Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
97. Cewek Berambut Kribo


__ADS_3

Kepulangan Ranvier disambut hangat oleh kakek Randu. Wajah kakek Randu nampak berseri melihat kehadiran sang cucu. Apalagi Ranvier pulang lebih cepat dari waktu yang dia janjikan.


" Selamat datang Ranvier. Selamat masuk ke dunia kerja...," kata kakek Randu sambil merentangkan kedua tangannya.


" Ga usah lebay deh Kek. Waktu liburku masih ada tiga hari lagi lho. Jadi Kakek ga bisa maksa Aku...," sahut Ranvier mengingatkan.


" Ck. Apa ga bisa dipercepat sedikit Vier...?" tanya kakek Randu.


" Ga bisa. Kakek juga kan begitu. Kalo Aku minta lebihin waktu selalu punya seribu satu alasan buat nolak...," sahut Ranvier sambil berlalu.


" Dasar cucu kurang ajar. Selalu aja punya jawaban buat ngebantah omonganku...," gumam kakek Randu sambil melotot.


Ranvier berhenti melangkah lalu menoleh kearah sang kakek.


" Aku belajar ini dari Kakek lho. Jadi kalo Kakek mau salahin, ya salahin Kakek sendiri yang terlalu tegas sama Aku...," sahut Ranvier santai.


" Ranvieeerrr...! " kata kakek Randu kesal sambil melempar buku yang dipegangnya.


Ranvier lari menghindar sambil tertawa puas. Krisna yang menyaksikan interaksi kakek dan cucu itu pun ikut tersenyum. Ia meraih buku kakek Randu lalu meletakkannya di atas meja.


" Kamu liat kan Kris ?. Anak itu semakin besar makin ga bisa diatur...," kata kakek Randu gusar.


" Bukan ga bisa diatur Pak. Tapi maaf, Bapak sendiri yang ga konsisten sama ucapan Bapak. Kan Bapak yang ngasih libur dua Minggu. Sekarang kan belom dua minggu, jadi wajar kalo Mas Ranvier masih mau menggunakan haknya itu...," sahut Krisna santai.


" Emang iya Kris...?" tanya Kakek Randu.


" Iya Pak...," sahut Krisna cepat.


" Tadi Ranvier bilang tiga hari lagi. Apa itu benar...?" tanya kakek Randu.


" Iya Pak...," sahut Krisna mantap.


" Baik lah. Aku kasih kesempatan dia tiga hari lagi. Padahal tadinya Aku mau nyerahin proyek baru sama dia. Tapi sudah lah...," kata kakek Randu pasrah.


Krisna pun tersenyum melihat bagaimana kakek Randu gagal memaksa cucunya untuk mulai bekerja.


\=\=\=\=\=


Mutia dan Amanda tengah berdiri di halaman sebuah gedung perkantoran. Ini kedatangan mereka yang kedua kalinya. Dua hari yang lalu mereka telah datang untuk membicarakan konsep yang akan dipakai dalam pemotretan.


Saat itu mereka bertemu dengan sang owner perusahaan langsung, seorang pria berkharisma yang tetap terlihat gagah di usianya yang tak lagi muda. Dia adalah kakek Randu, pengusaha terkenal yang rendah hati.


Saat pertama kali bertemu, Mutia dan Amanda merasa seperti keluarga. Kakek Randu memperlakukan mereka lebih seperti cucu dibandingkan rekan bisnis. Dalam waktu singkat ketiganya pun menjadi dekat.

__ADS_1


" Saya harap Kalian bisa menampilkan yang terbaik. Mungkin isi kontrak sedikit aneh karena Kami ingin menampilkan imej yang elegan tanpa harus mengumbar aurat. Apa Kamu bisa Amanda...?" tanya kakek Randu.


" Siap Pak. Saya akan berusaha menampilkan yang terbaik nanti...," sahut Amanda yakin.


" Bagus. Datanglah dua hari lagi. Akan ada seleksi untuk beberapa model yang Kami undang nanti. Semoga Kamu beruntung. Karena saat Kamu lulus seleksi, maka Kamu akan langsung menanda tangani kontrak menjadi brand ambassador dari produk yang Kami luncurkan...," kata kakek Randu sambil tersenyum.


" Baik Pak...," sahut Amanda antusias hingga membuat Mutia tersenyum.


Dan kini kedua gadis itu sudah berada di loby perusahaan menunggu giliran untuk mengikuti seleksi.


" Apa penampilan Gue udah Ok, Ti...?" tanya Amanda.


" Bagus seperti biasa...," sahut Mutia.


" Tapi kenapa Lo malah dandan kaya gitu sih Ti. Lo keliatan aneh tau ga...?" tanya Amanda.


Mutia memang memilih tampil dengan dandanan yang sedikit berbeda dari biasanya. Dengan kaca mata tebal, wig kribo dan rok di bawah lutut berwarna gelap, membuat penampilan Mutia terlihat kontras dengan penampilan Amanda.


" Gapapa. Yang model kan Lo. Jangan sampe klien salah sangka dan ngirain Gue modelnya karena Gue tampil lebih cetar daripada Lo...," kata Mutia santai.


" Maksud Lo, Gue kalah cantik sama Lo...?" tanya Amanda sambil melotot hingga membuat Mutia tertawa.


Saat Mutia hendak menjawab ucapan Amanda, nama mereka dipanggil oleh receptionist.


" Baik, makasih Mbak...," kata Amanda dan Mutia bersamaan.


" Sama-sama..., " sahut sang receptionist sambil tersenyum.


Amanda dan Mutia pun bergegas masuk ke dalam lift. Tiba di lantai tiga mereka disambut oleh Azam, fotografer yang dimiliki perusahaan kakek Randu.


" Selamat siang. Kenalin, Saya Azam. Ini dengan Mbak Amanda dan Mbak Mutia...?" sapa Azam ramah.


" Selamat siang, Saya Amanda...," sahut Amanda sambil mengulurkan tangannya.


" Dan Saya Mutia...," kata Mutia sambil menganggukkan kepalanya.


" Wah, keliatan energik sekali. Gimana, udah siap berpose...?" tanya Azam to the point.


" Sudah. Mmm..., apa Saya ga perlu ganti kostum...?" tanya Amanda ragu.


" Ga perlu. Bos bilang kostum yang Anda kenakan sudah cukup bagus dan bisa langsung difoto...," sahut Azam.


" Bos...?" tanya Amanda dan Mutia bersamaan sambil mengedarkan pandangan ke semua penjuru.

__ADS_1


Amanda dan Mutia memang tak melihat siapa pun di ruangan itu kecuali Azam. Tak ada kamera CCTV yang terpasang hingga mereka bingung bagaimana 'Bos' yang dimaksud Azam tadi bisa melihat mereka.


Seolah mengerti keingin tahuan dua wanita di hadapannya, Azam pun menunjuk kearah cermin sebesar dinding yang terpasang di salah satu sisi ruangan.


" Itu cermin dua arah...?" tanya Mutia.


" Betul. Dan Bos Kami ada di sana sedang mengamati Kita. Jadi mohon kerja samanya ya...," sahut Azam.


" Ok. Gimana Man, Lo siap kan...?" tanya Mutia sambil menatap Amanda.


" I... iya. Gue siap...," sahut Amanda gugup.


" Santai aja Man. Ada Gue di sini. Lo ga harus berpose vulgar. Ingat !, jangan tampilkan sisi sensual Lo. Just soft but strong...," bisik Mutia sebelum menepi.


Amanda nampak mengangguk mantap setelah mendengar nasehat kecil sang manager.


Kemudian Amanda dan Azam nampak terlibat pembicaraan serius. Azam menjelaskan sekali lagi visi misi produk yang ditawarkan dan Amanda pun mengangguk tanda mengerti.


Dari balik cermin Ranvier nampak mengamati Amanda dan Mutia. Ia tersenyum saat mengenali Amanda sebagai wanita yang tak sengaja menabraknya tiga hari yang lalu di bandara.


" Jadi ini yang namanya Amanda. Hmm..., menarik. Tapi kenapa Aku merasa lebih tertarik sama Managernya itu ya...," batin Ranvier sambil menatap Mutia lekat.


Saat itu Amanda tengah berpose bersama produk perusahaan Kakek Randu. Di sudut ruangan Mutia nampak mengamati dengan serius. Sesekali Mutia maju untuk sekedar merapikan rambut dan tata rias Amanda. Hal itu ia lakukan karena Azam bekerja seorang diri tanpa bantuan MUA atau pun asisten.


Ranvier yang tengah mengamati gerak gerik Mutia pun tiba-tiba tersentak kaget saat tak sengaja Mutia menatap kearahnya beberapa detik. Walau saat itu Mutia seolah tak sengaja menoleh kearah cermin, namun Ranvier yakin jika tatapan Mutia tertuju padanya. Hanya padanya.


" Sia*an !. Apa cewek itu tau Aku ada di posisi ini. Kenapa dia langsung ngeliat ke sini tadi. Padahal ga ada yang tau dimana posisi Aku duduk...," gumam Ranvier gusar.


Entah mengapa melihat tatapan Mutia seolah membuat Ranvier dejavu. Ada rasa sedikit dingin dan tak nyaman saat tatapan mereka bertemu tadi.


Dan Ranvier terkejut bukan kepalang saat Erwin menepuk pundaknya.


" Astaghfirullah aladziim..., ngagetin aja sih Lo Win...," kata Ranvier sambil mengusap dadanya.


" Ups sorry. Kenapa Lo salting gini sih Vier ?. Jangan bilang Lo tertarik sama cewek berambut kribo itu...," kata Erwin yang memang sejak tadi mengamati Ranvier.


" Kenapa Lo nebak kaya gitu...?" tanya Ranvier.


" Ga tau ya Vier. Ngeliat dia bikin perasaan Gue ga nyaman. Lo ngerasa juga ga sih...?" tanya Erwin.


Ranvier terdiam karena tak ingin terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2