
Di dimensi lain Ranvier nampak sedang duduk sambil menatap sebuah lembaran kertas berukuran besar di hadapannya. Saat itu ia tengah berada di sebuah tenda terbuat dari kulit hewan. Ranvier baru saja berhasil memimpin aksi pengusiran terhadap orang-orang yang ingin menduduki wilayah kekuasaan Kyai Ranggana.
Ranvier mendongakkan wajahnya saat mendengar suara langkah kaki mendekat kearah tenda.
" Pak Damar...!" panggil Ranvier lantang.
" Iya, ini Aku. Bagaimana Kamu bisa menebak dengan tepat siapa yang datang ke sini Mas Ranvier...?" tanya Damar .
" Selama di sini Aku terbiasa mendengar suara tanpa wujud. Dan Aku mulai menghapal langkah kaki Kalian supaya Aku ga terkecoh...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
" Setelah semua ini usai, apakah Kita masih bisa bersama Mas...?" tanya Damar.
" Mungkin ga bisa...," sahut Ranvier.
" Kenapa ?. Apa Kamu ga suka melihatku...?" tanya Damar kecewa.
" Bukan begitu. Aku suka berinteraksi dengan Pak Damar dan semua orang baik yang ada di sini. Tapi untuk tinggal dan menetap lagi seperti ini rasanya sulit. Aku punya tanggung jawab baru sekarang yaitu Nada. Dia Istriku. Aku menikahinya dengan mengucap janji di hadapan Allah. Aku ga mau Allah murka karena Aku melalaikan Istriku. Selain itu Aku sudah bilang bahwa ini kali terakhir Aku ke sini dan Kyai Ranggana pun setuju...," sahut Ranvier tegas.
Saat Ranvier menyebut nama Allah, tanah dimana mereka berpijak terasa bergetar hingga membuat tubuh Damar terhuyung dan nyaris jatuh. Ranvier tersenyum melihatnya.
Selama Ranvier tinggal di sana, Damar dan semua orang harus membiasakan diri dengan getaran tanah yang mereka pijak. Itu terjadi saat Ranvier menunaikan sholat lima waktu.
Semua orang di sana terpaksa menyetujui permintaan Ranvier sebagai syarat agar Ranvier mau membantu mereka.
Lima bulan yang lalu Damar datang menjemput Ranvier di kamar hotel tempat Ranvier dan Nada menginap. Damar datang dengan tubuh penuh luka dan itu mengejutkan Ranvier.
" Kenapa Pak Damar terluka begini ?, apa yang terjadi...? " tanya Ranvier saat itu.
" Tolong Mas. Tolong Kami...," rintih Damar kala itu.
" Kami ?. Apa yang terjadi Pak Damar...?!" tanya Ranvier.
" Kami diserang Mas. Kyai Ranggana kewalahan menghadapi mereka sendirian karena Ganesh tertangkap. Apalagi saat ini Arcana sedang hamil besar dan ga mungkin membantu Kami. Kyai Ranggana juga ga ingin membahayakan cucunya dengan pergi menjemput Ganesh dan meninggalkan Arcana...," sahut Damar sambil meringis menahan sakit.
" Siapa mereka...?" tanya Ranvier.
" Kami juga belum tau. Semua terlalu mendadak dan di luar dugaan. Kyai Ranggana mengutusku kemari untuk minta bantuanmu secara khusus. Ini buktinya...," kata Damar sambil memperlihatkan sebuah benda milik Kyai Ranggana.
__ADS_1
" Insya Allah Aku akan membantu. Tapi jangan sekarang. Aku baru saja menikah dan Aku ga mungkin meninggalkan Istriku begitu saja...," sahut Ranvier gusar.
" Kami mohon Mas. Ini darurat. Ada nyawa bayi yang dipertaruhkan di sini. Tak hanya satu, tapi ada tiga bayi di rahim Arcana. Kyai Ranggana dan Kami semuanya berharap banyak pada ketiga bayi calon penerus Kyai Ranggana itu. Arcana shock berat saat tau Suaminya tertangkap. Dia...," Damar sengaja menggantung ucapannya berharap Ranvier mengerti maksudnya.
Ranvier pun menghela nafas panjang. Ia tak sanggup membayangkan rasa sakit dan panik yang harus ditanggung Arcana saat ini. Dalam kondisi hamil besar ia harus menghadapi situasi pelik, suami ditawan dan ia tak bisa melakukan apa-apa. Jangankan membantu, untuk bergerak leluasa pun sulit. Arcana harus memikirkan keselamatan bayinya, sang calon penerus tahta Ayahnya.
" Aku akan ikut tapi jangan halangi Aku menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim nanti...," kata Ranvier.
" Kewajiban apa maksudmu...?" tanya Damar tak mengerti.
" Aku mau Kalian membiarkan Aku sholat. Hanya itu...!" sahut Ranvier tegas.
" Baik lah. Aku mewakili semuanya menyatakan setuju dengan permintaanmu ini...," kata Damar hingga membuat Ranvier tersenyum.
Sebelum pergi, Ranvier menoleh kearah kamar mandi dimana Nada berada.
" Maafkan Aku Sayang. Ini darurat, Aku akan jelasin semua nanti...," gumam Ranvier.
Setelahnya Damar mengajak Ranvier pergi. Namun dengan kondisi tubuhnya yang terluka membuat tubuh Damar pun tak seimbang hingga menabrak jendela dan menimbulkan suara gaduh. Suara itu lah yang didengar Nada.
Ranvier pun mengusap wajahnya saat teringat dengan sang istri. Sudah seminggu lebih ia ada di sana dan itu artinya bisa berbulan-bulan lamanya ia pergi. Tanpa memberi pesan atau kabar, ia yakin Nada marah dan membencinya.
" Istrimu baik-baik saja...," kata Damar tiba-tiba hingga mengejutkan Ranvier.
" Pak Damar menemui Nada...?" tanya Ranvier penuh harap.
" Iya. Kyai Ranggana mengutus Barong untuk menjaganya dan Aku yang mengantar Barong ke sana...," sahut Damar cepat.
" Barong...?!" tanya Ranvier tak percaya.
" Iya. Kenapa Kamu terkejut begitu ?. Oh Aku tau. Pasti Kamu mengira Nada akan menjerit ketakutan dan lari tunggang langgang saat melihatnya. Kamu salah Ranvier !. Nada meringkusnya dan membuat Barong ada di bawah kakinya...," kata Damar kesal namun membuat Ranvier tersenyum.
" Aku percaya. Nada memang Istriku...," sahut Ranvier bangga.
" Dia memang hebat. Selain cantik dia juga tangguh. Pasti banyak pria di luar sana yang menginginkannya...," kata Damar sambil tersenyum.
" Aku ga akan biarkan itu terjadi !. Setelah ini selesai Aku akan pulang. Dengan atau tanpa persetujuan Kyai Ranggana..., " sahut Ranvier cepat hingga membuat Damar menggelengkan kepala.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Ranvier menyelinap masuk ke dalam benteng lawan bersama Damar dan beberapa orang pilihan.
Strategi Ranvier kali ini adalah menyelinap masuk di saat musuh tengah menggelar keramaian mirip karnaval. Semua warga tumpah ruah ke jalan untuk melihat berbagai atraksi yang diperlihatkan para peserta karnaval. Ranvier pun sempat terkesima melihat pertunjukan itu hingga membuatnya ditegur oleh Damar.
" Kapan Kita masuk Mas...?" tanya Damar.
" Oh iya. Sebentar lagi Pak. Kita bagi tugas ya. Ingat, bertingkah seperti warga biasa aja biar ga mencolok. Siapa pun yang tiba di dalam benteng lebih dulu, tunggu Saya...," kata Ranvier.
" Siap...!" sahut Damar dan semuanya bersamaan.
Kemudian Ranvier, Damar dan beberapa pria itu mulai berpencar. Setelah berhasil masuk ke dalam benteng, kini mereka mencari tempat dimana Ganesh ditawan. Di luar dugaan, ternyata benteng tak berpenjaga. Rupanya para penjaga juga tertarik dengan atraksi di luar sana hingga melalaikan tugas mereka.
" Ganesh...!" panggil Ranvier saat tiba di ruang bawah tanah.
" Aku di sini Ranvier...!" sahut Ganesh.
Ranvier bergegas masuk dan melihat Ganesh dipasung di tiang yang digantung sedemikian rupa. Seluruh tubuh dan wajah Ganesh saat itu dipenuhi luka dan darah yang telah mengering.
" Kau sendiri Ranvier ?. Mana yang lain...?" tanya Ganesh cemas.
" Aku datang sama Pak Damar dan beberapa orang. Ini, gimana cara membukanya...?" tanya Ranvier bingung.
" Itu ga bisa dibuka. Karena membukanya ibarat buah simalakama...," sahut Ganesh sambil tersenyum getir.
" Apa maksudmu...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Jika Kamu menarik tuas yang kanan, maka tubuhku akan melayang jatuh dengan pinggang putus. Jika Kamu melepas ikatan itu, maka kepalaku yang akan lepas dari tubuhku. Dan...," Ganesh tak melanjutkan ucapannya karena merasa sia-sia menjelaskan semuanya.
" Pasti ada cara untuk melepaskan ikatan ini Ganesh...!" kata Ranvier gusar.
" Ga usah Ranvier. Aku tau umurku ga akan lama. Aku... Aku titip keluargaku. Tolong lindungi Arcana dan Anak-anakku. Aku mohon...," kata Ganesh dengan suara bergetar.
Ucapan Ganesh membuat Ranvier terkejut. Ia membisu karena tak tahu harus berkata apa.
\=\=\=\=\=
__ADS_1