Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
89. Dimomong Kuntilanak


__ADS_3

Setelah puas menangis, ibu Akmal pun mengajak Ranvier masuk ke dalam rumah. Ia juga memanggil Erwin.


" Kalian pasti belum makan kan ?. Sekarang makan ya, jangan sungkan. Kalo perlu nambah sampe kenyang...," kata ibu Akmal sambil menyendokkan nasi beserta lauk pauknya ke piring Ranvier dan Erwin.


" Siap Ma...," sahut Ranvier dan Erwin bersamaan.


Keduanya nampak antusias menyantap makanan yang disajikan ibu Akmal. Sedangkan Akmal nampak bersandar di dinding sambil menggelengkan kepala melihat bagaimana sikap sang ibu pada dua sahabatnya itu.


" Aku ga disuruh makan juga Ma...?" tanya Akmal.


" Kamu kan bisa ambil sendiri Mal. Ini kan rumahmu juga...," sahut ibu Akmal cepat.


" Tapi Aku juga pengen dilayani kaya mereka Ma...," kata Akmal.


" Udah deh ga usah manja !. Makan tinggal makan aja kok repot...," sahut ibu Akmal ketus hingga membuat Ranvier dan Erwin tertawa.


" Yang anak Mama tuh Aku atau mereka sih Ma. Kenapa Aku jadi merasa dianak tirikan sama Mama...!" protes Akmal.


" Berisik !. Ayo duduk sini, Mama suapin sekalian kalo perlu...," kata ibu Akmal sambil mendudukkan Akmal di kursi.


Akmal tersenyum saat sang ibu mengambilkan nasi dan lauk pauk untuknya. Setelahnya Akmal mulai menyantap makanan yang disajikan sang ibu dengan lahap.


Amelia yang keluar dari kamar karena kegaduhan di ruang makan pun nampak terkejut melihat kehadiran Ranvier.


" Lho Ranvier, kirain siapa. Pantesan rame banget...," kata Amelia sambil menghampiri Ranvier lalu saling berjabat tangan.


" Iya ini Gue. Apa kabar Mel...?" sapa Ranvier dengan mulut penuh.


" Alhamdulillah baik Vier. Makasih ya udah nyempetin datang ke aqiqahnya Andira...," kata Amelia sambil tertawa melihat Ranvier kesulitan bicara dengan mulut penuh.


" Sama-sama...," sahut Ranvier cepat hingga membuat Amelia kembali tertawa.


" Jangan diajak ngomong dulu Nak, kasian tuh Ranvier sampe susah ngomongnya...," sela ibu Akmal.


" Iya Ma, sengaja...," gurau Amelia.


" Iseng banget sih anak ini...," kata ibu Akmal sambil menggelengkan kepala hingga membuat semua tertawa.


" Terus mana debt colector yang tadi dibilang Soni Sayang...?" tanya Amelia sambil melirik suaminya.


" Itu bukan debt colector Sayang, tapi Ranvier yang lagi nyamar jadi debt colector. Dia sengaja mau ngasih kejutan buat Kita..., " sahut Akmal.


" Iya Mel. Mama aja sampe kaget tadi...," sela ibu Akmal.


Amelia pun tertawa saat sang mertua menceritakan bagaimana ulah Ranvier yang menyamar jadi debt colector telah berhasil membuatnya kesal.

__ADS_1


" Mama hampir jantungan gara-gara mereka bertiga Mel. Heran deh, udah pada tua tapi kelakuan masih aja kaya balita...," kata ibu Akmal di akhir ceritanya.


" Yang udah tua cuma anak Mama aja. Aku sama Erwin mah emang masih muda...," sahut Ranvier sambil adu toast dengan Erwin.


" Kok bisa cuma Gue doang. Kan Kita seumuran...?" tanya Akmal tak terima.


" Tapi kan cuma Lo yang udah married dan jadi Bapak-bapak..., " sahut Erwin cepat hingga membuat semua orang tertawa.


" Tapi sekarang Mama gapapa kan...?" tanya Amelia kemudian sambil mengamati ibu mertuanya itu.


" Alhamdulillah gapapa Mel. Mama puas karena udah jewer kupingnya Ranvier tadi...," sahut sang mertua sambil tersenyum.


Tak lama kemudian tiga sahabat itu pun selesai dengan makan sore mereka.


" Dimana Andira, kok Gue belum ngeliat dia daritadi...?" tanya Ranvier.


" Lagi tidur Vier. Kalo mau ketemu tunggu sebentar lagi ya...," sahut Akmal.


" Kenapa ga dibangunin aja sih Mal...," kata Erwin tak sabar.


" Ga bisa dong Win. Anak bayi kan punya waktu tidur yang dominan dibanding saat dia terjaga. Itu penting untuk perkembangan otak dan fisiknya. Kalo diganggu kasian karena bisa berpengaruh sama perkembangan dia nanti. Jadi sabar sebentar ya, ntar kalo udah bangun pasti dibawa ke sini sama Amel...," sahut Akmal.


" Ok deh...," kata Erwin pasrah.


Sambil menunggu Andira bangun, Akmal dan kedua sahabatnya itu pun melanjutkan perbincangan santai mereka di teras samping. Ketiganya tampak benar-benar memanfaatkan pertemuan mereka untuk melepas rindu.


Saat pertama kali melihat Andira, Ranvier nampak tertegun hingga membuat Akmal dan Erwin saling menatap bingung.


" Lo kenapa Vier...? " tanya Akmal sambil menggendong bayinya.


" Gapapa. Anak Lo ini cantik banget Mal. Lucu juga...," sahut Ranvier dengan tatapan tak berkedip.


" Lebay banget sih Vier. Semua bayi kan emang kaya gitu...," kata Erwin sambil mencibir.


" Gue serius Win. Ga semua bayi itu luçu dan menggemaskan. Tapi Andira ini emang keliatan cantik dan lucu di waktu bersamaan. Pasti gedenya bakal jadi rebutan cowok-cowok di luar sana nanti...," sahut Ranvier dengan mimik serius.


" Mmm..., iya juga sih. Wah Lo punya tugas extra buat jagain Andira nanti Mal...," kata Erwin.


" Ya pasti Gue jagain lah Win. Andira kan anak Gue...!" sahut Akmal ketus hingga membuat Ranvier dan Erwin tertawa.


" Mau coba gendong ga Vier...?" tanya Erwin.


" Ga berani Gue. Ntar aja kalo udah gedean dikit...," sahut Ranvier cepat.


" Kalo gitu Gue aja Mal...," kata Erwin.

__ADS_1


Akmal pun meletakkan Andira di pangkuan Erwin dengan hati-hati. Tapi sesaat kemudian bayi cantik itu menangis hingga membuat Erwin kecewa. Ranvier dan Akmal pun tertawa melihatnya.


" Kenapa sih Dira, ga suka ya sama Om...?" tanya Erwin.


" Bukan ga suka Om, tapi Dira lagi pup. Dira ganti daypers dulu sebentar ya Om...," kata Akmal mewakili bayinya.


Erwin hanya menghela nafas panjang saat Akmal menggendong Andira lalu membawanya ke kamar.


Tak lama kemudian adzan Maghrib pun berkumandang. Ranvier dan Erwin bersiap-siap ke musholla untuk menunaikan sholat Maghrib berjamaah.


Saat itu lah Ranvier melihat Akmal dan Amelia sedang berada di ruang makan, sedangkan Andira mereka tinggalkan di kamar bayi dengan pintu terbuka.


Ranvier membulatkan matanya saat melihat sesuatu di kamar Andira. Ia bergegas masuk ke kamar bayi diikuti Erwin.


" Gendong dia Win...," kata Ranvier.


" Kita kan mau sholat Vier...," sahut Erwin.


" Gendong bayi itu sekarang Win...!" ulang Ranvier dengan lantang hingga mengejutkan Erwin.


" Iya iya, ga usah ngegas kenapa sih...," sahut Erwin sambil bergegas meraih Andira lalu menggendongnya.


" Akmal Amelia...!" panggil Ranvier lantang hingga membuat semua orang terkejut.


Akmal dan Amelia yang sedang berdebat kecil di ruang makan pun terkejut lalu bergegas menghampiri Ranvier dan Erwin.


" Ada apaan Vier...?" tanya Akmal.


" Lo berdua kemana, ngapain nih orok ditinggalin sendirian...?!" tanya Ranvier galak.


" Oh itu, Gue sama Amel lagi ngobrol sebentar di luar. Emang ada apaan sih...?" tanya Akmal sambil melirik Andira yang tertidur nyaman di gendongan Erwin.


" Ngobrol atau ribut...?" sindir Ranvier.


" Iyaa..., lagi berdebat dikit...," sahut Akmal cepat.


Amelia nampak menundukkan wajahnya karena merasa malu dengan pengakuan suaminya. Sedangkan Akmal nampak salah tingkah. Kini keduanya saling beradu punggung seolah masih menyimpan kekesalan di hati masing-masing.


" Ck, Lo berdua tau ga...?" tanya Ranvier gusar.


" Tau apaan...?" tanya Akmal tak mengerti.


" Saat Lo berdua asyik ribut di luar sana, Andira justru lagi dimomong sama kuntilanak...!" kata Ranvier lantang hingga membuat semua terkejut.


" Apaaa...?!" tanya Akmal, Amelia dan Erwin bersamaan.

__ADS_1


Ranvier mendengus kesal lalu berjalan keluar kamar diikuti Erwin yang menggendong Andira.


\=\=\=\=\=


__ADS_2