
Di luar ruangan Erwin nampak bicara dengan Riska.
" Kenapa Kamu melanggar perintah Saya Riska...?" tanya Erwin mencoba sabar.
" Saya...," ucapan Riska pun terputus karena Erwin memotong cepat.
" Saya tau Kamu naksir sama Ranvier. Tapi Saya udah bilang kalo Ranvier ga mungkin membalas perasaan Kamu karena dia udah punya Nada. Mereka saling mencintai, masa Kamu ga ngerti juga sih...?!" tanya Erwin.
" Saya ga percaya Pak Ranvier mencintai Nada. Pasti ada sesuatu yang Riska lakukan sampe bikin Pak Ranvier mau sama dia...," sahut Riska lirih.
" Apa maksud Kamu...?" tanya Erwin tak mengerti.
" Pak Ranvier itu pintar, keren, kaya raya. Tapi Nada, dia dekil dan ga berkelas. Nada jelas ga selevel sama Pak Ranvier. Kalo ga karena pake pelet atau sejenisnya, mana mungkin Pak Ranvier mau dideketin Nada...," sahut Riska sambil berlalu.
Ucapan Riska membuat Erwin menggeleng tak percaya. Namun Erwin tak berniat menjelaskan siapa Nada sebenarnya karena ia ingin Riska mengetahuinya sendiri nanti.
\=\=\=\=\=
Siang itu Ranvier, Erwin dan Riska pergi untuk menghadiri pertemuan dengan salah satu klien perusahaan. Setelah perdebatan alot akhirnya Ranvier setuju mengajak Riska.
" Riska yang paham data klien Kita karena dia udah mempelajari semuanya Vier. Gue belum sempet baca karena masih sibuk bantuin ngurusin kakak ipar Gue yang dirawat di Rumah Sakit...," kata Erwin.
" Tapi Gue ga mau dia ikut Win. Masih ada waktu kok buat Lo pelajari sekali lagi, jadi biar Riska stay di kantor aja...," kata Ranvier.
" Ga bisa Vier. Kalo dikejar-kejar kaya gini, Gue justru ga inget apa-apa nanti...," sahut Erwin gusar.
" Ya udah gapapa. Gue udah inget kok, Kita jalan berdua aja Win...," kata Ranvier.
" Ga bisa Vier. Orang yang bakal Kita temuin adalah orang yang juga penting buat Lo. Gue khawatir Lo gugup dan malah bikin keputusan ngawur yang merugikan perusahaan nanti...," sahut Erwin.
" Gue ga bakal kaya gitu Win...!" kata Ranvier tak mau kalah.
" Iya iya Gue percaya. Tapi sekali ini aja, Lo nurut sama Gue ya Vier. Ajak Riska sekalian biar dia bantuin Lo nanti. Please...," pinta Erwin sungguh-sungguh.
" Ck, terserah lah. Pokoknya jangan sampe Riska mengacaukan semua nanti. Kalo itu terjadi, Lo berdua Gue pecat tanpa pesangon. Gue serius Win...!" kata Ranvier sambil memasang wajah galak.
" Ok. Tapi kalo ini berhasil, Gue minta bonus ya...," sahut Erwin cepat.
__ADS_1
Ranvier mendengus kesal tanpa mau menjawab permintaan Erwin. Sejujurnya Ranvier tak meragukan kemampuan Riska. Ia hanya tak nyaman berada dekat dengan sang sekretaris yang jelas memperlihatkan ketertarikannya itu.
Riska dan Totok turun lebih dulu saat mobil tiba di tempat tujuan. Ranvier membulatkan mata saat menyadari mereka ada di parkiran kafe XX. Ia menatap Erwin yang nampak tersenyum penuh makna.
" Apa-apaan nih Win. Kok meeting di sini...?!" tanya Ranvier gusar.
" Bukan Gue yang minta, tapi klien sendiri yang nentuin tempat Kita ketemuan Vier...," sahut Erwin.
" Tapi ini kan tempat Nada kerja. Gue khawatir dia ga nyaman ngeliat Kita di sini nanti...," kata Ranvier.
" Lo tenang aja. Kita kan pake private room. Nada ga bakal ngeh kalo Kita ada di sini. Lagian ini masih jam sebelas, dia pasti masih di kampus..., " sahut Erwin sambil membuka pintu mobil.
Ranvier kembali menghela nafas panjang. Entah mengapa meeting dengan klien kali ini sedikit berbeda dengan klien sebelumnya. Ada perasaan cemas yang membayangi Ranvier hingga membuatnya terlihat sedikit gugup. Berkali-kali Ranvier mengusap wajah sambil bersholawat, berharap agar semuanya berjalan lancar nanti.
" Silakan Pak...," kata Totok sambil membukakan pintu mobil.
Ranvier mengangguk lalu turun dari mobil. Dengan langkah mantap Ranvier pun memasuki kafe diikuti Erwin dan Riska di belakangnya. Ia sempat mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Nada, namun sayang gadis itu tak terlihat.
Rombongan Ranvier diarahkan masuk ke sebuah ruangan dimana klien mereka sedang duduk menunggu.
" Oh, selamat siang. Pak Ranvier ya...," kata Wijaya antusias sambil menjabat tangan Ranvier dengan hangat.
" Iya Pak...," sahut Ranvier cepat.
" Jadi ini toh yang disebut penerusnya Pak Randu. Wah, ga nyangka ternyata orangnya masih muda banget. Gagah plus ganteng juga...," kata Wijaya sambil tersenyum.
" Bapak terlalu berlebihan memuji, Saya jadi malu nih...," sahut Ranvier dengan wajah merona hingga membuat Wijaya tertawa.
Setelah memperkenalkan Erwin dan Riska, meeting pun dimulai. Dua jam kemudian Ranvier dan Wijaya pun sepakat untuk bekerja sama.
" Sekarang waktunya Kita makan siang. Sebentar ya Pak Ranvier...," kata Wijaya lalu mulai menghubungi pelayan kafe untuk mengantarkan pesanan khususnya tadi.
Ranvier pun mengangguk lalu melirik kearah Erwin dan Riska yang masih sibuk merapikan berkas meeting tadi.
Pintu ruangan diketuk dan Wijaya pun mempersilakan pelayan kafe untuk masuk. Saat pintu terbuka tampak Nada berdiri di ambang pintu sambil mendorong trolly yang berisi beberapa sajian makanan. Semua orang sontak menoleh kearahnya dengan ekspresi yang berbeda.
Jika Ranvier dan Erwin tersenyum hangat, Wijaya justru nampak terkejut hingga mematung di tempat. Wijaya tak menyangka akan bertemu dengan putri semata wayangnya itu. Namun yang mengejutkan adalah karena Nada bekerja di kafe sebagai pelayan lengkap dengan seragam kafe yang ia kenakan.
__ADS_1
Di tempat duduknya Riska nampak tersenyum sambil menatap Nada dengan tatapan meremehkan. Ia merasa ini lah waktunya menunjukkan posisi Nada di hadapan semua orang. Ia pun menegur Nada yang juga masih mematung di ambang pintu karena terkejut menyaksikan kekasih dan Ayahnya ada di dalam ruangan yang sama.
" Kenapa masih bengong aja sih Nada. Cepet sajikan semuanya di meja. Kamu tau kan ini waktunya makan siang...!" kata Riska ketus.
" Oh i... iya. Maaf...," sahut Nada gugup sambil berusaha mengendalikan perasaannya.
Dengan tangan gemetar Nada pun mulai menyajikan hidangan di atas meja. Melihat hal itu Ranvier pun berdiri. Ia mendekati Nada lalu menggamit tangannya dengan lembut. Kemudian Ranvier membawa Nada duduk di sampingnya. Hal itu jelas membuat Wijaya dan Riska terkejut, namun tidak dengan Erwin. Pria itu justru menggantikan tugas Nada dengan menyajikan semua hidangan di atas meja.
" Lepasin Aku...," kata Nada setengah berbisik sambil berusaha menepis tangan Ranvier.
" Ga akan, Kamu duduk di sini sama Aku...," sahut Ranvier tegas.
" Tapi Aku lagi kerja. Bisa-bisa Aku kena SP karena melalaikan pekerjaan dan membiarkan tamu yang menyajikan semuanya sendiri...," kata Nada gusar lalu berusaha bangkit.
Melihat kedekatan Nada dan Ranvier membuat Wijaya penasaran. Ia menatap Nada dan Ranvier dengan lekat seolah tak ingin melewatkan semuanya. Riska yang mengira ini adalah peluang untuknya pun langsung bertindak cepat.
" Dasar cewek genit, bangun Lo !. Ga usah nyari kesempatan di sini...!" hardik Riska sambil menarik tangan Nada dengan kasar.
Tindakan Riska membuat semua orang terkejut. Nada yang hampir berhasil bangkit pun akhirnya justru terhempas ke lantai dengan keras.
" Sayang...!" panggil Ranvier dan Wijaya bersamaan lalu menghambur kearah Nada.
Tindakan Ranvier dan Wijaya membuat Riska terkejut sekaligus panik.
" Apa yang Lo lakuin Riska...?!" tanya Erwin lantang sambil menatap Riska marah.
" Sa... Saya cuma...," ucapan Riska terpotong saat Wijaya memeluk Nada sambil memanggilnya 'nak'.
" Nada Sayang, kenapa Kamu bisa kerja kaya gini sih Nak. Ayah ga nyangka hanya karena ingin menjauh dari Ayah, Kamu rela kerja jadi pelayan kafe. Ayah harus bilang apa sama Mama Kamu kalo dia ngeliat Kamu kaya gini Nak...," kata Wijaya sambil memeluk Nada erat.
" Aku ga maksud gitu Ayah. Aku cuma mau nunjukin kalo Aku bisa mandiri dan membiayai hidupku sendiri tanpa uang Ayah...," sahut Nada sambil menangis di pelukan ayahnya.
" Maafin Ayah Nada. Ayah salah, Ayah menyesal. Tolong Maafin Ayah. Pulang lah Nak, sampe kapan Kamu menghukum Ayah seperti ini...," kata Wijaya sambil menciumi kepala Nada bertubi-tubi.
Perbincangan Wijaya dan Nada mau tak mau membuat Riska terkejut sekaligus malu bukan kepalang. Ia tak menyangka jika Nada yang berusaha ia jatuhkan adalah anak dari klien penting perusahaan yang ada di hadapannya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1