Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
31. Membujuk


__ADS_3

Kini kakek Randu, Ranvier dan Daeng Payau tengah duduk di ruang kerja kakek Randu. Saat itu Ranvier sedang menceritakan pengalamannya berlibur di kampung halaman Tomi.


Tak lama kemudian pintu diketuk dan Krisna pun masuk.


" Maaf Pak, Ustadz Rahman sudah ada di sini...," kata Krisna.


" Suruh masuk aja Kris. Kamu jangan kemana-mana, duduk di sini dan dengarkan apa yang mau Kami bicarakan...," kata kakek Randu.


" Baik Pak...," sahut Krisna.


Kemudian Krisna membuka pintu dan mempersilakan Ustadz Rahman masuk ke dalam ruang kerja kakek Randu.


" Assalamualaikum semua...," sapa ustadz Rahman dengan kocak hingga membuat semua orang tertawa.


Kemudian ustadz Rahman mendekati kakek Randu dan mencium punggung tangannya. Di samping Kakek Randu tampak Daeng Payau merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang ustadz. Setelah keduanya saling memeluk, giliran Ranvier yang mencium punggung tangan sang ustadz dengan takzim.


" Apa ada hal penting yang mengharuskan Saya datang ke sini Pak...?" tanya ustadz Rahman setelah ia duduk di kursi.


" Ada. Kamu aja yang cerita Daeng...," kata Kakek Randu sambil melirik kearah Daeng Payau.


" Baik Pak...," sahut Daeng Payau.


Kemudian Daeng Payau menceritakan kejadian yang dialaminya bersama Ranvier. Semua orang nampak mendengarkan dengan serius.


" Jadi kesimpulannya, mereka menculik Ranvier karena ingin menukar jiwa Ranvier dengan jiwa remaja yang udah mati itu...," kata Daeng Payau di akhir ceritanya.


Ucapan Daeng Payau membuat Ranvier dan kakeknya bergidik.


" Ya Allah, apa jadinya kalo Kamu terlambat datang Daeng...," kata Kakek Randu sambil menggelengkan kepala.


" Semua karena kehendak Allah Pak. Saya hanya perantara yang dipilih oleh Allah untuk membantu menyelamatkan Ranvier...," sahut Daeng Payau merendah.


" Betul Daeng. Sekarang apa yang Bapak inginkan...?" tanya ustadz Rahman.


" Aku ingin Kalian berdua mengurus Ranvier...," sahut kakek Randu sambil menatap ustadz Rahman dan Daeng Payau bergantian.

__ADS_1


" Mengurus Ranvier...?!" tanya Daeng Payau tak mengerti.


" Iya. Bukan mengurus dalam arti sesungguhnya apalagi membiayai hidupnya. Tugas Kalian hanya membimbingnya supaya dia tau bagaimana cara menghadapi gangguan mistis lain ke depannya. Jujur Aku memang khawatir dengan masa depan Ranvier. Tapi setelah kejadian ini, kekhawatiranku makin bertambah...," kata Kakek Randu gusar.


Ustadz Rahman dan Daeng Payau nampak saling menatap sejenak kemudian mengangguk.


" Insya Allah Kami ga keberatan. Tapi bagaimana dengan Ranvier, apa dia mau Kami bimbing...?" tanya ustadz Rahman sambil melirik kearah Ranvier.


" Aku mau Ustadz...!" sahut Ranvier cepat hingga membuat empat orang lainnya tersenyum.


" Yang bener, Saya denger Kamu ga mau masuk pesantren. Padahal salah satu cara yang Kami pilih adalah memasukkanmu ke dalam pesantren untuk belajar...," kata ustadz Rahman.


" Darimana Ustadz tau Aku ga mau masuk pesantren...? " tanya Ranvier sambil mengerutkan keningnya.


" Cari info soal Kamu itu gampang Ranvier. Jadi benerkan yang Saya bilang tadi. Kenapa ?, apa Kamu pikir pelajaran di pesantren itu pelajaran yang terlalu mudah atau ga bergengsi jadi bikin Kamu malu masuk ke sana...?" tanya ustadz Rahman.


" Mmm..., sebenernya Aku ga bermaksud ngeremehin pelajaran di pesantren Ustadz. Aku justru takut ga bisa ngikutin pelajaran di sana karena Aku kan bukan anak yang baik...," sahut Ranvier sambil menundukkan kepala.


" Maksud Kamu bukan anak yang baik apa Vier ?. Kakek pikir Kakek udah tau semua tentang kenakalan Kamu, jadi ternyata Kakek salah ya. Jangan-jangan Kamu sengaja menyembunyikan perbuatan burukmu yang lain selama ini...?" sela kakek Randu.


Suasana mendadak hening.


Semua orang terharu mendengar ucapan Ranvier. Sedangkan kedua mata kakek Randu nampak berkaca-kaca usai mendengar pengakuan cucu semata wayangnya itu. Kakek Randu percaya jika Ranvier mengatakan semuanya dengan sungguh-sungguh.


" Jadi itu alasanmu menolak masuk pesantren...? " tanya kakek Randu dengan suara parau.


" Iya Kek...," sahut Ranvier mantap.


" Kemari lah...," kata kakek Randu sambil merentangkan kedua tangannya.


Ranvier pun bangkit lalu menghambur ke pelukan sang kakek. Untuk sesaat keduanya larut dalam perasaan yang mengharu biru. Kakek Randu nampak menepuk punggung Ranvier dengan lembut sambil tersenyum.


Semua orang pun ikut tersenyum melihat moment kebersamaan kakek dan cucu itu.


Beberapa saat kemudian keduanya saling mengurai pelukan. Kakek Randu pun mencoba membujuk sang cucu agar bersedia mengikuti pendidikan di pesantren.

__ADS_1


" Terima kasih karena udah mengkhawatirkan Kakek. Insya Allah Kakek akan baik-baik aja kok. Kamu bisa belajar di sana dan Kakek janji bakal nunggu Kamu pulang nanti. Atau kalo perlu Kakek yang akan jemput Kamu ke sana sambil bawa rangkaian bunga saat Kamu dinyatakan lulus nanti...," gurau kakek Randu sambil mengusap kepala Ranvier.


" Aku ga mau Kek...," sahut Ranvier cepat.


" Pelajaran di sana ga sesulit yang Kamu bayangkan kok. Justru itu bisa bikin Kamu paham tentang hidup sesuai tuntunan agama Vier. Kakek ga mampu mengajarkan Kamu dengan baik karena Kakek sibuk ngurus bisnis Kakek yang banyak itu. Dan liat hasilnya. Kamu sekarang tumbuh jadi anak yang keras kepala, ga berakhlak dan suka bikin keributan yang bikin Kakek pusing tujuh keliling mikirinnya...," kata kakek Randu sambil menyigar rambutnya yang beruban itu.


" Aku udah belajar jadi lebih baik kok. Sekarang Kakek bisa liat kan gimana sikapku sama orang-orang di sekitarku...," sahut Ranvier membela diri.


" Tapi Kamu perlu bekal untuk masa depanmu Vier. Bukan cuma bekal uang atau harta yang memang bakal Kakek wariskan nanti. Kamu juga perlu bekal mental yang kuat supaya bisa menjalani hidup dengan baik. Kakek ga mau Kamu jadi g*la karena terus dikejar makhluk halus yang ga tau apa maunya itu...," kata kakek Randu dengan sabar.


Ranvier tersentak lalu menatap sang kakek lekat.


" Emangnya Aku bakal masih dikejar-kejar sama makhluk halus itu Kek...?" tanya Ranvier.


" Iya. Tanya sama Ustadz Rahman dan Paman Daengmu itu kalo Kamu ga percaya...," sahut Kakek Randu.


Ranvier menoleh kearah ustadz Rahman dan Daeng Payau. Keduanya mengangguk dan itu membuat Ranvier gelisah.


" Apa cuma dengan masuk pesantren Aku baru bisa menghadapi mereka. Apa ga ada cara lain Ustadz, Paman...?" tanya Ranvier putus asa.


Melihat kondisi Ranvier membuat ustadz Rahman iba. Ia tersenyum lalu mengatakan sesuatu yang juga membuat Ranvier tersenyum.


" Ada. Asal Kamu janji bakal mengikuti semuanya dengan serius, Saya dan Paman Daengmu bersedia membantu. Bukan begitu Daeng...?" tanya ustadz Rahman sambil menoleh kearah Daeng Payau.


" Insya Allah siap. Tapi Saya ga yakin kalo Ranvier bisa serius Ustadz...," sahut Daeng Payau sambil menatap Ranvier lekat.


" Bisa !. Insya Allah Aku bisa serius kok...!" kata Ranvier lantang.


Ucapan Ranvier yang menyertakan kata 'insya Allah' mengejutkan semua orang. Mereka saling menatap satu sama lain sambil tersenyum.


" Ok, deal. Kamu boleh pilih sekolah yang Kamu mau. Selain itu Kamu akan dibimbing oleh Ustadz Rahman dan Daeng Payau dalam hal spiritual. Bagaimana Ranvier...?" tanya kakek Randu sambil mengulurkan tangannya untuk mengajak Ranvier berjabat tangan.


" Ok. Aku setuju Kek...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


Kemudian Ranvier meraih telapak tangan sang kakek dan menjabatnya dengan erat. Peristiwa itu menjadi titik awal keseriusan Ranvier belajar mengenal dunia ghaib di bawah bimbingan Ustadz Rahman dan Daeng Payau.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2