Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
112. Makin Terikat


__ADS_3

Kala dan rombongan pun berdiri saat melihat Kyai Ranggana dan keluarga keluar dari bagian dalam rumah. Kemudian mereka saling berjabat tangan tanpa senyum. Hal yang tentu saja membuat Ranvier sedikit tak nyaman.


Saat Kala dan Ranvier berhadapan, pria itu sedikit menjaga jarak untuk sekedar mengamati Ranvier dari dekat. Kala yakin jika Ranvier orang asing karena baru kali ini dia melihat Ranvier. Ada perasaan tak nyaman di hati Kala saat melihat Ranvier berada di tengah keluarga Kyai Ranggana.


Perwakilan rombongan Kala pun membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan yang menyudutkan.


" Jadi bagaimana Kyai Ranggana. Apakah Ananda Arcana bersedia menerima pinangan Ananda Kala ?. Yah walau Kami tau jika Arcana sudah melakukan kesalahan, tapi Kami masih berbesar hati menerima kehadirannya...," kata pria tua yang kemudian dikenal bernama Sada dengan angkuh.


Kyai Ranggana nampak tersenyum tipis sedangkan sang istri nampak gusar. Setelah berdehem, Kyai Ranggana pun menjawab pertanyaan itu dengan tegas.


" Seperti Kita ketahui bersama. Arcana hanya korban yang dipaksa bertanggung jawab atas kesalahan yang tak dia lakukan. Jadi rasanya pertanyaan itu lebih layak ditujukan kepada calon pengantin pria. Bersediakah Ananda Kala menerima Anakku yang telah melakukan banyak kesalahan. Tak hanya satu tapi dua...," kata Kyai Ranggana.


" Dua...?" tanya Sada tak percaya.


" Betul. Selain dituduh bersalah karena telah menyebabkan calon istrinya meninggal, Kala juga tau bahwa beberapa hari yang lalu Arcana pergi menemui pria lain saat sedang dalam masa pingitan...," sahut Kyai Ranggana.


Ucapan Kyai Ranggana membuat suasana di dalam ruangan menjadi gaduh. Sedangkan Kala nampak mengepalkan kedua tangan untuk meredam amarahnya.


Saat itu Kala merasa dipermalukan. Akhirnya semua orang di dalam rombongannya tahu jika Kala telah memaksa Arcana menikah dengannya. Padahal mereka juga tahu jika calon istri Kala baru saja meninggal dunia. Rasanya aneh menyelenggarakan pernikahan dengan wanita lain saat sang calon istri baru saja dimakamkan. Dan yang lebih memalukan adalah calon pengantin wanita pergi menemui pria lain saat masih dalam masa pingitan.


" Apa maksudmu Kyai Ranggana...!" kata Sada marah.


" Kenapa Kyai Sada, Anda tak terima dengan ucapanku ?. Yang Ku ucapkan adalah kenyataan. Kala memaksa Arcana menikah dengannya karena beralasan persiapan pernikahan yang sedianya akan digelar bersama calon istrinya itu telah rampung. Kala bilang keluarganya akan malu jika acara dibatalkan. Dengan dalih Arcana lah yang telah membunuh calon istrinya itu, Kala menentukan hari untuk menikahi Anakku tanpa mempertimbangkan kesiapanku sebagai orangtua Arcana. Bagaimana pun Arcana adalah anak perempuanku satu-satunya. Jadi wajar rasanya jika Kami ingin menggelar pesta yang mewah. Tapi karena Kala hanya memberi waktu yang singkat, maka dengan terpaksa diadakan pesta ala kadarnya saja...," sahut Kyai Ranggana.


" Apa itu benar Kala...?!" tanya Kyai Sada sambil menoleh kearah Kala.


Kala hanya membisu karena merasa tak perlu menjelaskan apa pun. Toh persiapan pernikahan telah rampung meski pun wanita yang akan menjadi pengantinnya sama sekali berbeda dengan calon yang ia perkenalkan dulu.


" Satu lagi. Arcana bilang padaku, bahwa saat itu calon Istri Kala lah yang lari menghampiri belatinya. Bahkan calon istri Kala sempat minta tolong padanya. Dari sedikit cerita ini, apa Kalian ga bisa menyimpulkan sesuatu...?" tanya Kyai Ranggana.


Hening memenuhi ruangan. Semua orang saling menatap satu sama lain seolah ingin mencerna ucapan Kyai Ranggana.


" Jadi Kyai menuduh Aku telah menyakiti calon Istriku sendiri hingga membuatnya meninggal ?. Lalu setelahnya Aku mengatur siasat agar bisa menikahi putrimu...?" tanya Kala tiba-tiba.

__ADS_1


" Soal itu hanya Kau yang tau Kala...," sahut Kyai Ranggana santai.


Mendengar jawaban Kyai Ranggana membuat Kala tersenyum.


" Aku tau itu hanya alasanmu dan keluargamu untuk menolak Aku. Tapi Aku tak peduli. Aku akan tetap menikahi Arcana hari ini juga, terserah Kalian suka atau tidak...!" kata Kala lantang.


Ranvier yang menyaksikan perdebatan yang alot itu pun berdiri lalu mengatakan sesuatu yang akan membuatnya makin terikat dengan keluarga Kyai Ranggana.


" Kamu ga bisa menikahi Arcana karena Arcana adalah calon Istriku...!" kata Ranvier tak kalah lantang hingga mengejutkan semua orang termasuk Kyai Ranggana dan istrinya.


Di dalam kamarnya Arcana nampak tersentak kaget mendengar pengakuan lantang Ranvier. Ia bahkan tak sengaja menjatuhkan cermin yang sejak tadi dipegangnya.


" Ranvier...?!" panggil Kyai Ranggana.


" Iya Kyai. Aku minta jangan nikahkan Arcana dengan laki-laki itu. Aku khawatir dia akan menyakiti Arcana nanti...," sahut Ranvier.


" Baik, Aku setuju...," kata Kyai Ranggana sambil tersenyum disambut helaan nafas lega dari semua anggota keluarganya.


Wajah Kala nampak membesi mendengar ucapan Kyai Ranggana. Harga dirinya seolah dicabik di depan umum hingga membuatnya malu bukan kepalang.


" Tunggu Kala...!" sela Sada berusaha melerai.


" Apa lagi yang harus ditunggu. Bawa Arcana keluar dan nikahkan Aku dengannya sekarang juga...!" kata Kala marah.


Beberapa orang dari rombongan Kala pun menerobos masuk hingga membuat suasana menjadi kacau. Tak lama kemudian mereka keluar sambil menyeret Arcana.


Melihat Arcana diperlakukan kasar membuat darah Ranvier mendidih. Ia merangsek maju lalu menyerang orang-orang yang menarik Arcana. Dan perkelahian pun tak terelakkan lagi.


Arcana yang merasa muak dengan kondisi itu pun akhirnya menunjukkan taringnya. Kemampuannya menggunakan belati pun ia perlihatkan di depan semua orang. Arcana meraih seikat sendok dari atas meja lalu melemparnya dengan cepat kearah rombongan Kala yang berniat mengeroyok dia dan Ranvier.


Jeritan pun terdengar saat sendok-sendok itu mengenai sasaran. Beruntung bukan belati yang Arcana gunakan. Jika belati yang digunakan bisa dibayangkan berapa banyak orang yang akan terluka.


Melihat semua orang yang datang bersamanya tumbang satu per satu, Kala pun panik. Di saat bersamaan masuk lah seorang pria berwibawa dikawal beberapa pria ke dalam rumah Kyai Ranggana. Para pengawal itu dengan sigap meringkus Kala dan membuatnya tak berkutik.

__ADS_1


" Lepaskan Aku !. Kalian tak berhak memperlakukan Aku seperti ini...!" jerit Kala.


" Tutup mulutmu Kala !. Sudah cukup Kau membuat kekacauan. Sekarang waktunya Kau pulang dan mempertanggung jawabkan perbuatanmu...!" kata pria itu dengan lantang.


" Jangan halangi Aku untuk menikahi Arcana Ayah. Dia telah merenggut kebahagiaanku...!" sahut Kala.


" Arcana ga tau apa-apa. Aku tau niat busukmu itu Kala. Sekarang bawa dia pergi...!" perintah pria itu.


" Baik Tuan...!" sahut para pengawal pria itu bersamaan sambil menyeret Kala keluar dari rumah Kyai Ranggana.


" Dan Kalian, pulang sana !. Ngapain masih di sini...?!" kata pria itu sambil menatap semua orang yang mendampingi Kala tadi dengan tatapan galak.


Dalam sekejap semua orang yang mengiringi Kala pun berhamburan keluar termasuk Sada. Namun Pria itu mencekal tangan Sada dan menahannya di sana.


Setelah semua orang pergi, pria itu pun menyampaikan permintaan maaf kepada Kyai Ranggana dan keluarganya.


" Perkenalkan Saya Bara, Ayah tiri Kala. Maafkan Saya datang terlambat karena Saya baru tau apa yang Kala lakukan...," kata Bara dengan wajah penuh penyesalan.


" Panggil Saya Kyai Ranggana dan mereka keluarga Saya. Sebenarnya apa yang terjadi Tuan Bara...?" tanya Kyai Ranggana setelah mempersilakan Bara duduk.


" Kala adalah anak sulung Istri Saya dari Suaminya yang dulu. Meski pun begitu Saya menyayanginya dan tak membedakan kasih sayang kepada Kala dan anak Saya lainnya. Hanya saja Kala itu ambisius, serakah dan mau menang sendiri. Dia menggalang kekuatan untuk memberontak dan menduduki posisi Saya sebagai pimpinan. Gadis yang Kala akui sebagai calon istri sebenarnya adalah anak Saya dari istri Saya yang lain alias saudari tirinya sendiri. Kala berpikir jika menikahinya akan membawanya lebih dekat dengan posisi yang dia inginkan. Makanya saat tau gadis itu meninggal, Kala kesal. Ia bermaksud menikahi Arcana hanya untuk melampiaskan dendamnya karena gagal meraih impiannya...," sahut Bara panjang lebar.


" Tapi Anakku tak pernah membunuh anakmu Tuan Bara...," kata Kyai Ranggana.


" Saya tau Kyai. Kala yang telah membunuhnya. Luka lebam di tubuhnya telah menjelaskan apa yang terjadi. Keliatannya Anakku disiksa dan dipukuli hingga meregang nyawa karena menolak dinikahi Kala...," sahut Bara dengan suara bergetar.


Penjelasan ayah tiri Kala menjawab rasa penasaran Kyai Ranggana dan keluarganya.


" Aku turut prihatin atas kepergian putrimu Tuan Bara...," kata Kyai Ranggana.


" Terima kasih Kyai...," sahut Bara sambil tersenyum.


Setelah meminta maaf sekali lagi, Bara pun pamit sambil menyeret Sada pergi bersamanya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2