Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
53. Decker Dan Joshua


__ADS_3

Sepanjang hari itu Ranvier nampak gelisah. Bagaimana tidak, tak seorang pun yang ia kenal di Indonesia bisa ia hubungi.


" Apa-apaan nih !. Masa ga satu orang pun ngangkat telephon dan balas chat Gue. Akmal, Erwin, Kakek, Bang Tomi. Sampe dua suhu itu juga ga bisa Gue hubungin...!" kata Ranvier kesal.


Ranvier nampak menatap lurus ke depan. Ia berpikir keras siapa lagi yang harus ia hubungi. Ranvier nampak tersenyum tipis saat mengingat dua orang yang tinggal bersama sang Kakek.


" Oh iya, Pak Krisna dan Mbok Rah...!" kata Ranvier antusias.


Sesaat kemudian dia mulai mendial nomor ponsel Krisna dan Mbok Rah. Namun setelah menunggu beberapa menit, kedua orang yang dimaksud pun tak memberi respon.


" Ada apaan sih. Masa iya satelit komunikasi bermasalah. Ini udah antar negara lho. Kalo sampe dua negara ini ga bisa saling bertukar informasi bisa morat-marit dong perekonomian negara...," gumam Ranvier kesal.


Ranvier menoleh ke kanan dan melihat Decker tengah bicara dengan seseorang di ponselnya. Ia melihat Joshua yang berdiri tak jauh dari Decker dan juga sedang menelephon seseorang. Ranvier yakin jika dua temannya itu sedang bicara dengan keluarga mereka masing-masing. Apalagi dialog Joshua yang asli warga negara Jepang itu terdengar jelas di telinga Ranvier.


Decker dan Joshua nampak tersenyum melihat Ranvier mendekat kearah mereka.


" Kenapa muka Lo kaya gitu Vier...?" tanya Joshua sesaat setelah mengakhiri percakapan via telepon itu.


" Gapapa. Lo lagi telephon siapa...?" tanya Ranvier basa-basi.


" Telephon keluarga di Jepang. Mama bilang kalo Adik perempuan Gue baru aja dilamar sama pacarnya. Mungkin dua bulan lagi mereka mau tunangan dan tahun depan nikah...," sahut Joshua dengan wajah berseri-seri.


" Wah selamat ya Josh. Sebentar lagi bakal punya ponakan dong...," gurau Ranvier.


" Masih lama Vier. Kan nikahnya tahun depan. Walau pun jaman udah canggih, tapi keluarga Gue masih kolot Vier. Hubungan se* di luar nikah tuh haram. Makanya jangan harap anak yang lahir akibat hubungan se* di luar nikah bakal diakui keluarga. Yang ada justru mereka dan anak-anak mereka bakal dibuang jauh. Terus si pelaku se* bebas bakal ditandain sampe ga berani muncul di acara keluarga...," kata Joshua dengan mimik wajah serius.


" Oh gitu. Apa semua keluarga di Jepang kaya gitu Josh...?" tanya Ranvier.


" Kalo keluarga lain Gue ga tau ya Vier. Kan Gue bilang itu aturan di keluarga Gue. Emang kolot sih, tapi Gue bersyukur karena itu bisa membuat Kami yang generasi muda ini bisa berhati-hati dalam bergaul dengan lawan jenis...," sahut Joshua sambil tersenyum.


" Setuju...!" sahut Ranvier lantang hingga membuat Joshua tertawa.


" Apa itu artinya Lo sama pacar Lo ga ngapa-ngapain Josh...?" tanya Decker tiba-tiba sambil menepuk bahu Joshua dari belakang.


Joshua menoleh kearah Decker sambil mengerutkan keningnya.


" Maksud Lo gimana ya Deck...?" tanya Joshua tak mengerti.

__ADS_1


" Kan tadi Lo bilang aturan keluarga Lo tuh kolot. Makanya Gue nanya, emangnya Lo sama pacar Lo ngapain aja kalo ketemuan...?" tanya Decker.


" Ya ngobrol lah. Apalagi emangnya...?" tanya Joshua dengan enggan.


" Masa sih, ga percaya Gue. Kita kan cowok normal. Masa iya ga tertarik melakukan ini dan itu sama pacar. Ya semacam kiss atau raba-raba gitu lah. Ups, maksud Gue sama pacar sendiri lho ya, bukan pacar orang lain...," kata Decker sambil menahan tawa.


Joshua nampak tak nyaman dengan pertanyaan Decker yang terlalu vulgar itu. Ranvier yang mengerti pun mencoba menengahi. Ia menepuk pundak Decker lalu berkata.


" Semua orang punya ranah pribadi yang ga bisa dishare sama orang lain Bro. So, ga ada salahnya Kita hormati prinsip Joshua dan keluarganya itu...," kata Ranvier bijak.


Seolah tersadar, Decker pun menoleh kearah Ranvier lalu kembali menatap Joshua.


" Lo bener Vier. Sorry ya Josh, bercandaan Gue emang kelewatan tadi...," kata Decker dengan nada menyesal sambil mengulurkan tangannya kearah Joshua.


Melihat wajah penyesalan Decker dan niat tulusnya meminta maaf, Joshua pun tersenyum. Ia mengangguk lalu menyambut uluran tangan Decker. Setelahnya Joshua dan Decker saling memeluk erat sambil tertawa-tawa.


Menyaksikan kedua temannya berdamai, Ranvier pun ikut tersenyum bahagia.


Ranvier memahami gaya berpacaran Decker karena Decker adalah warga negara Amerika yang pergaulannya terkenal bebas. Mungkin itu salah satu sebab mengapa Decker sulit percaya di jaman seperti ini masih ada pasangan yang berpacaran tanpa melakukan hubungan se*.


Setelah Joshua dan Decker mengurai pelukan, mereka menoleh kearah Ranvier.


" Karena Lo udah ngeluarin kalimat bijak yang bikin Kita berdua ga jadi perang. Yuk Kita ke kantin. Gue traktir Lo makan sepuasnya...," ajak Decker.


" Serius Lo...?" tanya Ranvier.


" Iya...," sahut Decker cepat.


" Cuma Ranvier aja yang ditraktir Deck...?" tanya Joshua merajuk.


" Lo juga kok, ga usah ngambek gitu dong Josh...!" sahut Decker lantang.


Ucapan Decker membuat Ranvier dan Joshua tertawa. Kemudian ketiganya melangkah menuju kantin universitas.


\=\=\=\=\=


Malam harinya Ranvier kembali mencoba menghubungi keluarganya di Jakarta. Beruntung kali ini Ranvier mendapat sambutan.

__ADS_1


" Assalamualaikum Ranvier...!" sapa sang Kakek antusias.


" Wa alaikumsalam Kakek. Gimana keadaan Kakek di sana, sehat-sehat aja kan...?" tanya Ranvier.


" Alhamdulillah Kakek sehat. Kamu sendiri sehat juga kan. Gimana kuliahmu, ada kendala ga...?" tanya Kakek Randu.


" Alhamdulillah lancar Kek. Ngomong-ngomong kenapa dari kemarin Aku telephon ga diangkat sih Kek...?" tanya Ranvier.


" Itu yang mau Kakek tanyain. Kenapa Kamu ga bisa dihubungi selama seminggu lebih. Telephon atau chat juga ga dibalas sama sekali. Kakek bahkan nyuruh Krisna, Tomi, Erwin dan Akmal buat telephon Kamu lho Vier...," sahut Kakek Randu.


" Masa sih Kek...?" tanya Ranvier tak percaya, karena seingatnya orang-orang di Jakarta lah yang tak bisa ia hubungi.


Ranvier juga ingat jika seminggu ini ia tak pernah mendapat telephon, pesan atau chat dari orang-orang yang disebutkan Kakeknya tadi.


" Oh iya. Apa Kakek dapat undangan dari Akmal Kek...?" tanya Ranvier mengganti topik pembicaraan.


" Undangan dari Akmal, ga ada tuh. Emangnya dia mau ngadain hajatan ?. Hajatan apa...?" tanya Kakek Randu.


Ranvier terkejut mendengar jawaban sang Kakek. Ia semakin khawatir dengan kondisi Akmal.


" Ranvier, Kamu masih di sana kan...?!" panggil Kakek Randu dari seberang telephon.


" Iya Kek...," sahut Ranvier cepat.


" Undangan Akmal tadi, maksud Kamu apa Vier...?" tanya Kakek Randu.


" Bukan apa-apa Kek. Aku kirain Akmal udah mulai nyebar undangan. Kan dia pernah bilang kalo mau married tahun ini. Kalo gitu Aku tanya langsung sama dia deh Kek...," kata Ranvier.


" Iya, tanyain sama Akmal ya Vier. Bilang sama dia Kakek marah kalo ga diundang. Padahal dua hari yang lalu dia datang ke sini tapi ga cerita apa-apa soal pernikahannya. Ga mungkin dia lupa kan. Akmal dan Erwin itu pasti paham gimana Kakek kalo lagi marah...," kata Kakek Randu.


" Siap Kek. Aku tutup dulu ya Kek, Assalamualaikum...," kata Ranvier mengakhiri percakapan.


Ranvier nampak membeku di tempat saat mengetahui Akmal tak menyebar undangan sama sekali. Ia pun teringat dengan kartu undangan berwarna abu-abu yang ia terima beberapa hari yang lalu.


Dengan sigap Ranvier bangkit dari duduknya lalu bergegas menuju ke kamar untuk mencari kartu undangan berwarna abu-abu itu.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2