Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
155. Siapa Zero ?


__ADS_3

Meski pun berusaha tenang, sesungguhnya Ranvier merasa khawatir dengan keselamatan calon istrinya. Karenanya ia mengerahkan kemampuannya untuk menjaga Nada.


" Keliatannya ada yang ga suka sama rencana pernikahan Gue sama Nada Win. Makanya Gue dapet pesan kaleng kaya gini...," kata Ranvier.


" Masuk akal Vier. Lo dan Nada kan sama-sama anak dari keluarga pebisnis. Semua orang yang ngerti bisnis pasti ngira kalo ini pernikahan bisnis juga. Makanya banyak rival bisnis yang kebakaran jenggot dan mencoba mencari peruntungan di moment besar ini untuk menjegal langkah Kalian ke depannya nanti. Kalo pernikahan Kalian batal, itu artinya kekuatan Kalian berkurang. Betul ga sih...?" tanya Erwin.


" Iya juga. Tapi feeling Gue bilang ini bukan dilakukan oleh rival bisnis Win...," kata Ranvier.


" Maksud Lo orang lain, siapa Vier...?" tanya Erwin tak mengerti.


" Kalo tentang siapanya Gue juga belum tau. Keliatannya ini dilakukan oleh orang yang punya dendam pribadi sama Nada atau bahkan Ayahnya...," sahut Ranvier.


" Bisa jadi. Apalagi Nada dan Ayahnya punya rekam jejak yang lumayan bikin geleng-geleng kepala. Iya kan Vier...?" tanya Erwin sambil tersenyum penuh makna.


" Iya...," sahut Ranvier ikut tersenyum.


Bukan tanpa alasan Ranvier dan Erwin bicara seperti itu. Wijaya adalah pebisnis yang kurang terkenal. Ia justru terkenal karena kasus perselingkuhannya dengan adik iparnya sendiri yaitu Ayu.


Sedangkan Nada terkenal sebagai gadis arogan dan suka berkelahi hanya untuk melampiaskan kekesalannya pada perilaku ayah dan tantenya itu. Apalagi akibat perselingkuhan Wijaya dan Ayu menyebabkan ibu kandungnya meninggal dunia. Sejak saat itu Nada menjadi sosok yang kasar dan gemar berkelahi di jalanan. Meski pun ia kerap membela orang kecil dan lemah yang dianiaya preman, toh itu tak sebanding dengan image buruk yang terlanjur melekat padanya.


" Jadi apa yang mau Lo lakuin Vier...?" tanya Erwin.


" Gue udah nyuruh orang-orang Gue buat bikin penjagaan extra di sekitar Nada dan Pak Wijaya termasuk Kakek Gue...," sahut Ranvier.


" Bagus Vier, Gue setuju...," puji Erwin hingga membuat Ranvier tersenyum.


" Dan sekarang Gue lagi nunggu laporan dari orang Gue yang menyelidiki nomor asing itu...," kata Ranvier lagi.


" Apa bisa Vier...?" tanya Erwin ragu.


" Insya Allah bisa. Jaman canggih harus disikapi dengan cara yang canggih juga. Iya kan Win...?" tanya Ranvier yang diangguki Erwin.


Tiba-tiba sekretaris pengganti Riska mengetuk pintu. Ranvier dan Erwin pun menoleh kearah pintu.


" Ada apa Yan...?" tanya Ranvier.


" Ada tamu untuk Bapak. Namanya Zero, katanya udah bikin janji sama Bapak...," sahut Yanti dengan santun.


" Oh ya, suruh dia masuk aja Yan...!" kata Ranvier antusias.


" Baik Pak...," sahut Yanti lalu kembali menutup pintu.

__ADS_1


" Siapa Vier...?" tanya Erwin penasaran.


" Sssttt..., liat aja nanti...," sahut Ranvier sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.


Tak lama kemudian pria bernama Zero pun masuk ke dalam ruangan. Ranvier berdiri lalu menyambut Zero dengan kedua tangan terentang. Erwin nampak termangu di tempat saat mengetahui pria bernama Zero itu mengenakan seragam yang mirip seragam polisi.


" Apa kabar Vier...," sapa Zero sambil memeluk Ranvier dengan erat.


" Alhamdulillah kurang baik. Gimana Vid, apa udah nemu sesuatu...? " tanya Ranvier tak sabar.


" Udah sih. Tapi gapapa nih diomongin di sini...?" tanya Zero sambil melirik Erwin.


" Oh iya Gue lupa. Ini Erwin, sahabat sekaligus asisten pribadi Gue di kantor. Nah Win, kenalin ini David. Temen SMP yang pernah Gue ceritain sama Lo dulu...," kata Ranvier.


Erwin pun berdiri lalu menjabat tangan David alias Zero dengan hangat.


" Maksud Lo, temen SMP yang punya cita-cita jadi Polisi itu Vier...?" tanya Erwin ragu.


" Betul Win. Sekarang dia jadi Polisi beneran. Bukan di Indonesia tapi di negara tetangga...," sahut Ranvier cepat hingga membuat Erwin takjub.


" Hebat Lo Vid...," puji Erwin dengan tulus.


" Ga usah nyindir Vid. Seinget Gue, justru Gue adalah orang pertama yang ga percaya sama kemampuan Lo...," sahut Ranvier sambil mencibir hingga membuat David dan Erwin tertawa keras.


" Terus kenapa Lo dipanggil Zero...?" tanya Erwin tak mengerti.


" Oh, itu nama samaran Gue saat menjalankan tugas lain di luar job desk sebagai anggota kepolisian...," sahut David sambil tersenyum.


" Oh gitu...," kata Erwin sambil mengangguk.


" Terus gimana hasilnya Vid...?" tanya Ranvier tak sabar.


" Ini dia...," sahut David sambil mengeluarkan amplop besar dari balik pakaiannya lalu meletakkannya di atas meja.


Ranvier bergegas membuka amplop dan mengeluarkan semua isinya. Ada beberapa lembar foto dan beberapa dokumen lainnya di sana. Ranvier meraih foto Nada saat gadis itu mengenakan jaket, berambut sebahu dan bertopi lusuh. Berlatar belakang gedung-gedung tinggi di daerah jalan Sudirman, Nada tampak cantik alami meski pun tanpa make up. Ranvier tersenyum menatap foto Nada lalu menyimpannya ke dalam saku bajunya.


" Apaan yang Lo simpen Vier ?. Coba Gue liat...!" pinta Erwin.


" Ga usah. Ini foto Nada waktu masih jadi preman...," sahut Ranvier cepat.


" Wah pasti keren ya Vier. Gue liat dong Vier...," pinta Erwin setengah memaksa.

__ADS_1


" Ga usah !. Ini buat koleksi pribadi. Dan Lo Vid, jangan coba cari foto Nada dalam kondisi kaya gini lagi ya...!" kata Ranvier sambil menatap David dengan tatapan galak.


" Siap Pak...!" sahut David sambil tersenyum penuh makna hingga membuat Erwin berdecak kesal.


" Jadi dari semua ini, intinya apa Vid...?" tanya Ranvier setelah melihat semua foto dan beberapa dokumen juga rekening Bank milik Ayu, tante sekaligus mantan ibu tiri Nada.


" Cowok ini, namanya Soni. Dia mantan security di rumah Pak Wijaya. Waktu Ayu jadi istrinya Wijaya, dia selingkuh sama Soni. Mereka sering terlihat bersama bahkan sampe ke ranjang segala...," sahut David.


" Apa Nada tau tentang ini...?" tanya Ranvier.


" Keliatannya Nada ga tau, soalnya ini terjadi saat dia kabur dari rumah Pak Wijaya...," sahut David cepat.


" Syukur lah. Gue ga bisa bayangin gimana perasaan Nada kalo tau tantenya sebin*l itu. Udah menggoda Ayahnya, masih juga selingkuh sama security...," kata Ranvier sambil bergidik jijik.


" Tapi dia udah dipecat kan Vid ?. Gue ga ngeliat dia waktu acara lamaran Ranvier kemaren...," kata Erwin.


" Betul Win. Dia dipecat ga hormat, tanpa pesangon dan disuruh bawa Ayu pergi sekalian. Menurut sumber yang terpercaya, Soni dan Ayu bertengkar di pinggir jalan lalu Soni ninggalin Ayu gitu aja. Dan besoknya Ayu ditemukan meninggal dunia tanpa busana di trotoar ga jauh dari tempat Soni meninggalkannya...," sahut David.


" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun. Kasian banget sih...," gumam Erwin.


" Kok kasian sih Win. Itu hukuman yang layak buat cewek ga bermoral kaya dia...!" kata Ranvier gusar.


" Erwin kasian sama Ayu karena ngeliat wajahnya yang cantik itu Vier...," gurau David.


" Ck, wajah cantik tapi bikin sakit hati. Masa ga kapok juga sih Win...," kata Ranvier sambil menatap Erwin lekat.


" Udah deh, kenapa jadi ngebahas Gue sih. Kita kan lagi ngebahas mereka...," sahut Erwin sambil menunjuk foto Ayu dan Soni.


" Oh iya. Terus gimana Vid...?" tanya Ranvier.


" Soni adalah tersangka utama yang udah ngirim surat kaleng ke ponsel Lo itu Vier. Udah bisa ditebak kan motifnya, apalagi kalo bukan sakit hati sama Pak Wijaya karena udah mecat dia tanpa pesangon...," sahut David.


" Tangkep dia Vid...!" pinta Ranvier.


" Siap...!" sahut David lantang.


" Kalo berhasil nuntasin semuanya, Gue bakal kirim bonus besar ke rekening Zero...!" kata Ranvier saat David membuka pintu.


David pun mengacungkan ibu jarinya pertanda setuju. Ia pun bergegas keluar dari ruangan Ranvier lalu pergi menuju satu tempat dimana Soni sembunyi dan melakukan aksinya selama ini.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2