
Nada memaksa pulang lebih cepat dibanding waktu seharusnya dia dirawat. Mendengar permintaan aneh Nada membuat Ranvier bingung.
" Kenapa mau pulang sekarang ?. Kamu masih sakit dan lukamu belum sembuh...," kata Ranvier tak mengerti.
" Lebih baik Aku keluar sekarang daripada keberadaanku terlacak dan bisa membahayakan semua orang termasuk Kamu...," sahut Nada sambil meringis.
Ranvier pun meraih lengan kiri Nada dan memaksa gadis itu menatap kearahnya.
" Terlacak oleh siapa dan kenapa membahayakan...?" tanya Ranvier.
" Aku ga tau. Tapi Aku merasa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi jika terus bertahan di sini...," sahut Nada gusar.
Ranvier paham apa yang dimaksud Nada. Ia pun mengangguk seakan mengiyakan permintaan Nada. Padahal sesungguhnya Ranvier mencoba menunjukkan pada Nada bahwa kondisinya belum pulih sama sekali dan masih perlu perawatan.
" Baik Kita pulang sekarang. Ayo...!" ajak Ranvier sambil menggamit lengan kiri Nada dan mengajaknya berjalan cepat lalu membawanya keluar dari ruangan.
Dengan susah payah Nada melangkah. Saat itu tubuhnya masih sangat sakit dan luka di lengannya juga masih mengeluarkan darah. Apalagi jarum infus masih melekat di pergelangan tangannya dan terasa sangat nyeri saat jarum infus bergeser dari tempatnya.
" Aduuhhh..., pelan-pelan dong. Ini sakit tau...!" protes Nada sambil berusaha menarik tangannya dari cekalan Ranvier.
Ranvier berhenti melangkah lalu menoleh kearah Nada sambil tersenyum.
" Nah, udah tau kan kalo masih sakit. Terus kenapa maksa pulang dan ngasih alasan ga mutu kaya gitu...?!" tanya Ranvier.
" Itu bukan alasan. Tapi feeling Aku emang ga enak. Bakal ada orang yang datang dan membuat kekacauan nanti. Saat ini Aku terluka. Aku yakin ga bakal mampu melawan mereka. Kalo satu atau dua orang yang datang mungkin masih Ok. Tapi kalo kaya kemaren jujur Aku nyerah. Makanya Aku maksa minta pulang daritadi...," sahut Nada sambil cemberut.
" Apa Kamu lupa kalo ada Aku di sini. Aku ga bakal biarin mereka menyakiti Kamu. Jadi Kamu ga perlu khawatir...," kata Ranvier sambil menatap Nada lekat.
Ucapan Ranvier mau tak mau membuat wajah Nada merona. Ada perasaan menggelitik di hatinya. Nada merasa disayangi dan itu membuatnya bahagia. Namun Nada segera mengenyahkan rasa bahagianya itu.
" Ayo Nada. Realistis sedikit. Dia bukan siapa-siapa dan dia cuma sementara ada di sisimu. Kamu harus survive atau Kamu habis...," batin Nada.
Nada pun menegakkan kepalanya lalu menatap Ranvier.
" Terima kasih atas perhatianmu. Tapi ini sudah cukup. Kamu ga perlu terus menerus membahayakan dirimu demi Aku. Kita baru aja ketemu dan belum terlalu saling mengenal. Aku ga mau punya hutang budi sama orang baik seperti Kamu. Sebaiknya Kamu pergi dan Aku harap Kita ga pernah ketemu lagi...," kata Nada sungguh-sungguh.
" Kamu ngusir Aku...?" tanya Ranvier tak percaya.
__ADS_1
" Maaf...," sahut Nada lirih sambil membuang tatapannya kearah lain hingga membuat Ranvier tersenyum.
" Sejak Aku menangkis serangan golok yang ditujukan padamu, sejak saat itu juga Aku terlibat denganmu. Mau atau ga mau, suka atau ga suka. Meski Kita berpisah dan ngambil jalan masing-masing, tapi mereka udah terlanjur menandai Aku. Jadi bersama denganmu atau sendirian sama aja bagiku. Aku tetap akan ada di dalam bahaya begitu pun Kamu. Daripada sendirian dalam bahaya, bukan kah lebih baik berdua. Siapa tau Kamu butuh bantuanku nanti...," kata Ranvier tegas.
Nada tertegun mendengar ucapan Ranvier. Ia pun kembali mengamati wajah Ranvier untuk mencari kepastian di sana. Dan Nada mendapati pria di hadapannya itu memang sedang bicara serius. Nada pun menghela nafas panjang karena tak bisa menolak tawaran Ranvier.
" Ck, dasar keras kepala...," gerutu Nada sambil menyembunyikan rona wajahnya.
" Dan Kamu harus terbiasa dengan itu mulai sekarang...," kata Ranvier dengan mimik wajah kocak.
" Iya iya. Terus rencana Kamu apa sekarang...?" tanya Nada.
" Seperti kemauanmu. Kita pulang...," sahut Ranvier cepat.
" Sekarang...?" tanya Nada penuh harap.
" Iya. Ayo siap-siap..., " ajak Ranvier yang diangguki Nada.
Kemudian keduanya kembali ke kamar rawat inap Nada. Dari sana Ranvier menghubungi salah satu orang kepercayaannya dan memintanya mengurus kepulangan Nada.
Tak lama kemudian seorang perawat datang sambil membawa kursi roda. Perawat itu juga membawa jaket dan selimut tebal. Meski pun tak mengerti namun Nada menurut saja saat Ranvier memintanya duduk sambil ditutupi selimut. Sedangkan Ranvier nampak mengenakan jaket dan kacamata. Kerah jaket ia tinggikan agar bisa tampil sedikit beda.
" Sssttt..., ini untuk mengecoh mereka...," sahut Ranvier sambil merendahkan suaranya.
Nada yang paham siapa mereka yang dimaksud Ranvier pun mengangguk lalu duduk di atas kursi roda.
" Maaf ya Mbak...," kata sang perawat sambil membentangkan selimut untuk menutupi tubuh Nada.
" Iya gapapa Suster...," sahut Nada.
Setelah merapikan selimut yang menutupi Nada, Ranvier pun berjalan di samping perawat yang mendorong kursi roda Nada.
Dugaan Ranvier jika ada seseorang yang akan membahayakan Nada pun terbukti. Saat mereka berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit menuju pintu keluar, mereka berpapasan dengan tiga preman bayaran yang kemarin melukai Nada.
Ketiga preman itu nampak menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu.
" Di sebelah mana sih, kan di sini ruang rawat inap banyak...," gerutu seorang preman.
__ADS_1
" Tadi infonya dirawat di ruang rawat inap kelas satu. Itu artinya di atas. Ayo Kita ke sana...," ajak salah seorang preman.
" Yakin ga infonya bener...?" tanya preman lainnya.
" Yakin lah. Ayo buruan, jangan sampe dia kabur lagi...," ajak salah satu preman.
Kemudian ketiganya berjalan cepat menuju lantai atas. Karena tergesa-gesa, salah seorang preman tak sengaja menginjak ujung selimut Nada yang menjuntai di lantai hingga nyaris terlepas. Dengan sigap Ranvier menahan selimut itu sedangkan sang perawat nampak menatap marah kearah para preman itu.
" Hati-hati dong Pak. Kalo luka bakarnya kena udara kan bisa infeksi. Emangnya situ mau tanggung jawab...?! " hardik sang perawat.
" Maaf Sus, ga sengaja. Saya lagi buru-buru..., " sahut sang preman tak enak hati.
" Buru-buru mau kemana sih emangnya. Jalanan luas gini masih bisa nabrak juga...," kata sang perawat kesal.
" Mau ke ruang rawat inap kelas satu Sus...," sahut sang preman.
" Makanya nanya, sok tau banget sih. Ruang rawat inap kelas satu tuh lewat tangga sebelah sana bukan yang ini...," kata sang perawat sambil berlalu.
" Oh gitu. Ok, makasih Sus. Sekali lagi maaf yaa...," kata sang preman sambil menepi.
" Hmmm...," sahut sang perawat sambil mendorong kursi roda lebih cepat.
Setelahnya preman itu memanggil kedua temannya dan mengajak mereka agar berbalik arah. Ranvier pun nampak tersenyum tipis mengetahui ketiga preman berhasil dikecoh oleh sang perawat.
Akhirnya Ranvier, Nada dan sang perawat tiba di parkiran Rumah Sakit. Di sana sudah ada Totok yang menjemput.
" Selamat pagi Mas Ranvier...," sapa Totok.
" Pagi Pak Totok. Tolong bantu Saya masukin kursi roda itu, biar Saya yang gendong Nada ke dalam mobil...," pinta Ranvier.
" Baik Mas...," sahut Totok sambil membukakan pintu mobil untuk Nada.
" Makasih ya Sus. Bonus buat Kamu Saya transfer ke rekening Kamu nanti...," kata Ranvier sambil tersenyum.
" Baik, makasih Pak...," sahut sang perawat dengan takzim.
Setelah memasukkan kursi roda ke dalam mobil, Ranvier pun meminta Totok melajukan mobil dengan cepat meninggalkan area Rumah Sakit.
__ADS_1
\=\=\=\=\=