
Mutia kembali menelan salivanya dengan sulit saat melihat Ranvier tersenyum kearah pramugari yang menawarkan segelas kopi. Jantung Mutia berdetak kian cepat dan itu membuat wajah dan tubuhnya berkeringat.
Amanda yang menyadari sikap sang manager yang berbeda dari biasanya itu pun menoleh. Ia mengamati Mutia dari atas kepala hingga ujung kaki lalu ikut menatap kearah yang ditatap Mutia. Setelah mengetahui apa yang sedang dilihat Mutia, Amanda pun menghela nafas panjang.
" Kirain Gue kenapa. Ga taunya Lo terpesona juga sama cowok itu Ti...," sindir Amanda.
" Siapa yang terpesona. Ga usah ngada-ngada deh Lo...," sahut Mutia cepat.
" Terus kalo ga ngada-ngada, ngapain mata Lo melotot gitu ngeliat dia...?" tanya Amanda sambil menunjuk kedua bola mata Mutia.
Sadar dirinya ketahuan sedang mengamati Ranvier juga, Mutia pun mengalihkan pandangannya kearah lain. Dan hal itu dilakukan dengan cepat dan dengan wajah yang merona bak kepiting rebus.
" Mutia... Mutia. Gue bukan baru sehari dua hari bareng sama Lo. Gue tau banget kalo ekspresi kaya gini artinya Lo lagi malu. Sekarang yang jadi pertanyaan Gue, Lo malu karena apa ?. Jangan bilang gara-gara cowok itu...," kata Amanda sambil tersenyum penuh makna.
" Udah deh Man. Daripada Lo ngomong ga jelas, mendingan Lo pelajari isi perjanjian sama klien Kita biar Lo ga cengo pas di lapangan nanti...," sahut Mutia sambil meletakkan sebuah map di atas pangkuan Amanda.
" Jadi gantian nih ceritanya, sekarang Gue yang ngomong ga jelas bukan Lo. Kalo gini caranya Gue jadi tambah curiga sama Lo Ti...," kata Amanda.
" Maksud Lo apaan sih Man. Lo curiga kenapa...?" tanya Mutia gusar.
" Gara-gara cowok itu Lo salah tingkah dan jadi super galak sama Gue. Jangan-jangan Lo kenal ya sama cowok itu...?" tanya Amanda dengan tatapan menyelidik.
" Gue ga kenal sama dia. Suer...!" sahut Mutia lantang hingga membuat beberapa penumpang menoleh kearahnya termasuk Ranvier.
Saat sadar telah menjadi pusat perhatian, Mutia pun bergegas menutupi wajahnya dengan map yang tadi ia letakkan di atas pangkuan Amanda. Sedangkan Amanda tak bisa lagi menahan tawa melihat sikap panik Mutia.
Sementara itu Ranvier kembali menoleh kearah lain saat pramugari datang mendekat dan membawakan pesanannya tadi.
Selama perjalanan sesekali Mutia melihat kearah Ranvier. Dalam hati ia bahagia karena akhirnya bisa kembali bertemu Ranvier setelah beberapa tahun tak bertemu.
" Ga nyangka masih bisa ketemu Lo lagi Vier. Masih tetap sama, bahkan lebih keren sekarang. Semoga aja ini jadi awal yang baik buat Kita ke depannya...," batin Mutia penuh harap.
Setengah jam kemudian pesawat mendarat dengan mulus di bandara Soekarno Hatta. Semua penumpang turun dengan tertib. Amanda yang memang mengincar Ranvier sejak tadi, berusaha mendekat dan berjalan persis di belakangnya.
Mutia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Amanda. Selama ini Amanda kerap berhasil memikat para pria dengan kecantikan ragawinya. Dan kali ini pun Amanda akan menggunakan trik yang sama.
Di depan sana Ranvier nampak melangkah dengan cepat. Nampaknya ia sedang tergesa-gesa. Amanda pun mengejarnya. Karena terlalu cepat melangkah, Amanda tersandung hingga refleks berpegangan pada lengan Ranvier. Tindakan Amanda menyebabkan berkas yang dibawa Ranvier terjatuh dan membuat Ranvier menoleh ke samping.
__ADS_1
" Maaf Mas. Saya kesandung...," kata Amanda pura-pura panik.
" Gapapa. Apa Mbak baik-baik aja...?" tanya Ranvier sambil membungkuk untuk meraih berkas yang terjatuh.
" Saya baik-baik aja Mas. Sekali lagi maaf ya...," kata Amanda sambil berusaha ikut membantu meraih kertas yang berserakan di lantai.
" Iya gapapa Mbak. Makasih udah dibantuin...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
Amanda ikut tersenyum. Ia terdiam sejenak saat melihat logo perusahaan di atas kertas. Amanda merasa pernah melihat logo perusahaan berbentuk Rajawali berwarna ungu itu, entah kapan dan dimana.
" Ini kertasnya Mas. Oh iya, kenalin Saya Amanda...," kata Amanda kemudian sambil menyerahkan beberapa lembar kertas yang berhasil diraihnya.
Ranvier mengerutkan keningnya sejenak lalu tersenyum. Sejak awal dia tahu kalo wanita cantik di hadapannya itu memang sengaja melakukan tindakan bod*h tadi hanya karena ingin berkenalan dengannya.
" Saya Ranvier...," sahut Ranvier sambil mengulurkan tangannya.
Amanda nampak tersenyum saat mendapat respon yang baik dari Ranvier. Dengan antusias dia pun menyambut uluran tangan Ranvier.
" Senang bertemu dengan Mbak Amanda. Tapi maaf, Saya masih ada urusan jadi harus cepat pergi. Permisi...," kata Ranvier dengan santun.
" Maaf...?" tanya Ranvier karena khawatir salah dengar.
" Mmm..., mungkin Kita bisa ngopi bareng di suatu tempat. Nah ini kartu nama Saya...," kata Amanda sambil menyodorkan kartu namanya.
" Ok. Insya Allah Saya hubungi nanti. Tapi Saya harus pergi sekarang. Permisi...," sahut Ranvier cepat setelah meraih kartu nama Amanda.
" Saya tunggu ya...!" kata Amanda lantang sambil melambaikan tangannya.
Ranvier pun balas melambaikan tangan sambil terus melangkah. Mutia yang tiba di samping Amanda pun nampak mendelik kesal.
" Udahan tebar pesonanya...?" tanya Mutia sambil mendengus kesal.
" Kenapa sih Ti, marah-marah terus daritadi. Cepet tua Lo nanti, emangnya mau...?" tanya Amanda dengan tampang tak berdosanya.
" Kebiasaan !. Sibuk ngejar cowok sampe barang bawaan sendiri lupa. Nih, tas Lo...!" kata Mutia sambil melempar tas tangan milik Amanda.
" Ups, makasih Mutia Sayang...," sahut Amanda sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
Biasanya Mutia akan luluh, tapi entah mengapa kali ini Mutia mengabaikan sikap manja Amanda dan melangkah lebih dulu.
" Yaaahhh... ngambek...," gumam Amanda.
Sadar karena telah keterlaluan mengerjai sang manager, Amanda pun bergegas menyusul Mutia. Ia meraih lengan Mutia dan memeluknya dengan erat. Sikap Amanda itu justru membuat Mutia bertambah kesal.
" Kenapa sih Tia. Gue kan udah minta maaf tadi...," kata Amanda.
" Gue ga butuh permintaan maaf Lo. Gue cuma mau Lo pelajari isi kontrak, itu aja!. Gue heran, Lo punya waktu luang buat memikat cowok yang belum tentu bisa ngasih Lo uang, tapi untuk kerjaan Lo sendiri yang jelas menghasilkan uang Lo malah abai. Gimana Gue ga kesel...?!" kata Mutia.
" Iya iya, maaf ya. Gue udah baca sebagian tadi kok...," sahut Amanda cepat.
" Sebagian ?, yang mana dan kapan...?" tanya Mutia sambil menoleh kearah Amanda.
" Yang Lo kasih tanda stabillo warna oren itu kan ?. Gue udah baca itu tadi. Emang agak ga mudeng sih, tapi kan ntar bisa pelan-pelan Lo jelasin sama Gue Ti...," sahut Amanda.
" Itu artinya Lo belum baca karena cuma ngeliat sekilas doang Man...!" kata Mutia gemas.
" Udah Ti. Ada sebaris yang Gue inget, bunyinya tuh kalo ga salah jangan dengan sengaja menampilkan pose menantang atau vulgar. Jika dilanggar maka dikenakan denda lima persen. Gitu kan...?" tanya Amanda.
" Betul...," sahut Mutia sambil tersenyum.
" Ini aneh Ti. Selama jadi model baru kali ini Gue diminta bersikap kalem. Selama ini kan para klien justru menuntut Gue mengeluarkan segala kemampuan Gue supaya terlihat menarik di depan kamera, termasuk berpose sedikit menantang. Tapi yang ini beda banget...," kata Amanda.
" Makanya Gue suruh pelajari daritadi biar Lo ga melakukan kesalahan yang imbasnya juga bakal merugikan Gue...!" sahut Mutia.
" Gue kok malah jadi takut ya Ti...," kata Amanda.
" Ga usah takut. Justru Lo harus buktiin kalo Lo model yang profesional. Walau bukan model papan atas, tapi Lo bisa diandalkan. Kalo beruntung, Lo bakal dikontrak jadi brand ambassador selama lima tahun ke depan lho Man...," kata Mutia.
" Oh ya ?. Wah kalo gitu Gue siap berjuang Ti...!" sahut Amanda antusias.
" Bagus !. Ayo Kita berjuang bersama...!" kata Mutia lantang disambut tawa Amanda.
Kemudian keduanya melangkah bersama sambil menyusun rencana menghadapi klien aneh itu.
\=\=\=\=\=
__ADS_1