
Setelah acara kelulusan, Kakek Randu mengajak Akmal dan Erwin beserta kedua orangtua mereka masing-masing untuk makan di sebuah restoran mewah.
Akmal dan Erwin pun senang bukan kepalang. Namun sayang kedua orang tua Akmal dan Erwin tak bisa ikut karena ada urusan lain.
" Maafkan Saya Pak Randu. Saya ga bisa ikut karena harus ngurus keponakan Saya yang masuk Rumah Sakit. Adik Saya terlalu khawatir jadi minta Saya menemani saat anaknya dioperasi siang ini...," kata ibu Erwin dengan nada menyesal.
" Saya juga mohon maaf ya Pak. Saya dan Bapaknya Akmal juga ada undangan makan siang. Tuh Ayahnya Akmal udah datang menjemput...," kata ibu Akmal sambil menunjuk suaminya yang melambaikan tangan di samping mobil mereka.
" Gapapa Ibu-ibu. Saya paham kok. Justru Saya yang harusnya minta maaf karena ngajak pergi dadakan dan tanpa rencana. Tapi lain kali bisa kan Kita makan bersama...? " tanya Kakek Randu penuh harap.
" Oh tentu saja. Insya Allah Kami datang nanti. Iya kan Bu...?" tanya ibu Erwin sambil menoleh kearah ibu Akmal.
" Betul Bu. Insya Allah Saya juga bakal nyiapin sesuatu buat Pak Randu. Bukan sesuatu yang istimewa sih, cuma makanan tradisional aja. Namanya geplak, itu juga jadi barang jualan Saya lho Pak...," kata ibu Akmal bangga hingga membuat semua orang tertawa.
" Wah Saya ga bakal nolak Bu. Kalo gitu, boleh kan Saya ajak Erwin dan Akmal pergi makan siang...?" tanya kakek Randu.
" Tentu saja boleh Pak...," sahut ibu Erwin dan Akmal bersamaan.
Akhirnya Erwin dan Akmal ikut serta ke restoran yang dimaksud kakek Randu. Ternyata Kakek Randu membawa mereka makan di sebuah restoran yang ada di dalam hotel bintang lima.
Tiba di sana mereka disambut dengan takzim hingga membuat Erwin dan Akmal terkagum-kagum. Ranvier yang melihat tingkah kedua sahabatnya itu nampak tersenyum diam-diam.
" Lo bisa sesantai ini karena Lo udah biasa Vier. Kalo buat Gue, ini pertama kalinya Gue disambut kaya raja. Mimpi juga ga pernah kalo bakal duduk di sini dan makan makanan mahal plus enak kaya gini...," kata Erwin dengan mulut penuh.
" Santai aja Win. Ga usah buru-buru makannya. Kalo Lo berdua mau, Kita bisa nginep di hotel ini nanti. Iya kan Kek...?" tanya Ranvier sambil menoleh kearah sang kakek.
" Iya Vier...," sahut Kakek Randu sambil tersenyum.
__ADS_1
" Sebenernya sih Gue mau Vier. Tapi Gue ga enak sama Kakek Lo. Ntar dikiranya Kita aji mumpung banget...," bisik Akmal.
" Jangan bilang begitu Akmal. Kakek senang kok bisa membuat Kalian bahagia. Selama ini Ranvier memang selalu menolak semua fasilitas yang Kakek kasih dengan berbagai alasan. Kakek mengerti kenapa Ranvier melakukan itu. Tapi sekarang kan Kalian udah lulus dan semua orang udah tau kalo Ranvier ini Cucu semata wayangku. Jadi Kalian bisa manfaatkan semua fasilitas di hotel ini sepuasnya...," kata kakek Randu.
" Sepuasnya Kek...?" tanya Akmal.
" Iya. Kenapa emangnya...?" tanya kakek Randu.
" Jangan Kek, pasti mahal banget harganya. Aku ga mau kalo Kakek jadi bangkrut gara-gara nraktir Aku sama Erwin di hotel mahal ini...," sahut Akmal.
Ucapan Akmal membuat kakek Randu, Krisna dan Ranvier tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Akmal dan Erwin hanya bisa saling menatap bingung.
" Lo berdua ga usah khawatir. Hotel ini punya Kakek. Jadi Kita bisa nginep di sini dan make semua fasilitasnya dengan gratis...," kata Ranvier saat tawanya mereda.
" Waaahh..., kalo gitu Kita mau Vier. Makasih ya Kek...!" kata Akmal dan Erwin sambil menghambur memeluk kakek Randu.
" Eehh..., lepasin. Ga usah peluk-peluk Kakek Gue Lo...!" kata Ranvier lantang sambil menarik tangan Akmal dan Erwin agar menjauh dari kakeknya.
\=\=\=\=\=
Menginap di hotel bintang lima dan bebas memakai semua fasilitas yang tersedia tanpa harus memikirkan harganya adalah anugrah untuk Akmal dan Erwin.
Kini mereka tengah berada di pinggir kolam renang. Mereka baru saja selesai berenang dan sedang menikmati suasana sekitar kolam renang saat malam hari. Suasananya memang berbeda. Apalagi kolam renang terletak di bagian roof top hotel.
" Enak banget ya Mal. Berenang di tempat khusus dengan air hangat, mau makan minum ada yang nyediain, ditambah tempat yang bagus. Jangan salahin Gue kalo Gue betah di sini...," kata Erwin sambil tertawa.
" Iya Win. Kaya mimpi ya bisa nginep di hotel ini. Biasanya Gue sama keluarga Gue cuma bisa liat aja dari jauh. Itu juga sambil ngebayangin kapan bisa masuk dan nginep di sini...," sahut Akmal.
__ADS_1
Ranvier tersenyum mendengar ucapan dua sahabatnya itu.
" Eh, Gue udahan ya. Dingin nih. Kalo Lo berdua masih mau berenang, lanjutin aja. Gue ganti baju dulu...," kata Ranvier sambil berdiri lalu melangkah menuju toilet.
" Ok. Kita sebentar lagi juga udahan Vier...!" kata Akmal.
" Iya, terserah Lo aja...!" sahut Ranvier sambil terus melangkah menuju toilet di samping kolam renang.
Kemudian Ranvier masuk ke salah satu bilik toilet dan segera membasuh dirinya. Setelahnya ia berganti pakaian.
Saat sedang bercermin di depan cermin besar, Ranvier nampak terkejut melihat pantulan pintu toilet yang tadi ia gunakan nampak terbuka dan tertutup sendiri. Ia pun menoleh dan melihat jika pintu toilet yang bayangannya terpantul di cermin tadi nampak terbuka, diam tak bergerak.
Mencoba mengabaikan sesuatu yang dilihatnya tadi, Ranvier kembali merapikan rambut dengan jemari tangannya. Namun lagi-lagi Ranvier melihat jika pintu toilet yang tadi ia gunakan bergerak menutup dan terbuka sendiri.
Karena penasaran, Ranvier pun membalikkan tubuhnya lalu bergegas mendekat kearah toilet. Pintu toilet nampak masih bergerak dan menutup seperti ada seseorang yang membuka dan menutup pintu dengan sengaja.
Semakin dekat dengan toilet, jantung Ranvier berdetak makin cepat. Ia pun menahan nafas saat sekilas melihat sepasang betis pria tergantung di balik pintu. Ranvier berhenti di depan pintu karena tak yakin jika yang ia lihat tadi adalah sepasang kaki milik pria yang tergantung dan membentur pintu.
" Kaki siapa yang ngebentur pintu. Terus kalo betisnya ada di posisi setinggi itu, artinya pemilik kaki juga tergantung lebih tinggi dong...," batin Ranvier gusar.
Lalu dengan sigap Ranvier mendorong pintu untuk memastikan penglihatannya. Namun tak ada apa pun di sana.
Bahkan Ranvier masuk dan mengamati bagian dalam ruangan bilik toilet itu dengan seksama. Ia juga menatap ke atas untuk mencari sesuatu.
" Ga ada apa-apa. Terus tadi apaan dong. Ga mungkin kan kalo Gue salah liat...," gumam Ranvier.
Setelah tak mendapatkan apa yang ia cari, Ranvier pun keluar dari bilik toilet.
__ADS_1
Namun saat Ranvier tiba di depan bilik toilet, sosok tubuh jatuh ke lantai dengan suara berdebum kencang. Ranvier pun menoleh dan terkejut melihat sosok tubuh pria tanpa busana tergelatak di lantai dalam kondisi tangan terikat di belakang punggung.
bersambung