
Saat tiba di loby hotel, Ranvier dan kedua sahabatnya bertemu dengan Tomi. Rupanya Tomi sengaja diutus Kakek Randu untuk mengawasi dan membantu Ranvier menjamu kedua sahabatnya itu.
" Abang di sini juga, sejak kapan...?" tanya Ranvier.
" Baru aja datang. Kakek Lo yang minta Gue ke sini buat nemenin Lo. Beliau bilang Lo lagi ngajak temen Lo nginep di sini...," sahut Tomi sambil melirik Akmal dan Enwir.
Akmal dan Erwin nampak sedikit gentar melihat cara Tomi menatap kearah mereka. Penampilan Tomi yang mirip preman pasar memang terlihat mencolok. Namun melihat sikap Ranvier yang akrab dengan Tomi membuat kekhawatiran Akmal dan Erwin memudar.
" Oh gitu. Kebetulan banget, Gue emang lagi pengen keluar. Oh iya kenalin ini Akmal, yang itu Erwin...," kata Ranvier.
" Hallo Bang, Saya Akmal...," sapa Akmal sambil mengulurkan tangannya disusul Erwin.
Ketiganya nampak saling menjabat tangan. Itu adalah kali pertama Akmal dan Erwin bertemu dengan Tomi.
" Gue Tomi...," sahut Tomi sambil tersenyum tipis.
" Iya Bang...," sahut Akmal dan Erwin bersamaan.
" Kalo gitu Kita keluar sekarang aja ya Bang. Lo bawa motor atau mobil Bang...?" tanya Ranvier.
" Mobil...," sahut Tomi singkat sambil memperlihatkan anak kunci di tangannya. .
" Bagus deh. Kita cari makan yuk di luar. Gue lapar nih...," ajak Ranvier.
" Ok. Kalian tunggu aja di sana, Gue ambil mobil dulu...," kata Tomi.
" Siiippp...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
Kemudian Tomi berjalan keluar menuju parkiran. Tak lama kemudian Tomi kembali dengan mobil untuk menjemput Ranvier dan kedua sahabatnya itu.
Meski tak mengerti Akmal dan Erwin nampak pasrah saja saat Ranvier membawa mereka makan di sebuah restoran. Selama perjalanan keduanya nampak saling menatap bingung karena tak mengerti mengapa Ranvier memilih makan di tempat lain padahal hotel sang Kakek punya fasilitas yang hebat.
" Gue cuma mau cari suasana baru. Mumpung lagi ga sama Kakek, ga ada salahnya cari tempat makan lain. Kalo makan di hotel kan bisa besok pagi. Selain itu Lo berdua kan udah makan di sana tadi...," kata Ranvier seolah mengerti isi benak Akmal dan Erwin.
" Iya, terserah Lo aja Vier. Kan Lo Bosnya...," sahut Erwin cepat.
" Jangan ngomong gitu Win. Kan yang kaya Kakek Gue...," kata Ranvier mengingatkan.
__ADS_1
" Oh iya, sorry Vier...," sahut Erwin sambil nyengir.
" Emangnya Kita mau makan dimana sih Vier. Jujur Gue udah lapar banget. Harusnya Lo biarin Gue selesai makan dulu tadi, baru Lo ajakin keluar. Jadi nanggung nih, perut Gue rasanya ga enak banget...," keluh Akmal.
" Sorry ya. Tapi Gue janji bakal traktir Lo berdua sepuasnya nanti...," kata Ranvier sambil tersenyum.
" Beneran ya Vier...!" kata Akmal antusias.
" Iya. Sekarang sebaiknya Lo diem biar ga ganggu konsentrasinya Bang Tomi. Kasian dia, gara-gara suara Lo Bang Tomi jadi nyasar...," gurau Ranvier hingga membuat semua orang tertawa.
Tak lama kemudian Tomi membelokkan mobil memasuki sebuah rumah makan yang dimaksud Ranvier.
Sambil menunggu pesanan diantar, Ranvier sengaja menghubungi kedua guru spiritualnya lagi. Ia meninggalkan meja dan membiarkan Tomi bicara dengan kedua sahabatnya itu.
" Kamu dimana sekarang Vier...?" tanya Daeng Payau.
" Aku lagi makan di luar Paman. Sesuai saran Paman tadi, Aku pesen menu baru atau pindah tempat. Dan Aku pilih opsi kedua...," sahut Ranvier.
" Bagus, Saya senang ngeliat Kamu cepat tanggap kaya gini Vier...," kata Daeng Payau sambil tersenyum.
" Makasih Paman. Terus apa yang harus Aku lakukan. Aku khawatir Akmal sama Erwin terluka gara-gara makan makanan di hotel tadi...," kata Ranvier cemas.
" Kalo boleh tau, ada apa di makanan tadi Paman. Kenapa Aku ga boleh makan makanan itu...?" tanya Ranvier.
" Ada sosok makhluk tak kasat mata yang ikut nimbrung makan bareng sama kedua temenmu itu Vier...," sahut Daeng Payau hingga mengejutkan Ranvier.
" Makhluk tak kasat mata itu ngelakuin apa Paman...?" tanya Ranvier penasaran.
" Dia memuntahkan darah dan lendir di atas makanan yang ada di meja itu. Sampe sini Kamu paham kan kenapa Saya minta Kamu ganti menu atau cari tempat makan lain tadi...?" tanya Daeng Payau.
" Astaghfirullah aladziim. Iihhh..., menjijikkan banget sih...," kata Ranvier sambil bergidik.
Ustadz Rahman dan Daeng Payau saling menatap kemudian tertawa melihat reaksi Ranvier.
" Jadi makhluk itu apa Paman. Apa ada saingan bisnis Kakek yang sengaja ngirim makhluk ga kasat mata itu supaya Kakek bangkrut...?" tanya Ranvier cemas.
" Bukan. Itu bukan makhluk yang dikirim seseorang Vier. Dia justru di sana karena Kamu...," kata Daeng Payau.
__ADS_1
" Karena Aku ?. Kok bisa...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Ya bisa. Kan Saya pernah bilang kalo Kamu memang memiliki daya tarik tersendiri bagi makhluk tak kasat mata. Mereka akan datang, mendekat dengan berbagai tujuan. Ada yang mau minta tolong, atau hanya sekedar berkenalan dan ngasih tau keberadaannya di suatu tempat. Dan Saya yakin sebelum ini Kamu udah ngeliat sesuatu yang ga lazim...," sahut Daeng Payau.
" Kok Paman tau...?" tanya Ranvier.
" Ranvier... Ranvier. Saya tau suasana di sana karena ngeliat video yang Kamu kirim tadi. Masa Kamu lupa...," sahut Daeng Payau sambil menggelengkan kepala.
" Oh iya, Aku lupa Paman. Aku emang sempet liat penampakan cowok tanpa busana di dalam toilet tadi. Kayanya ada sesuatu yang mau dia sampein ga tau apa...," kata Ranvier gusar hingga membuat Daeng Payau tersenyum penuh makna.
" Kalo gitu tunggu aja sampe dia menampakkan diri lagi. Mungkin di pertemuan kedua dia mau mengatakan sesuatu...," kata Daeng Payau.
" Iya Paman. Terus makhluk itu ada di semua meja makan Paman...?" tanya Ranvier.
" Ga ada dimana-mana, cuma di meja itu...," sahut Daeng Payau cepat.
" Terus apa pengaruh nya buat orang yang ga sengaja makan makanan yang udah dimuntahin sama makhluk itu Paman...?" tanya Ranvier.
" Efek sederhananya sih orang itu akan merasa lapar dan lapar terus seolah ga pernah kenyang. Selain itu orang yang makan makanan itu bakal jadi pemalas, ga suka kebersihan alias jarang mandi, dan jadi kurang fokus sama sesuatu yang dia kerjakan termasuk lingkungan sekitar...," sahut Daeng Payau.
" Ya Allah, bahaya juga ya. Ga kebayang deh kalo Akmal sama Erwin kaya gitu...," kata Ranvier sambil menatap kedua sahabatnya itu dari kejauhan.
" Makanya makanan yang mereka makan tadi harus dikeluarin sebelum tiga hari...," sahut Daeng Payau.
" Apa dan gimana caranya Paman...?" tanya Ranvier.
" Saya bakal bantu ngeluarin racun itu nanti...," sahut Daeng Payau.
" Syukur lah kalo gitu...," kata Ranvier sambil menghela nafas lega.
" Sementara itu untuk jaga-jaga, Kamu harus tetap berdzikir ya Vier...," kata ustadz Rahman mengingatkan.
" Siaapp Ustadz...," sahut Ranvier hingga membuat ustad Rahman tersenyum.
" Sekarang sebaiknya Kamu ke sana dan makan Vier. Jangan sampe kedua temanmu itu curiga karena Kamu menjauhi mereka...," kata Daeng Payau.
" Iya Paman. Kalo gitu Saya makan dulu ya. Assalamualaikum..., " kata Ranvier mengakhiri pembicaraan.
__ADS_1
Setelahnya Ranvier bergegas mendekati meja dimana telah tersaji berbagai menu makanan pesanan Akmal dan Erwin.
\=\=\=\=\=