Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
92. Aura Ga Enak


__ADS_3

Saat mobil melaju beberapa meter, saat itu lah Ranvier melihat sosok yang dicarinya ada di tepi jalan. Ranvier menajamkan penglihatannya dan tersenyum saat yakin jika sosok yang dilihatnya itu adalah sosok hantu Eugene.


" Berhenti Pak...!" kata Ranvier lantang hingga mengejutkan Halim.


Halim pun menghentikan mobil lalu menoleh kearah Ranvier.


" Ada apa Mas...?" tanya Halim.


Ranvier tak menjawab. Tapi saat itu Halim melihat Ranvier tengah menatap ke satu arah sambil melambaikan tangannya. Halim pun mengikuti arah tatapan Ranvier dan terkejut karena tak melihat apa pun di sana.


Dalam penglihatan Ranvier ia melihat sosok Eugene melayang cepat kearahnya. Sosok Eugene kali ini hadir dalam wujud normal layaknya manusia biasa.


Saat itu Eugene berpakaian seragam warna krem yang sedikit lusuh dan sobek di beberapa bagian. Tubuh dan wajahnya pun terlihat utuh meski pun tanpa alas kaki. Saat sosok Eugene tiba di hadapannya Ranvier pun memberi isyarat agar hantu itu ikut dengannya.


" Ayo...," gumam Ranvier sambil melirik tempat kosong di sampingnya.


Hantu Eugene tersenyum lalu melesat masuk ke dalam mobil dan duduk manis di samping Ranvier.


" Maaf Mas Ranvier, di sana ga ada...," ucapan Halim terputus saat Ranvier memotong cepat.


" Iya Pak Halim, Saya tau. Maafin Saya ya Pak. Sekarang Kita bisa lanjutin perjalanan Kita...," kata Ranvier sambil tersenyum.


Halim menatap Ranvier sejenak lalu menghela nafas panjang.


" Ok...," sahut Halim lalu bergegas melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


" Bisa Kita cari penginapan di sekitar sini Pak...?" tanya Ranvier tiba-tiba.


" Tentu saja bisa. Kenapa Mas Ranvier berubah pikiran. Bukannya tadi Mas mau pergi ke desa X...?" tanya Halim sambil menatap Ranvier dari pantulan kaca spion.


" Mmm..., setelah Saya pikir-pikir, lebih baik Saya langsung ke penginapan aja Pak. Saya ga mau membawa aura ga enak ini ke rumah. Kasian orang rumah kalo kena imbasnya nanti...," sahut Ranvier sambil melirik ke samping dimana hantu Eugene duduk.


Meski pun tak mengerti apa yang Ranvier bicarakan, Halim pun mengangguk. Ia melajukan mobil lebih cepat karena tak ingin 'aura ga enak' yang dimaksud Ranvier tadi justru berbalik mengikutinya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Ranvier pun masuk ke dalam salah satu kamar di penginapan yang disewanya. Ia sempat bertukar nomor telephon dengan Halim tadi. Ternyata Halim bersedia mengantarnya kemana pun selama ia berada di kota itu.


" Masuk lah Eugene...," kata Ranvier.


" Kenapa Kamu baru datang Ranvier. Kamu tau, berapa lama Saya menunggu Kamu di sini...?" tanya hantu Eugene sambil menatap Ranvier lekat.


" Maaf karena Aku baru bisa datang. Sejak saat Kita pertama ketemu dulu, Aku selalu ingat Kamu. Walau ga sering, tapi bayangan Kamu membuatku khawatir. Dan sekarang Aku kembali untuk membantumu Eugene..., " sahut Ranvier sambil meletakkan tas ranselnya di atas kursi.


" Terima kasih karena masih mengingat Saya dan mau membantu Saya. Yang menyenangkan adalah karena Kamu ga takut sama Saya...," kata hantu Eugene sambil tersenyum.


" Kalo Kamu tampil dalam kondisi seperti ini insya Allah Aku ga takut. Tapi kalo Kamu memperlihatkan diri dalam sosok kepala hancur seperti waktu itu, kayanya Aku harus berpikir ulang untuk menemuimu Eugene..., " sahut Ranvier jujur hingga membuat hanti Eugene tertawa.


" Ternyata Kamu takut juga melihat wujud Saya yang lain Ranvier...," kata hantu Eugene di sela tawanya.


Ranvier pun tersenyum lalu mulai membongkar isi tasnya.


" Apa itu Ranvier...?" tanya Eugene sambil menunjuk wadah terbuat dari kayu pohon kelapa.


" Ok, Saya ga akan sentuh...," sahut Eugene sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.


" Bagus. Sekarang Aku mau mandi. Tolong tunggu di sini dan jangan sentuh apa pun. Mengerti Eugene...?" tanya Ranvier.


" Iya iya, Saya mengerti..., " sahut hantu Eugene hingga membuat Ranvier tersenyum.


Kemudian Ranvier bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya Ranvier keluar dari kamar untuk makan siang.


Saat Ranvier masuk ke ruang makan, semua orang yang ada di sana nampak menoleh kearahnya. Entah mengapa kehadiran Ranvier seolah memiliki magnet yang bisa menarik perhatian semua orang.


Ranvier tahu apa sebabnya semua orang menatap kearahnya dengan tatapan bingung. Apalagi jika bukan karena Eugene. Dalam hati Ranvier kagum pada pengaruh hantu orang Eropa itu yang ternyata masih cukup kuat, pun ketika ia sudah tak ada lagi di dunia ini.


Dengan tenang Ranvier melangkah masuk ke dalam ruang makan itu. Saat melintas di meja pertama, dimana sebuah keluarga beretnis Tionghoa sedang duduk menikmati makan siang, Ranvier pun mendengar komentar yang cukup menakjubkan.

__ADS_1


" Kenapa aura di ruangan ini jadi terasa ga enak gini sih...," kata seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun berpakaian mencolok sambil mengusap tengkuknya.


Itu terjadi saat Ranvier melintas persis di sampingnya.


" Iya Ma. Rasanya dingin, senyàp, sunyi gitu. Suasana kaya gini seingetku pernah Aku rasain saat pemakaman Oma beberapa bulan yang lalu lho Ma...," sahut seorang pemuda yang sebaya dengan Ranvier.


" Maksud Kamu suasana di ruangan ini kaya di kuburan Koh...?" tanya seorang gadis belia yang nampaknya adik dari pria tersebut.


" Aku ga maksud ngomong begitu. Tapi aura ruangan ini mendadak sama persis kaya di makam Oma. Hiiyy...," sahut pria berkaca mata itu sambil menggedikkan bahunya.


" Udah cukup !, ga usah banyak komentar kalo ga tau apa-apa. Lanjutkan saja makan Kalian dan ga usah banyak bicara...!" hardik seorang pria yang terlihat paling sepuh diantara mereka.


" Iya Akong...," sahut mereka bersamaan.


Kemudian keluarga itu nampak melanjutkan makan siang mereka. Rupanya pria sepuh itu adalah orang yang paling dihormati di keluarganya. Terbukti saat dia bicara, semua orang langsung bungkam. Ranvier yakin jika pria sepuh itu tahu tentang kehadiran hantu Eugene di ruangan itu.


Di depan sana hantu Eugene terus mengekori Ranvier hingga pria itu duduk dan makan.


" Apa Saya mengganggumu Ranvier...?" tanya hantu Eugene.


" Ga, kenapa tanya kaya gitu. Aku ga peduli sama omongan mereka karena mereka ga tau apa yang terjadi. Sekarang tolong ijinin Aku makan. Jangan ajak Aku ngobrol karena membuat mereka curiga dan berpikir buruk tentang Aku...," sahut Ranvier setengah berbisik.


Hantu Eugene menoleh dan melihat beberapa pasang mata tampak menatap Ranvier dengan tatapan curiga. Itu karena Ranvier terdengar bergumam seolah sedang bicara dengan seseorang. Padahal tak ada siapa pun di sekitarnya.


Karena tak ingin Ranvier dijadikan bahan gunjingan, hantu Eugene pun mengalah.


" Baik lah. Selesaikan makan siangmu, Saya tunggu di luar...," kata hantu Eugene lalu melesat cepat keluar ruang makan.


Saat Eugene melesat, tak sengaja ia menabrak seorang pelayan wanita yang tengah membawa mangkuk berisi sayur. Pelayan wanita itu terkejut saat sebuah angin dingin berhembus kencang menerpa tubuh dan wajahnya. Hanya dia yang merasakan itu dan membuatnya panik. Saking terkejutnya pelayan wanita itu tak sengaja menjatuhkan mangkuk yang dipegangnya.


" Maaf...," kata hantu Eugene sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada lalu bergegas keluar.


Ranvier nampak mengulum senyum melihat apa yang dilakukan Eugene. Itu karena Ranvier tahu apa yang dilakukan Eugene sia-sia, tak seorang pun bisa melihat dirinya, jadi percuma saja ia minta maaf tadi.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Ranvier bergegas pergi ke musholla saat adzan Dzuhur berkumandang. Dan tanpa Ranvier sadari, pria yang dipanggil Akong tadi terus mengamati pergerakannya secara diam-diam.


bersambung


__ADS_2