
Di saat Wijaya tengah diruqyah oleh Ustadz Rahman dan Daeng Payau, di saat yang sama Ayu juga tengah melakukan ritual di dalam kamarnya.
Setelah Nyai Lasih berhasil membantu menyembuhkan kaku di tubuhnya, Ayu pun ingin kembali melakukan ritual untuk mengikat suaminya.
" Kamu ga bisa kaya gini Ayu. Ini berbahaya untukmu...," kata Nyai Lasih.
" Kenapa ga bisa Nyai...?" tanya Ayu tak mengerti.
" Bukannya hari ini Kamu juga sudah melakukan ritual untuk menyerang anak tirimu ?. Dan belum sampe sehari semalam atau dua puluh empat jam Kamu sudah melakukan ritual lagi. Ini ga baik untukmu, bahaya...!" kata Nyai Lasih.
" Bahaya bahaya terus daritadi !. Apa sih maksud Nyai. Apa Nyai ga liat gimana reaksi Wijaya tadi ?. Dia mulai berani protes sama ucapanku. Ke depannya bisa aja dia membangkang dan ga mau menuruti permintaanku. Kalo udah kaya gitu, apalagi yang bisa Aku harapkan Nyai...," sahut Ayu gusar.
" Aku tau Ayu. Meski pun Kita menggunakan ilmu hitam, tapi ada hal dan cara tertentu yang juga harus dipatuhi...," kata Nyai Lasih mencoba sabar.
" Kalo Aku ga mau patuh sama aturan itu apa jadinya Nyai...?" tanya Ayu.
" Yang terburuk adalah mati. Dan yang biasa Kamu bakal lumpuh atau cacat...," sahut Nyai Lasih cepat.
" Lumpuh atau cacat. Hmmm..., dengan uang yang Wijaya miliki itu sangat layak. Toh uang Wijaya bisa membantuku sembuh nanti. Gapapa Nyai, Aku siap menanggung resikonya..., " kata Ayu mantap dan terkesan menantang.
Ucapan Ayu membuat Nyai Lasih terkejut. Ia menggelengkan kepala melihat betapa ambisiusnya wanita muda di hadapannya itu.
" Aku sudah mengingatkan Kamu Ayu. Selanjutnya, Kamu tanggung sendiri akibatnya..., " kata Nyai Lasih sambil menyeringai.
" Iya iya, Aku tau. Ayo Nyai, Kita lakukan sekarang juga...," kata Ayu setengah memaksa.
Nyai Lasih pun mengangguk lalu mulai mencari posisi yang nyaman untuk ia memulai ritual sesatnya itu. Ayu nampak duduk di samping Nyai Lasih untuk menunggu bagaimana hasil ritual sang guru spiritual sambil membantu membaca mantra.
__ADS_1
Saat kedua wanita berbeda usia itu memulai ritual, tiba-tiba lampu di dalam kamar padam. Ayu nampak terkejut. Wanita yang memang memiliki phobia gelap itu pun tampak panik. Ia mulai mencari pegangan di dekatnya.
" Nyai !. Kamu dimana Nyai...!" panggil Ayu lantang.
" Jangan ganggu Aku Ayuuu...," desis Nyai Lasih.
" Tapi Aku takut gelap Nyai, Aku ga suka gelap. Tolong nyalain lagi lampunya Nyai...!" pinta Ayu histeris.
" Apa Kau pikir Aku yang memadamkan lampu itu Ayu. Aku telah memanggil kekuatan dari kegelapan, sudah pasti dia lebih suka gelap karena gelap adalah sahabat sejatinya...," sahut Nyai Lasih disusul tawanya yang terdengar sedikit berbeda di telinga Ayu.
Bulu kuduk Ayu meremang mendengar suara tawa Nyai Lasih. Entah mengapa dalam hati Ayu sedikit menyesali keputusannya yang memaksa melakukan ritual tadi.
" Mmm..., Nya... Nyai. Bi... bisa kah Kita hentikan saja ritualnya. A... Aku berubah pikiran Nyai...," kata Ayu terbata-bata.
" Yang sudah dimulai ga bisa diakhiri, kalo sudah maju ga bisa mundur lagi Ayu !. Aku sudah mengingatkan Kamu tadi tapi Kamu ngeyel. Sekarang Kamu diam di sana dan jangan menggangguku lagi !. Mengerti Ayu...?!" kata Nyai Lasih marah.
" I... iya Nyai...," sahut Ayu gugup.
" Bukannya kalo mati lampu lokal ga segelap ini ya ?. Kan masih ada sedikit cahaya dari lampu jalan di depan rumah yang masuk lewat ventilasi jendela kamar. Tapi kenapa semua gelap dan ga satu pun benda yang terlihat. Ini..., apa kekuatan dari kegelapan itu udah ada di sini...," batin Ayu gusar.
Sesaat kemudian terdengar suara menggeram tepat di samping telinga Ayu hingga membuat wanita muda itu terlonjak kaget.
" Nyai !. Suara apa itu Nyai...?!" tanya Ayu lantang.
" Diam Ayu...!" hardik Nyai Lasih.
Ayu pun kembali duduk. Meski tak nyaman dan penasaran, Ayu terpaksa tetap diam. Selain mendengar suara menggeram di telinganya, Ayu juga mencium bau anyir dan busuk yang bergantian. Ayu pun menutup hidungnya karena tak ingin muntah di tempat.
__ADS_1
Namun Ayu tak kuasa lagi menahan rasa takutnya saat sebuah benda berduri meraba tubuhnya. Benda itu juga menyusuri wajah Ayu hingga membuatnya tubuhnya bergetar hebat. Ada suara mendesis di depan wajahnya dan membuat Ayu makin ketakutan.
Saat tiba-tiba lampu kembali menyala terang, Ayu melihat sosok makhluk besar berduri ada di depannya dan tengah bersiap menciumnya. Ayu pun menjerit histeris dan sesaat kemudian wanita itu pun jatuh pingsan.
Nyai Lasih nampak menyeringai puas lalu memalingkan wajahnya saat makhluk berduri itu mulai 'melahap' Ayu.
Sementara itu Siti sedang sembunyi di dalam kamarnya yang juga gelap. Rupanya semua lampu di rumah Wijaya padam tanpa sebab. Siti nampak duduk meringkuk di atas tempat tidur. Suara jeritan Ayu membahana di dalam rumah hingga membuatnya panik dan tubuhnya gemetar ketakutan.
" Duh itu pelakor kenapa lagi sih ?. Ngapain jerit- jerit kaya gitu, suaranya kok serem banget ya. Jangan-jangan Nenek-nenek yang kaya Mak Lampir itu udah nyakitin perempuan itu...," gumam Siti gusar.
Beberapa saat kemudian Siti pun bernafas lega saat lampu yang sempat padam tadi kembali menyala. Dengan tangan gemetar Siti meraih tasbih yang ia letakkan di atas nakas. Setelahnya Siti berdzikir untuk menetralisir rasa takutnya. Siti tak bisa sholat sunah seperti yang selalu ia lakukan karena ia tak berani pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Kamar mandi Siti memang berada persis di depan kamar dan bersebelahan dengan dapur. Untuk tiba di sana Siti harus keluar dari kamar dan Siti tak mau melakukan itu karena takut.
Sepuluh menit kemudian Siti mendengar suara pintu dibanting. Terdengar berdebum keras hingga membuat Siti terlonjak saking kagetnya.
" Astaghfirullah aladziim..., nutup pintu aja kok sampe kaya gitu sih. Apa ga bisa pelan-pelan aja ya...," gumam Siti sambil menepuk dadanya berkali-kali.
Tiba-tiba hening menyapa. Terlalu hening hingga membuat Siti merasa tak nyaman. Wanita itu pun memberanikan diri turun dari tempat tidur lalu membuka pintu kamar. Dari celah pintu ia mencoba mengintip ke ruang tengah untuk melihat apa yang terjadi.
Siti menghela nafas lega saat melihat Nyai Lasih sudah berada di luar rumah. Nampaknya wanita itu sudah menyelesaikan tugasnya.
Dengan hati-hati Siti melangkah menuju jendela lalu bergegas menurunkan gorden jendela agar ia tak perlu melihat pergerakan Nyai Lasih lagi.
" Alhamdulillah pergi juga. Sekarang apa Aku harus ke kamar Nyonya dan nanyain kondisinya ?, itu lebih ga mungkin lagi. Kan dia galak banget. Ya udah cuekin aja. Yang penting kunci pintu terus masuk kamar...," batin Siti.
Setelah memastikan pintu dan jendela terkunci dengan baik, Siti pun kembali ke kamar.
__ADS_1
Saat melintas di depan kamar tuannya Siti berhenti. Ia mendengar suara rintihan dari dalam kamar sang tuan. Awalnya Siti tersenyum karena mengira itu suara Wijaya dan Ayu yang tengah bercinta. Namun saat Siti ingat jika Wijaya keluar rumah dengan mobilnya tadi, bulu kuduk Siti pun meremang seketika.
\=\=\=\=\=