
Ranvier tiba di rumah bersamaan dengan kedatangan Ustadz Rahman. Ia turun dari mobil lalu bergegas menghampiri sang ustadz dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
" Assalamualaikum Ustadz...," sapa Ranvier.
" Wa alaikumsalam Ranvier...," sahut ustadz Rahman sambil tersenyum.
" Kita masuk aja Ustadz, Paman Daeng udah ada di dalam rumah sejak tadi...," ajak Ranvier.
" Ok...," sahut ustadz Rahman lalu berjalan mendahului Ranvier.
Tiba di ambang pintu Ustadz Rahman dan Ranvier disambut oleh Krisna. Setelah berjabat tangan dengan ustadz Rahman, Krisna pun menepi.
" Bagaimana keadaan Nada sekarang Pak Kris...?" tanya Ranvier sambil menggulung lengan bajunya hingga ke siku.
" Masih tenang Mas...," sahut Krisna.
" Masih tenang, apa itu artinya Nada bakal melakukan sesuatu yang heboh lagi nanti...?" tanya Ranvier.
" Saya ga bisa jawab Mas. Sebaiknya Mas tanya langsung aja sama Pak Daeng..., " sahut Krisna sambil menunjuk kearah Daeng Payau yang sedang berbincang dengan kakek Randu.
Ranvier mengangguk lalu bergegas menyusul Ustadz Rahman yang sudah bergabung dengan kakek Randu dan Daeng Payau.
Saat Ranvier membuka mulut untuk bertanya, tiba-tiba terdengar jeritan di kamar tamu. Semua orang refleks menoleh lalu bergegas ke kamar tamu.
Ranvier terkejut saat melihat kondisi Nada yang terbaring dengan tangan dan kaki diikat ke belakang. Ranvier paham dengan apa yang dilakukan Daeng Payau.
" Keliatannya makhluk kiriman yang diutus untuk membunuh Nada datang lagi Vier. Saya berhasil menahannya sebentar tadi. Tapi kalo dia balik lagi dan bawa banyak pasukan, Saya rasa Kita harus cari cara lain untuk menghadapinya...," kata Daeng Payau.
" Kenapa dia balik lagi dan bawa banyak pasukan Daeng...?" tanya ustadz Rahman tak mengerti.
" Karena di kesempatan pertama dia gagal menjemput Nada. Jadi makhluk itu mencoba cara lain...," sahut Daeng Payau.
" Kalo gitu biar Aku yang menghadapi dia...," kata Ranvier.
" Jangan sekarang Vier. Simpan tenagamu untuk menghadapi yang besar nanti...," sahut Daeng Payau.
" Maksud Paman gimana ya...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Kamu bersih-bersih dulu, terus makan, kalo udah baru Kamu ke sini. Kalo sampe menjelang Maghrib Nada masih kaya gini, Kamu boleh maju..., " sahut Daeng Payau.
__ADS_1
" Baik Paman...," sahut Ranvier lalu berjalan meninggalkan kedua guru spiritualnya di kamar tamu.
\=\=\=\=\=
Setelah membersihkan diri Ranvier pun bergegas kembali ke kamar tamu. Saat itu Daeng Payau dan Ustadz Rahman tengah berjibaku melawan makhluk yang kembali merasuki Nada.
Ranvier mengamati 'pertempuran' mereka dengan seksama dan tahu jika makhluk kegelapan itu berhasil menyandera Nada.
Ranvier pun dengan mudah masuk ke dimensi lain untuk menyusul makhluk yang telah menculik Nada.
Melihat kehadiran Ranvier membuat Daeng Payau dan ustadz Rahman terkejut sekaligus senang namun membuat makhluk dari kegelapan itu makin beringas.
Nada menjerit saat makhluk kegelapan itu berhasil meraih tubuhnya hingga lolos dari penjagaan Daeng Payau dan Ustadz Rahman. Rupanya ilmu bela diri Nada tak cukup membantu apalagi saat itu kondisinya sangat lemah. Ranvier yang baru saja bergabung pun tak tinggal diam. Ia bergegas mengejar makhluk itu dan meninggalkan kedua guru spiritualnya begitu saja.
Apa yang dilakukan Ranvier tak bisa dilakukan Daeng Payau dan Ustadz Rahman karena tanpa sadar Ranvier masuk makin jauh ke dimensi lain. Daeng Payau dan Ustadz Rahman hanya bisa berdiri mengamati dari jauh tanpa bisa maju lagi meski pun mereka ingin.
Ranvier menoleh sekilas dan tahu apa yang terjadi. Ia pun mempercepat larinya dan berhasil menyusul makhluk kegelapan yang menculik Nada. Kini Ranvier berada tepat di belakang mereka.
" Berhenti !. Kembalikan dia padaku...!" kata Ranvier lantang.
Ucapan Ranvier mengejutkan makhluk itu. Ia menoleh dan panik melihat Ranvier mampu menembus dimensi lain dan menyusulnya dengan mudah.
Saat makhluk itu menoleh, kecepatan berlarinya pun berkurang. Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Ranvier yang langsung mendahului dan berhenti tepat beberapa langkah di depan makhluk itu.
" Itu bukan urusanmu. Sekarang yang penting, kembalikan gadis itu padaku atau Kau bakal tanggung akibatnya...! " ancam Ranvier sambil menghadang langkah makhluk itu.
" Oh ya, apa akibatnya...?" tantang makhluk itu sambil tersenyum mengejek.
Ranvier terdiam sambil menatap marah kearah makhluk yang sedang mendekap tubuh Nada dengan kedua tangannya yang dipenuhi duri itu. Nada nampak meringis menahan sakit. Namun saat Ranvier maju selangkah demi selangkah dan makin dekat, makhluk itu pun mengeratkan pelukannya hingga membuat Nada merintih kesakitan.
" Berhenti di sana Ranvieeerrr...!" jerit Nada sambil mengembangkan telapak tangannya ke depan.
Ranvier berhenti melangkah sambil menatap Nada dengan tatapan bingung.
" Jangan maju lagi Ranvier, Ak... Aku ga sanggup lagi. I... ini sakiiiitt... banget...," rintih Nada sambil berurai air mata.
" Apa yang terjadi Nada, kenapa Aku ga boleh maju...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Semakin Kamu mendekat ke sini, rasa sakit ini semakin hebat Ranvier. Liat, apa yang dia lakukan padaku...," sahut Nada sambil memperlihatkan punggung dan seluruh bagian tubuhnya yang melekat erat pada makhluk itu.
__ADS_1
Rupanya Nada melekat erat pada duri-duri yang tumbuh di sekujur tubuh makhluk kegelapan itu seperti tanaman kaktus. Duri itu tidak hanya melekat di permukaan kulit tapi juga mulai masuk menembus daging tubuh Nada. Terasa menyakitkan karena duri-duri itu bertambah panjang dan membesar di dalam daging.
Mengetahui apa yang Nada alami membuat Ranvier terdiam. Ia hanya bisa menggeram marah karena bingung tak tahu harus berbuat apa.
Di depan sana kondisi Nada kian memprihatinkan. Duri-duri makhluk itu makin dalam menyusup ke dalam kulitnya, lalu menembus daging dan kini telah mencapai tulangnya. Gadis itu nampak pasrah di dalam pelukan makhluk kegelapan yang tertawa melihat mangsanya terkulai lemah dan nyaris tewas.
Di saat genting itu sebuah sinar keperakan melesat cepat dari samping kanan Ranvier. Sangat menyilaukan hingga membuat Ranvier terpana sejenak. Namun detik berikutnya Ranvier tersenyum bahagia saat menyaksikan sinar keperakan itu melesat cepat kearah depan seolah ingin menghantam makhluk itu.
Melihat kedatangan sinar keperakan itu membuat makhluk berduri itu gentar. Ia nampak berusaha berkelit menghindari serangan sinar keperakan itu. Akibatnya tubuh Nada yang melekat erat pada tubuhnya pun terguncang ke sana kemari. Nada tak mampu menjerit lagi saat daging tubuhnya terkoyak oleh duri yang terus bergerak itu.
Tak lama kemudian suara ledakan pun terdengar membahana disertai guncangan seperti gempa bumi. Ranvier membelalakkan matanya saat melihat makhluk kegelapan itu terlempar ke atas lalu jatuh terhempas ke tanah dengan keras. Hanya sendiri dan tanpa Nada. Karena di saat yang sama Nada ditarik ke tempat lain lalu dilemparkan kearah Ranvier.
" Nada...!" panggil Ranvier sambil menyambut tubuh Nada yang melayang mendekatinya.
Berhasil. Nada mendarat mulus di pelukan Ranvier dalam kondisi tak sadarkan diri. Gadis itu terlihat sangat lemah. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka dan darah hingga membuat Ranvier khawatir.
Dengan tangan gemetar Ranvier mendekatkan jari telunjuknya kearah lubang hidung Nada untuk memastikan jika gadis itu masih bernafas. Sedetik kemudian Ranvier tersenyum.
" Alhamdulillah..., terima kasih ya Allah...," gumam Ranvier lalu kembali memeluk Nada.
Kalimat sakral yang Ranvier ucapkan telah membuat tanah di sekitarnya kembali berguncang dan kali ini disertai hembusan angin panas. Ranvier pun tersadar akan seuatu. Ia ingat jika hal serupa pernah terjadi saat ia berada di dekat Arcana.
Ranvier pun mendongakkan kepalanya karena penasaran dengan sosok yang menjelma menjadi sinar keperakan yang selama ini kerap membantunya. Ranvier pun terkejut bukan kepalang saat mengenali sosok di balik sinar keperakan itu.
Di depan sana terlihat sosok Damar, ajudan Kyai Ranggana, sedang berdiri gagah di depan jasad makhluk hitam berduri yang tadi menyandera Nada.
Makhluk berduri itu mati dalam kondisi mengenaskan. Seluruh tubuhnya, mulai dari atas kepala hingga ujung kaki nampak patah menjadi beberapa bagian berukuran kecil dan berserakan di tanah tepat di hadapan Damar.
" Pak Damar...?!" panggil Ranvier dengan suara tertahan.
Damar menoleh kearah Ranvier lalu tersenyum kemudian melangkah perlahan menghampiri Ranvier.
Ranvier mengerjapkan matanya beberapa kali karena kagum dengan penampilan Damar yang jauh berbeda dari yang sering ia jumpai.
" Apa kabar Mas Ranvier...?" sapa Damar dengan ramah dan hangat.
" Alhamdulillah baik...," sahut Ranvier cepat.
Namun sesaat kemudian Ranvier bergegas menutup mulutnya saat merasakan tanah yang dipijaknya kembali bergetar. Damar pun tersenyum melihat sikap Ranvier yang berusaha menjaga tata krama saat berkunjung ke dimensi mereka.
__ADS_1
bersambung