
Kakek Randu kembali ke Indonesia setelah melakukan check up kesehatan di luar negeri. Saat tiba di rumah ia disambut hangat oleh mbok Rah, Tomi dan karyawan lainnya.
" Alhamdulillah Tuan udah keliatan jauh lebih baik, lebih gemuk juga...," kata Tomi sambil tersenyum.
" Iya Tom. Gimana ga gemuk kalo kerjaan Saya cuma makan tidur aja tiap hari. Pegang ponsel sama lap top aja dibatasi. Selalu diawasi sama anteknya dokter...," sahut kakek Randu sambil melirik sinis kearah Krisna.
Krisna, Tomi dan semua karyawan kakek Randu pun tertawa.
" Tapi kan ada hasilnya Pak. Liat aja buktinya. Karena Saya awasin terus, Bapak jadi bisa istirahat dan itu baik lho untuk kesehatan Bapak...," kata Krisna dengan bangga.
" Iya iya. Makasih ya Kris...," sahut Kakek Randu sambil tersenyum.
" Sama-sama Pak..., " kata Krisna sambil mengangguk takzim.
" Oh iya, dimana Ranvier. Kenapa dia ga ikut menyambutku...?" tanya Kakek Randu.
" Mas Ranvier belum pulang Pak...," sahut Mbok Rah.
" Tumben jam segini belum pulang. Apa ada masalah selama Saya tinggal Mbok...?" tanya Kakek Randu.
" Saya kurang tau Pak. Kan Mas Ranvier ga pernah cerita soal kerjaan sama Saya...," sahut Mbok Rah.
" Sebaiknya sekarang Bapak masuk dan istirahat. Ntar kalo Mas Ranvier pulang biar Saya yang kasih tau...," kata Krisna menengahi.
Kakek Randu mengangguk lalu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Tomi dan karyawan lain membantu menurunkan barang bawaan Kakek Randu dari dalam mobil.
\=\=\=\=\=
Karena lelah Kakek Randu pun tertidur dan baru terbangun keesokan paginya. Saat sarapan pagi ia dibuat tersenyum karena melihat ustadz Rahman, Daeng Payau dan Erwin di ruang makan.
" Kalian di sini juga...," sapa Kakek Randu sambil menjabat tangan ketiga tamunya itu satu per satu.
" Iya Kek...," sahut Erwin.
" Iya Pak...," sahut ustadz Rahman dan Daeng Payau bersamaan.
" Kalian janjian atau...," ucapan Kakek Randu terputus karena Ranvier yang baru saja masuk ke ruang makan memotong cepat.
" Aku yang sengaja ngundang ketiga tamu Kita ini Kek...!" kata Ranvier hingga membuat Kakek Randu menoleh lalu tersenyum kearahnya.
__ADS_1
" Ranvieeerr...," kata Kakek Randu sambil merentangkan kedua tangannya.
" Iya Kakek...," sahut Ranvier sambil balas memeluk sang Kakek.
Untuk sejenak suasana ruang makan dipenuhi rasa haru. Keakraban Kakek Randu dan Ranvier membuat semua tersenyum kagum.
" Aku seneng Kakek pulang, apalagi Kakek keliatan sehat...," kata Ranvier sambil mengurai pelukannya.
" Alhamdulillah. Kondisi Kakek memang jauh lebih baik Vier. Kalo masalah kaki, ini alami masalah usia yang ga bisa dibohongi. Pengapuran tulang di lutut biasa dialami oleh lansia seperti Kakek. Tapi masih bisa diminimalisir alias diperlambat. Yah walau kadang Kakek harus pake tongkat untuk membantu berjalan...," sahut Kakek Randu.
" Gapapa Kek, ga usah terlalu ngoyo untuk jalan jauh. Yang penting Kakek sehat aja udah cukup...," kata Ranvier.
" Iya Vier, Kamu bener...," sahut Kakek Randu sambil tersenyum.
" Sekarang sebaiknya Kakek duduk. Kasian tamu Kita keliatannya udah lapar kelamaan nunggu Kita ngobrol...," kata Ranvier sambil melirik ketiga tamunya.
Kakek Randu dan ketiga tamu yang dimaksud Ranvier pun tertawa. Setelah membantu Kakek Randu duduk, Ranvier pun duduk tepat di samping kanan sang Kakek.
Kemudian sarapan pagi pun dimulai. Suasana hangat penuh canda dan tawa memenuhi ruang makan hingga membuat Kakek Randu berkali-kali mengusap ekor matanya yang basah.
" Kita lagi ketawa kenapa Kakek malah nangis...?" tanya Erwin.
" Tapi daritadi Kakek ngusap mata terus...," kata Erwin.
" Namanya juga udah tua Win. Klep antara air mata bahagia sama air mata sedih juga udah mulai bocor. Jadi wajar kalo Kakek nangis kaya orang sedih padahal lagi ketawa...," sahut Kakek Randu hingga membuat semua orang tertawa.
Setelah sarapan pagi, mereka melanjutkan obrolan mereka di ruang tamu. Tapi tak lama kemudian Ranvier dan Erwin pamit undur diri. Mereka harus pergi ke kantor karena ada sesuatu yang harus mereka kerjakan.
" Serahkan masalah Kakekmu sama Kami ya Vier. Saya dan Paman Daengmu akan coba menjelaskan alasan kenapa Kamu harus pergi nanti...," bisik ustadz Rahman saat Ranvier mencium punggung tangannya.
" Iya Ustadz, makasih...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
Ustadz Rahman mengangguk sambil tersenyum. Kemudian mereka melanjutkan obrolan mereka setelah kepergian Ranvier dan Erwin.
" Saya mencium ada yang ga beres dengan kedatangan Kalian berdua. Apa ada sesuatu yang penting...?" tanya Kakek Randu sambil menatap dua tamunya bergantian.
" Iya Pak...," sahut Ustadz Rahman dan Daeng Payau bersamaan.
" Pasti tentang Ranvier...," tebak Kakek Randu.
__ADS_1
" Betul Kek...," sahut Daeng Payau cepat.
Kakek Randu nampak menghela nafas panjang sebelum mendengar apa yang akan disampaikan oleh kedua guru spiritual Ranvier itu.
" Jadi apa yang mau Kalian bicarakan...?" tanya Kakek Randu.
Kemudian ustadz Rahman dan Daeng Payau mulai menceritakan apa yang terjadi pada Ranvier. Cukup mengejutkan untuk Kakek Randu hingga membuatnya menegang sesaat.
" Apa Bapak baik-baik aja...?" tanya ustadz Rahman cemas.
" Iya, Aku gapapa. Lanjutkan...," pinta Kakek Randu.
" Dan jalan satu-satunya agar Ranvier terlepas dari bayang-bayang dan rasa bersalah pada gadis misterius itu adalah pergi ke sana...," kata Daeng Payau hati-hati.
" Berapa lama...?" tanya Kakek Randu dengan suara tercekat.
" Saya ga tau Pak. Bisa sebentar bisa juga lama...," sahut Daeng Payau.
" Sebentarnya itu berapa hari dan lamanya juga berapa hari...?" tanya Kakek Randu.
" Sebentarnya kira-kira seminggu dan lamanya bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun...," sahut Daeng Payau mencoba memberi gambaran.
" Lama banget. Aku khawatir saat dia kembali Aku justru udah ga ada lagi di dunia ini...," kata Kakek Randu sambil mengusap wajahnya.
" Bapak jangan ngomong kaya gitu. Keraguan Bapak akan membuat Ranvier berat melangkah. Maaf kalo Saya lancang. Seharusnya Bapak mensuport Ranvier. Dukung dia dan katakan bahwa semua akan baik-baik saja. Bapak bisa mendoakan agar Ranvier selamat dan cepat kembali berkumpul bersama Kita...," kata ustadz Rahman sambil menyentuh punggung tangan Kakek Randu dengan lembut.
" Tapi Aku ga bisa berbohong Rahman !. Aku khawatir Ranvier ga kembali. Sudah banyak cerita ghaib yang Kudengar tentang perjalanan menyebrang dimensi. Dan andaikan bisa kembali, pasti mental Ranvier ga lagi sama. Dia juga bakal stress kaya orang kena gangguan jiwa sama kaya mereka yang pulang dari dunia ghaib...," kata Kakek Randu gusar.
" Tapi Ranvier berbeda dengan mereka Pak. Ranvier ke sana bukan tanpa sengaja. Ranvier ke sana karena diundang. Selayaknya tamu yang datang karena diundang, pasti akan ada limit waktu untuk tamu itu berkunjung kan ?. Selain itu Ranvier bukan pergi ke tempat yang baru. Dia sudah ke sana dua kali. Jadi Ranvier pasti paham situasinya dan tahu dimana letak pintu keluar masuk dimensi lain itu. Insya Allah Ranvier akan kembali dengan selamat, cepat atau lambat...," sahut Daeng Payau tegas.
" Lagipula Ranvier ga sendiri Pak. Kami juga akan mengawalnya nanti. Tujuannya antara lain untuk saling mengingatkan agar Kami ga kelamaan di sana. Tujuan utamanya tentu saja menjaga Ranvier dan memastikan dia pulang dengan selamat...," kata ustadz Rahman.
Untuk sesaat Kakek Randu nampak termenung. Namun sedetik kemudian ia mengangguk sambil tersenyum.
" Pergi lah dan hati-hati. Berjanji lah Kalian akan membawa Ranvierku pulang dengan selamat...," kata Kakek Randu dengan mata berkaca-kaca.
" Insya Allah siap Pak...," sahut ustadz Rahman dan Daeng Payau bersamaan.
Kakek Randu tersenyum lalu bersandar pada sandaran sofa. Walau ada kegelisahan di wajahnya, namun Kakek Randu harus rela melepas Ranvier pergi untuk menyelesaikan masalah yang dibuatnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=