhkannya. Jika dibawa pulang, Saya khawatir akan sulit mencari obatnya nanti hingga berakibat fatal untuk gadis itu. Tapi ngomong-ngomong Kamu bukan sedang menunjukkan rasa ga percaya Kamu sama Kami kan Mas Ranvier...?" tanya Damar dengan tatapan menyelidik.
" Saya ga bermaksud begitu Pak Damar. Baik lah, Saya setuju dengan saran Pak Damar, Saya ingin gadis ini diobati sebelum Kami pulang..., " kata Ranvier mantap hingga membuat Damar tersenyum.
" Bagus. Mari ikut Saya, masukkan saja gadis itu ke sana...," kata Damar sambil menunjuk bendi berangka emas yang entah sejak kapan berada di sana.
Tanpa membuang waktu Ranvier pun bergegas meletakkan tubuh Nada di atas bendi. Setelahnya Ranvier naik ke atas bendi dan duduk di samping Damar.
Bendi melesat cepat menuju tempat yang dimaksud Damar. Saat Ranvier sedang asyik mengamati jalanan yang mereka lalui, tiba-tiba bendi berhenti.
" Kita sudah sampe Pak...?" tanya Ranvier takjub.
" Iya Mas. Mari silakan...," sahut Damar sambil menunjuk sebuah istana kecil yang terpencil.
Ranvier pun menoleh dan terkejut melihat Nada tengah digendong oleh seorang pria bertubuh kekar. Saat Ranvier hendak melayangkan protes, Damar pun menepuk pundaknya.
" Kamu ga perlu khawatir, dia akan membawa gadis itu ke dalam untuk diobati...," kata Damar berusaha menenangkan Ranvier.
" Ok. Ayo Kita ikuti dia...," sahut Ranvier tak sabar lalu melompat turun dari bendi.
Damar hanya menggelengkan kepala melihat sikap posessif Ranvier.
__ADS_1
Ranvier menghentikan langkahnya saat tiba di teras istana itu. Ia menoleh kearah Damar seolah menunggunya datang mendekat.
" Masuk lah. Bukannya Kamu keliatan ga sabar daritadi...," gurau Damar sambil tersenyum simpul.
" Saya ga kenal siapa-siapa di sini, bagai mana mungkin Saya masuk sendirian ke dalam sana...," sahut Ranvier gusar.
Nampaknya Ranvier sadar jika sikapnya telah sedikit kurang sopan tadi.
Damar pun menghela nafas panjang karena paham dengan reaksi yang diperlihatkan Ranvier. Ia mendahului Ranvier lalu mengetuk pintu.
Pintu terbuka dengan sendirinya lalu Damar pun masuk. Ranvier mengekori di belakang sambil terus mengamati sekelilingnya.
Damar terus melangkah hingga beberapa saat. Ranvier yang ingat jika istana yang ia masuki kecil dan tak terlalu luas pun nampak mengerutkan keningnya karena bingung. Ranvier merasa jalan yang mereka tempuh cukup jauh dan lebih lama dari yang ia perkirakan.
" Maaf Pak Damar. Kenapa Saya merasa Anda membawa Saya jauh dari tempat seharusnya. Istana ini kecil, tapi kenapa Kita ga sampe-sampe. Kemana laki-laki itu membawa Nada pergi...?!" tanya Ranvier panik.
" Yang terlihat di luar belum tentu sama dengan yang ada di dalam Mas Ranvier..., " sahut Damar berteka-teki.
" Tolong jangan main tebakan sekarang Pak Damar. Saya serius, dimana Nada...?!" tanya Ranvier tak sabar.
" Itu di sana...," sahut Damar sambil menunjuk sebuah ruangan yang memiliki bentuk dan ukuran mirip dengan bagian dalam goa.
" Dia siapa Pak...?" tanya Ranvier.
" Pemilik rumah sekaligus orang yang akan mengobati gadis itu...," sahut Damar.
" Apa Aku boleh maju ke sana...?" tanya Ranvier sambil menunjuk kearah samping tempat tidur.
" Di sini saja. Kehadiranmu hanya akan membuatnya kehilangan konsentrasi nanti...," sahut Damar cepat.
Jawaban Damar membuat Ranvier mengerutkan keningnya. Ia menoleh kearah Damar untuk memastikan jika apa yang diucapkan Damar tak keliru.
" Jawaban apa itu. Masa cuma ngeliat aja bisa bikin orang kehilangan konsentrasi..., " gumam Ranvier sambil mencibir.
" Saya dengar lho Mas. Dan Saya khawatir dia juga dengar...," kata Damar mengingatkan.
Ranvier pun terdiam karena tak ingin mengganggu konsentrasi orang yang tengah mengobati Nada.
__ADS_1
Dari tempatnya berdiri Ranvier melihat orang berkain lebar itu mengecek luka di tubuh Nada dengan seksama. Setelahnya orang itu melambaikan tangannya di atas kepala dan sebuah tirai pun langsung terjuntai ke lantai hingga menghalangi pandangan Ranvier dan Damar.
" Heeeii...!, kenapa ditutup ?. Aku mau liat apa yang Kau lakukan pada gadis itu...!" kata Ranvier lantang sambil siap merangsek maju ke depan.
Namun langkah Ranvier terhenti saat Damar mencekal tangannya.
" Jangan halangi Aku Pak Damar...! " kata Ranvier sambil menepis tangan Damar.
" Saya hanya membantu melindungi kedua mata Mas Ranvier dari melihat sesuatu yang belum waktunya...," sahut Damar sambil menatap Ranvier lekat.
" Belum waktunya apaan sih...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Gadis itu mengalami luka di seluruh tubuhnya. Dan cara mengobatinya hanya dengan membuka pakaian gadis itu. Semuanya tanpa sisa. Apa sampe sini Kamu paham Mas Ranvier...?" tanya Damar.
" Ok, tapi orang itu...," ucapan Ranvier terputus saat Damar memotong cepat.
" Jangan khawatir. Orang itu juga wanita, jadi gadis itu aman...," kata Damar.
Ranvier tertegun sejenak kemudian mengangguk. Damar pun melepaskan cekalan tangannya saat yakin Ranvier tak akan menerobos masuk nanti.
Beberapa saat kemudian tirai yang terjuntai itu pun tersibak. Wanita dengan kain lebar itu pun keluar dari balik tirai sambil menunduk.
" Bagaimana, apa Nada bisa diselamatkan ?. Apa dia baik-baik saja...?" tanya Ranvier tak sabar.
Wanita itu mengangguk lalu menepi seolah sengaja memberi ruang untuk Ranvier agar bisa melihat Nada.
Ranvier menyibak tirai lebih lebar dan melihat Nada terbaring dengan tenang. Ranvier juga bisa melihat luka di permukaan kulit Nada ditutupi sejenis obat berwarna kehijauan. Namun Ranvier mengerutkan keningnya saat melihat luka di tubuh Nada seperti hidup dan bergerak. Ranvier membelalakkan mata saat luka itu perlahan terangkat lalu lenyap begitu saja meninggalkan asap berwarna kehitaman. Dan setelah asap hitam itu pudar, kulit Nada pun terlihat bersih dan baik-baik saja.
Ranvier bersyukur dan mengucap hamdalah dalam hati. Ia menoleh kearah wanita yang tadi mengobati Nada yang nampak bersiap meninggalkan tempat itu.
" Siapa pun Kamu, Aku mengucapkan terima kasih karena telah membantu mengobati Nada...," kata Ranvier dengan tulus.
Ucapan Ranvier membuat langkah wanita itu terhenti. Ia membalikkan tubuhnya sambil mendongakkan kepalanya hingga wajahnya bisa Ranvier lihat dengan jelas.
Saat itu lah Ranvier terkejut melihat wanita di hadapannya. Wanita cantik itu pun tersenyum kearah Ranvier saat Ranvier menyebut namanya.
" Arcana...?!" panggil Ranvier tak percaya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=